MARKET DATA
Internasional

Perang AS-Israel Vs Iran Bawa Petaka, Siap-Siap Eropa Menderita

luc,  CNBC Indonesia
06 March 2026 03:00
View towards Nord Stream 1 Baltic Sea pipeline and the transfer station of the Baltic Sea Pipeline Link in the industrial area of Lubmin, Germany, August 30, 2022. REUTERS/Lisi Niesner
Foto: REUTERS/LISI NIESNER

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini mulai memicu efek domino terhadap pasar energi global. Bagi Eropa, situasi ini menjadi ancaman serius karena upaya mengisi kembali cadangan gas menjelang musim dingin berikutnya kini berubah menjadi jauh lebih berisiko sekaligus lebih mahal, seiring gangguan terhadap produksi dan pengiriman gas alam cair (LNG).

Dampak perang terhadap Iran telah mengguncang rantai pasokan LNG dunia, memperketat ketersediaan gas serta mendorong lonjakan harga yang tajam. Situasi ini datang pada saat yang sangat krusial bagi Eropa yang sedang bersiap mengisi kembali fasilitas penyimpanan gasnya setelah musim dingin.

Cadangan gas memainkan peran vital bagi keamanan energi Eropa. Stok yang tersimpan di berbagai gua bawah tanah dan tangki penyimpanan di seluruh benua digunakan untuk memenuhi kebutuhan pemanas dan listrik selama musim dingin.

Namun tahun ini, persediaan gas diperkirakan akan berakhir jauh di bawah level normal ketika musim pemanasan berakhir. Kondisi tersebut memaksa negara-negara Eropa untuk membeli gas dalam jumlah jauh lebih besar selama musim panas ketika mereka biasanya mengisi kembali fasilitas penyimpanan.

Ketergantungan Eropa terhadap LNG juga meningkat tajam sejak blok tersebut menghentikan sebagian besar impor gas pipa dari Rusia setelah invasi Moskow ke Ukraina pada 2022.

Dilansir Reuters, Kamis (5/3/2026), sebelum perang Ukraina, LNG hanya menyumbang sekitar 19% dari pasokan gas Eropa. Namun menurut S&P Global Energy, porsi tersebut diperkirakan melonjak menjadi 45% tahun ini, atau sekitar 174 miliar meter kubik gas, setara dengan sekitar 1.800 kapal tanker LNG.

Para analis dari Kpler memperkirakan pembeli di Eropa harus mencari sekitar 700 kargo LNG, atau sekitar 67 miliar meter kubik gas, hanya untuk mengisi penyimpanan musim panas ini. Jumlah tersebut sekitar 180 kargo, atau 17 miliar meter kubik, lebih banyak dibandingkan tahun lalu.

Sebagian kecil pasokan memang akan datang melalui pipa dari Norwegia dan Aljazair, serta dalam jumlah jauh lebih kecil dari Rusia. Namun sebagian besar kebutuhan tersebut tetap harus dipenuhi melalui kargo LNG yang dikirim lewat kapal tanker.

Sejak konflik dengan Iran memanas, harga gas pipa maupun LNG langsung melonjak. Harga gas acuan Eropa bahkan sempat mencapai level tertinggi sejak awal 2023 dan naik hampir 50% dalam sepekan terakhir setelah Qatar menutup ladang gasnya yang menyumbang sekitar seperlima pasokan LNG global.

Lonjakan juga terjadi pada kontrak LNG global acuan Asia, Japan-Korea Marker, yang melonjak hingga 68% ketika para pembeli berupaya menggantikan volume LNG Qatar yang hilang dari pasar.

Akibatnya, biaya yang harus dikeluarkan Eropa untuk tambahan 180 kargo LNG meningkat drastis. Perhitungan Reuters menunjukkan nilainya melonjak menjadi sekitar US$10,1 miliar pada Rabu, naik dari sekitar US$6,7 miliar pada Jumat pekan lalu.

Jika dihitung untuk seluruh kebutuhan pengisian musim panas sebesar 67 miliar meter kubik, total biayanya kini diperkirakan naik sekitar US$13,6 miliar menjadi sekitar US$40 miliar.

Para analis memperkirakan fasilitas penyimpanan gas di Eropa hanya akan terisi sekitar 22% hingga 27% pada akhir Maret. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir yang sekitar 41%.

Jika dalam empat minggu ke depan pasokan LNG semakin berkurang akibat gangguan dari Timur Tengah, maka tingkat penyimpanan tersebut berpotensi turun lebih dalam lagi.

Analis Energy Aspects, Erisa Pasko, mengatakan bahwa jika gangguan pelayaran di Selat Hormuz berlangsung selama satu bulan, cadangan gas Eropa bisa jatuh ke titik terendah dalam sejarah pada akhir musim dingin dan berdampak pada tingkat pengisian yang lebih rendah pada akhir Oktober.

Selat Hormuz merupakan jalur energi yang sangat vital. Sekitar 120 miliar meter kubik LNG per tahun, atau sekitar 20% dari pasokan LNG global, melewati perairan tersebut. Sekitar empat perlima pengiriman itu menuju pasar Asia.

Sementara itu, analis komoditas SEB Research, Ole Hvalbye, memperkirakan bahwa jika gangguan berlangsung selama satu bulan, sekitar 7 juta ton LNG atau sekitar 9,7 miliar meter kubik gas akan hilang dari pasar global.

Dalam situasi tersebut, Eropa diperkirakan dapat kehilangan sekitar 5,5 juta ton LNG atau sekitar 7,6 miliar meter kubik karena harus bersaing dengan pembeli di Asia untuk mendapatkan kargo yang tersedia.

Menurut Hvalbye, kondisi ini akan mendorong harga gas di Eropa menembus di atas 60 euro per megawatt jam, dibandingkan sekitar 50 euro saat ini dan sekitar 32 euro pada akhir pekan lalu.

Ia juga memperingatkan bahwa jika kompleks LNG Ras Laffan milik Qatar mengalami penutupan berkepanjangan, pasar energi bisa menghadapi tekanan serupa krisis energi 2022.

Dalam skenario tersebut, Hvalbye mengatakan harga gas bahkan bisa melonjak hingga 100 euro per megawatt jam atau lebih. Ia menambahkan bahwa dalam kondisi seperti itu, pengurangan konsumsi energi kemungkinan akan menjadi mekanisme utama yang menyeimbangkan pasar.

Di sisi lain, Norwegia, pemasok gas terbesar Eropa saat ini, sudah memproduksi gas pada kapasitas maksimum. Walaupun gas yang akan disuntikkan ke fasilitas penyimpanan musim panas ini berasal dari campuran gas pipa dan LNG, kebutuhan tambahan hampir pasti harus dipenuhi dari LNG.

Pasko menambahkan bahwa kenaikan harga gas justru dapat mengurangi insentif bagi perusahaan untuk menyimpan gas dalam jumlah besar, karena banyak pelaku pasar memperkirakan harga akan turun kembali ketika konflik mereda dan pasokan LNG baru mulai beroperasi.

Ketergantungan Eropa terhadap LNG

Saat ini, AS menjadi pemasok LNG terbesar bagi Eropa dan juga merupakan pemasok gas terbesar kedua bagi kawasan tersebut secara keseluruhan.

Washington telah mendorong Uni Eropa untuk membeli lebih banyak LNG dari Amerika Serikat seiring bertambahnya proyek LNG baru yang meningkatkan kapasitas pasokan.

Namun meski demikian, produksi LNG AS tidak dapat meningkat cukup cepat untuk sepenuhnya menggantikan volume LNG dari Qatar yang hilang akibat gangguan saat ini.

Data Komisi Eropa menunjukkan bahwa pada 2025, Qatar menyumbang sekitar 3,5% dari total pasokan gas Uni Eropa, sementara Amerika Serikat menyumbang sekitar 25,4%.

Badan Energi Internasional memperkirakan pasokan LNG global akan meningkat lebih dari 7% atau sekitar 42 miliar meter kubik pada 2026, dengan tambahan terbesar berasal dari Amerika Serikat.

 

(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Perang AS-Israel Vs Iran Meluas, Negara Teluk Terjebak di Persimpangan


Most Popular
Features