MARKET DATA

Dunia Genting! Mendag Mendadak Panggil Eksportir Sawit Besok, Ada Apa?

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
05 March 2026 17:35
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (2/3/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizki)
Foto: Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (2/3/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso akan memanggil para eksportir, terutama eksportir sawit, untuk membahas potensi dampak eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran terhadap ekspor sawit nasional.

Langkah ini dilakukan menyusul kekhawatiran pelaku usaha terkait konflik di Timur Tengah dapat mengganggu jalur transportasi laut, yang menjadi rute utama perdagangan global, termasuk ekspor CPO dari Indonesia.

"Besok ya, besok saya akan ketemu (eksportir), ya tapi kita juga belum bisa menghitung. Kemarin kita kaji dengan BK Perdag (Badan Kebijakan Perdagangan), tapi kami juga belum bisa memastikan sebelum kami memang dapat masukan juga dari para pelaku usaha ya, karena kan ini, ya mudah-mudahan harapan kita kan perang cepat selesai," kata Budi saat ditemui di kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (5/5/2026).

Menurutnya, pemerintah masih perlu mendengar langsung masukan dari pelaku usaha untuk mengetahui potensi dampak yang bisa terjadi, jika gangguan pada jalur perdagangan internasional benar-benar terjadi.

Budi juga menegaskan, jika ekspor CPO benar-benar terganggu akibat konflik tersebut, pemerintah akan mencari alternatif pasar ekspor baru untuk menjaga stabilitas perdagangan komoditas tersebut.

"Karena kalau itu (ekspor CPO) memang terganggu, berarti kita kan harus cari pasar lain. Itu yang besok juga akan saya bicarakan dengan para eksportir," ujarnya.

Adapun eksportir yang akan diajak berdiskusi merupakan pelaku usaha yang selama ini aktif berkomunikasi dengan Kementerian Perdagangan, termasuk perwakilan dari asosiasi eksportir.

"Ya nanti teman-teman (eksportir) saja yang biasa sering (komunikasi dengan Kemendag), misalnya dari GPEI (Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia)," ucap diai.

Sebelumnya, pelaku industri sawit mulai mengkhawatirkan dampak konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran terhadap kelancaran ekspor. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan, risiko terbesar yang perlu diwaspadai adalah gangguan pada transportasi laut.

Menurut Eddy, jika jalur pelayaran terganggu, maka aktivitas ekspor juga akan terdampak, terutama untuk pengiriman ke kawasan Eropa. Dalam kondisi tertentu, kapal kemungkinan harus mengambil rute yang lebih jauh untuk menghindari wilayah konflik.

10 Raksasa Sawit dengan Lahan Terluas di RI, Siapa Raja Sebenarnya?Foto: Infografis/10 Raksasa Sawit dengan Lahan Terluas di RI, Siapa Raja Sebenarnya?/Ilham Restu
10 Raksasa Sawit dengan Lahan Terluas di RI, Siapa Raja Sebenarnya?

"Pertama, yang menjadi masalah adalah transport terganggu, kalau transport terganggu ekspor akan terganggu, tetapi kita 1 sampai 2 minggu kedepan, atau kalau terpaksa harus memutar untuk ekspor ke Uni Eropa ini akan menyebabkan adanya penambahan biaya transport," ujar Eddy kepada CNBC Indonesia, Rabu (4/3/2026).

Ia menjelaskan, perubahan rute pengiriman memang masih memungkinkan dilakukan. Namun konsekuensinya adalah biaya logistik yang lebih tinggi sehingga dapat menekan efisiensi perdagangan.

Selain itu, gangguan ekspor dalam jangka waktu lama juga berpotensi memicu masalah pada rantai pasok di dalam negeri. Jika pengiriman tertahan, stok minyak sawit mentah di dalam negeri bisa menumpuk.

"Kalau gangguan ini terlalu lama dan ekspor terganggu bisa terjadi masalah di hulu, yaitu tanki bisa penuh," katanya.

Menurut Eddy, kondisi tangki penyimpanan yang penuh dapat memicu tekanan pada harga CPO di dalam negeri. Ketika stok melimpah akibat ekspor terhambat, harga berpotensi mengalami penurunan tajam.

Meski demikian, Eddy menyebut hingga saat ini kondisi pasokan CPO nasional masih relatif normal dan belum terjadi penumpukan stok yang signifikan.

"Belum (meluber), masih normal," kata Eddy.

Menurutnya, perkembangan situasi dalam satu hingga dua minggu ke depan akan menjadi penentu apakah gangguan transportasi benar-benar terjadi dan berdampak pada ekspor sawit Indonesia.

"Kita lihat 1-2 minggu ke depan apakah transportasi terganggu, sebenarnya ini tidak murni seperti tahun 2022 karena masih bisa memutar, hanya ada penambahan biaya transport," ujarnya.

(wur) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Solar Campur Biodiesel 50% Jalan 2026, Ekspor CPO Bisa Kena Gunting!


Most Popular
Features