Citra Satelit, Diam-Diam China Bantu Iran di Perang Lawan AS-Israel
Jakarta, CNBC Indonesia - Dua kapal kargo milik perusahaan pelayaran negara Iran dilaporkan telah bertolak dari sebuah pelabuhan penyimpanan bahan kimia di China menuju Teheran. Kapal itu dilaporkan membawa muatan yang diduga kuat sebagai komponen bahan bakar rudal, di tengah perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Timur Tengah.Â
Berdasarkan analisis data pelacakan kapal, citra satelit, dan catatan sanksi yang dilaporkan Washington Post, Senin, aktivitas ini menandai berlanjutnya pasokan material strategis di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah. Kapal-kapal tersebut, yang diidentifikasi sebagai Shabdis dan Barzin, baru-baru ini menyelesaikan proses pemuatan di Pelabuhan Gaolan, Zhuhai, di pesisir tenggara China.
Fasilitas ini dikenal sebagai pusat penanganan bahan kimia industri dalam volume besar, termasuk natrium perklorat, sebuah prekursor utama yang digunakan untuk memproduksi bahan bakar roket padat. Hingga kemarin, posisi kedua kapal tersebut terpantau berada di kawasan Laut China Selatan (LCS).
"Kapal Barzin dilaporkan tengah berlabuh di lepas pantai Malaysia dalam rutenya menuju Pelabuhan Bandar Abbas, sementara kapal Shabdis terus berlayar menuju Pelabuhan Chabahar dengan perkiraan waktu tiba pada 16 Maret mendatang. Kedua pelabuhan tujuan tersebut merupakan lokasi fasilitas angkatan laut utama Iran yang terletak di sepanjang Selat Hormuz," tulis laman AS tersebut, dikutip Selasa (10/3/2026).
Para pakar yang memantau pergerakan ini meyakini bahwa muatan yang dibawa adalah material sensitif yang diperlukan Iran untuk memperkuat persenjataannya. Isaac Kardon, seorang peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, memberikan pandangannya mengenai konsistensi pengiriman tersebut.
"Mengingat rekam jejak yang ada, penjelasan yang paling masuk akal adalah mereka memuat komoditas yang sama dengan yang telah mereka bolak-balikkan selama lebih dari setahun terakhir," kata Isaac Kardon kepada Iran International.
Kardon menilai bahwa China sebenarnya memiliki otoritas penuh untuk mencegah keberangkatan kapal-kapal tersebut melalui berbagai mekanisme birokrasi. Namun, ketiadaan tindakan dari pihak Beijing dianggap sebagai sebuah sinyal politik yang signifikan di tengah konfrontasi militer langsung antara Amerika Serikat dan Iran.
"China bisa saja menahan kapal-kapal ini di pelabuhan, memberlakukan penundaan administratif, menciptakan penahanan bea cukai-sejumlah alat birokrasi apa pun, tetapi tidak dilakukan," ujarnya.
Aktivitas pelayaran ini menjadi sorotan karena kedua kapal tersebut dioperasikan oleh Islamic Republic of Iran Shipping Lines (IRISL), entitas yang telah dijatuhi sanksi oleh AS, Inggris, dan Uni Eropa. Sejak awal tahun, setidaknya belasan kapal IRISL lainnya tercatat telah mengunjungi Pelabuhan Gaolan, dengan data sarat kapal menunjukkan sebagian besar berangkat dengan muatan penuh menuju terminal peti kemas utama Iran.
Langkah ini juga dipandang sebagai respon cepat Teheran setelah serangan udara AS dan Israel yang menyasar infrastruktur militer Iran baru-baru ini. Kerusakan pada fasilitas domestik tersebut diyakini telah memicu urgensi Iran untuk mengamankan pasokan luar negeri guna memulihkan kemampuan tempur mereka.
"Kebutuhan Teheran akan prekursor propelan baru saja berubah dari mendesak menjadi eksistensial," pungkas Kardon.
Sebagai informasi, Amerika sebelumnya telah memberlakukan sanksi yang menyasar transfer natrium perklorat dari China ke Iran senilai jutaan dolar, atau setara dengan US$ 10 juta (Rp 199,76 miliar). Washington menuduh material tersebut digunakan untuk memproduksi amonium perklorat, komponen inti dalam bahan bakar rudal balistik.
(tps/sef) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]