Perang AS-Israel Vs Iran Bikin Pusing, Ramai Warga Panic Buying BBM
Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi global mulai memicu aksi panic buying bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah negara.
Fenomena ini muncul setelah eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran, yang menimbulkan kekhawatiran penutupan panjang Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Sejumlah negara mulai melaporkan antrean panjang kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar, karena masyarakat khawatir harga BBM akan melonjak atau pasokan terganggu. Lalu di mana saja itu terjadi? Berikut rangkuman CNBC Indonesia, Minggu (8/3/2026).
Korea Selatan
Gejala panic buying terlihat jelas di Korea Selatan. Antrean kendaraan dilaporkan mengular di sejumlah SPBU di Seoul pada Rabu, seiring lonjakan harga minyak global dan gejolak pasar akibat konflik Timur Tengah.
Banyak pengendara memilih mengisi penuh tangki kendaraan karena khawatir harga BBM akan terus naik. Operator SPBU juga melaporkan antrean lebih panjang dari biasanya.
"Saya isi sekarang karena takut besok lebih mahal," ujar seorang pengemudi di Seoul kepada media lokal.
Laporan Yonhap menyebut kekhawatiran masyarakat juga dipicu tekanan berat yang menghantam ekonomi Korea Selatan.
Pada saat yang sama, harga bensin rata-rata di negara itu telah melampaui 1.800 won per liter atau sekitar Rp21.000. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran masyarakat terhadap lonjakan biaya hidup.
Korea Selatan sangat rentan terhadap gangguan pasokan energi karena bergantung pada impor untuk lebih dari 90% kebutuhan energinya. Sekitar 70,7% impor minyak mentah dan 20,4% impor gas alam cair negara itu melewati Selat Hormuz.
Situasi semakin memanas setelah ada laporan, serangan Iran membakar 10 kapal tanker minyak di kawasan tersebut. Saat ini, sekitar 26 kapal tanker milik Korea Selatan dilaporkan tertahan di sekitar selat itu.
Meski pemerintah memiliki cadangan minyak sekitar enam bulan, analis memperingatkan gangguan berkepanjangan di jalur pelayaran tersebut dapat memicu kondisi darurat ekonomi.
Australia
Situasi serupa juga terjadi di Australia. Di Perth, negara bagian Australia Barat, ribuan pengendara terlihat mengantre panjang di SPBU pada Selasa malam untuk mengisi bahan bakar.
Perdana Menteri Australia Barat, Roger Cook berupaya menenangkan masyarakat dan meminta warga tidak melakukan panic buying.
"Jangan menaikkan harga hanya karena orang khawatir tentang masa depan mereka," katanya.
"Saat ini Anda memiliki pasokan bahan bakar yang berkelanjutan," tambahnya.
Di negara bagian Queensland, badan otomotif setempat bahkan berencana melaporkan sejumlah pengecer bahan bakar besar ke Komisi Persaingan dan Konsumen Australia (ACCC) karena diduga menaikkan harga secara tidak adil setelah konflik di Timur Tengah.
Dalam 24 jam terakhir, lebih dari 210 SPBU di Queensland Tenggara menaikkan harga menjadi 219,9 sen per liter, tertinggi dalam beberapa minggu terakhir, termasuk di Brisbane.
Di Sydney dan Melbourne, perusahaan minyak juga dituding memanfaatkan situasi konflik untuk menaikkan harga secara berlebihan.
Namun Asosiasi Pemasar Minyak dan Gas Rumah Tangga Australasia menegaskan bahwa pasokan sebenarnya masih aman.
"Mayoritas minyak Australia berasal dari Singapura, bukan Timur Tengah, jadi meskipun harga di pasar mungkin naik, tidak akan ada masalah pasokan," ujar perwakilan Asosiasi Pemasar Minyak dan Gas Rumah Tangga Australia, Rowan Lee.
Ia menambahkan, dampak gangguan pasokan baru bisa terlihat setelah beberapa minggu.
"(Juga) waktu tunda Anda hingga dua minggu... masih terlalu dini untuk melihat bagaimana ini akan terjadi."
Menteri Energi Chris Bowen mengatakan Australia siap menghadapi ketidakstabilan pasokan bensin yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah. Bowen mengatakan ia telah berbicara dengan para kepala eksekutif perusahaan kilang minyak Australia dan bahwa Australia saat ini memiliki stok bahan bakar yang melebihi kewajiban minimum.
"Perusahaan-perusahaan telah memberitahu bahwa mereka yakin akan pasokan minyak hingga bulan Mei," ujarnya.
Inggris
Di Inggris, kekhawatiran terhadap potensi kelangkaan BBM juga memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.
Laporan NDTV menyebut, pengendara di London, Manchester, dan Liverpool harus menunggu lebih dari satu jam untuk mengisi bahan bakar.
Pemerintah dan otoritas energi setempat kemudian mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying meskipun harga BBM berpotensi naik.
"Harga di pompa bensin sedang naik, biaya grosir telah meningkat bahkan sebelum serangan akhir pekan lalu di Iran," kata otoritas.
"Namun, harga rata-rata di pompa bensin hari ini masih di bawah harga awal tahun lalu," tambahnya.
"Perdagangan bahan bakar telah melaporkan peningkatan permintaan, yang memang sudah diperkirakan, tetapi pengemudi pada umumnya mengikuti saran untuk tetap mengikuti rutinitas pengisian bahan bakar mereka seperti biasa," jelasnya.
"Tidak ada gunanya membuang waktu, bahan bakar, dan uang untuk mengantre ketika pengemudi tidak perlu melakukannya."
Bangladesh
Dampak konflik Timur Tengah juga mulai terasa di Bangladesh. Di kota-kota besar seperti Dhaka dan Chattogram, antrean kendaraan terlihat memadati SPBU setelah pengendara bergegas membeli bahan bakar karena khawatir terjadi gangguan pasokan.
Melansir The Daily Star, Bangladesh sangat bergantung pada impor energi, terutama bahan bakar minyak dan gas alam cair dari Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran karena sekitar seperlima impor minyak mentah negara tersebut melewati jalur tersebut.
Menurut Bangladesh Petroleum Corporation (BPC), saat ini negara itu memiliki cadangan bensin dan solar sekitar dua minggu, serta pasokan oktan hampir empat minggu.
Meski pasokan masih tersedia, lonjakan permintaan akibat penimbunan mulai terlihat. Penjualan solar yang biasanya berkisar 12.000-13.000 ton per hari dilaporkan melonjak hingga lebih dari 20.000 ton.
Untuk meredam situasi, pemerintah melalui BPC memberlakukan pembatasan penjualan bahan bakar harian.
Selain ancaman terhadap pasokan energi, para ahli juga memperingatkan dampak lanjutan terhadap sektor pertanian. Kenaikan harga gas global berpotensi meningkatkan biaya produksi pupuk, sementara beberapa pabrik pupuk domestik dilaporkan sudah berhenti beroperasi karena kekurangan gas.
Myanmar
Di Myanmar, kondisi pasokan energi yang sudah rapuh semakin tertekan oleh ketidakpastian global. Negara tersebut mengimpor sekitar 90% kebutuhan bahan bakarnya.
Pemerintah militer setempat bahkan memutuskan membatasi penggunaan kendaraan pribadi mulai akhir pekan ini. Separuh kendaraan akan dilarang beroperasi setiap hari berdasarkan nomor pelat untuk menghemat bahan bakar.
Juru bicara junta militer Zaw Min Tun mengatakan, Myanmar saat ini memiliki cadangan bahan bakar sekitar 40 hari.
Pembatasan lalu lintas diberlakukan agar negara itu mampu mengatasi kesulitan minyak yang dihadapi dunia dengan menggunakannya secara sistematis.
Meski demikian, antrean kendaraan tetap terlihat di sejumlah SPBU di kota terbesar Yangon. Seorang jurnalis AFP melaporkan sekitar 50 kendaraan mengantre di beberapa SPBU pada Rabu.
Beberapa SPBU bahkan terpaksa menutup layanan sementara karena pasokan belum tiba di pelabuhan.
Di kota perbatasan Tachileik, lonjakan harga bahan bakar juga sempat mencapai tiga kali lipat sebelum sejumlah SPBU akhirnya ditutup akibat lonjakan permintaan.
Â
(luc/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]