MARKET DATA

Dampak Perang ke Minyak Bakal Terasa di April, Ini Langkah Pemerintah

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
13 March 2026 10:35
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaeman melakukan kunjungan kerja ke Kilang Balongan di Indramayu, Jawa Barat, pada Kamis, 12 Maret 2026. Kunjungan ini dalam rangka memastikan ketahanan stok dan kelancaran distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) jelang hari Raya Idulfitri 2026. (CNBC Indonesia/Verda Nano Setiawan)
Foto: (CNBC Indonesia/Verda Nano Setiawan)

Indramayu, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasokan energi dalam negeri.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan saat ini pihaknya tidak hanya fokus pada kesiapan pasokan energi selama periode Ramadan dan Idulfitri (RAFI) 2026, namun juga mulai mempersiapkan kondisi setelah periode tersebut berakhir.

"Seperti saya sampaikan tadi, kita lebih menyiapkan afternya. Jadi after dari RAFI ini kita siapkan karena memang dampaknya itu akan nanti bisa kita rasakan pada mulai April," ujar Laode ditemui di Kawasan Kilang Balongan, dikutip Jumat (13/3/2026).

Ia menyampaikan pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga. Hal itu dilakukan dengan memperkuat ketersediaan stok energi di dalam negeri.

Menurutnya pemerintah telah menyiapkan stok Bahan Bakar Minyak (BBM), Liquefied Petroleum Gas (LPG), serta minyak mentah (crude oil) dalam jumlah yang memadai guna mengantisipasi kemungkinan gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik global.

"Jadi hal itu sudah kita lakukan dan Insya Allah nanti sampai dengan RAFI lalu April dan seterusnya kita jaga bisa stabil," katanya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membeberkan kondisi pasokan minyak Indonesia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Terutama menyusul ditutupnya Selat Hormuz akibat konflik Iran-Israel yang melibatkan Amerika Serikat.

Bahlil menjelaskan Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Pasalnya, setiap hari sekitar 21 juta barel minyak melintasi selat tersebut. Sebagian minyak mentah yang diimpor Indonesia dari kawasan Timur Tengah juga melalui jalur strategis tersebut.

"Terimbas hampir semua. Bayangkan sekarang, Selat Hormuz itu dilalui kurang lebih 21 juta barel per day. Berapa yang kena dari konsumsi dunia? Nah, itu kondisi sekarang," kata Bahlil dalam acara Podcast Bukan Abuleke, Rabu (11/3/2026).

Ia lantas membeberkan saat ini produksi minyak Indonesia berada di kisaran 605 ribu barel per hari, sementara kebutuhan konsumsi nasional mencapai 1,6 juta barel per hari. Artinya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Meski demikian, pihaknya terus melakukan berbagai langkah untuk mengurangi ketergantungan impor, terutama pada BBM jenis solar.

(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article RI Punya 4,4 Miliar Barel Cadangan Minyak, 2 Daerah Ini Paling Banyak


Most Popular
Features