MARKET DATA
Internasional

Mengapa China dan Rusia Belum Membantu Iran Melawan Israel-AS?

sef,  CNBC Indonesia
03 March 2026 14:09
Russian President Vladimir Putin and Chinese President Xi Jinping attend an official welcoming ceremony in Beijing, China May 16, 2024. Sputnik/Sergei Bobylev/Pool via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY.
Foto: via REUTERS/Sergei Bobylev

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, Sabtu, membuat China dan Rusia meradang. Kedua negara memberikan kecaman atas apa yang terjadi.

Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia, Menlu China Wang Yi mengutuk serangan tersebut. Sebelumnya, serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Wang Yi menyebut serangan AS-Israel tidak dapat diterima. "Apalagi secara terang-terangan membunuh seorang pemimpin negara berdaulat dan memicu perubahan rezim," ujarnya dikutip AFP.

Kementerian Luar Negeri Rusia, yang sedang menghadapi invasi ke Ukraina, juga mengeluarkan pernyataan sendiri. Moskow mengatakan bahwa "tindakan agresi" tersebut melanggar hukum internasional.

Bahkan langkah itu, tambah Rusia melanggar prinsip-prinsip dasar Piagam PBB. "Mengganggu stabilitas situasi di seluruh kawasan," tambahnya.

Sebenarnya, banyak pengamat menilai reaksi Rusia dan China merupakan kritikan yang lemah. Para pejabat dari Rusia dan China tidak sampai menjanjikan dukungan militer atau sipil kepada Teheran.

Kenapa?

China

Mengutip CNBC International, Selasa (3/3/2026), ini menunjukkan Iran tidak memiliki sekutu sejati. Kemitraan strategis mereka sangat terbatas.

"Saya tidak melihat pemerintah China mengambil tindakan konkret untuk mendukung Teheran," kata

Direktur Pelaksana Teneo, yang mengkhususkan diri soal China, Gabriel Wildau.

"Mempertahankan détente dengan AS tetap menjadi prioritas strategis bagi kepemimpinan China," kata Wildau.

Apalagi para pemimpinnya yakni Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akan bertemu. Keduanya akan bertemu akhir bulan ini, jika masih sesuai rencana.

Hal sama juga dikatakan pengamat lain. Beijing mungkin akan mencari konsesi pada isu-isu yang lebih langsung terkait dengan kepentingannya.

"Seperti Taiwan dan perdagangan, sebagai imbalan atas pesan-pesan yang jauh lebih lunak mengenai Iran," kata peneliti di Chatham House, sebuah lembaga think tank kebijakan yang berbasis di London, Ahmed Aboudouh.

Sementara itu, sebuah akun media sosial yang terkait dengan media pemerintah China yang secara luas dianggap sebagai corong Beijing, Niutanqin, menulis bahwa "Iran tidak memiliki sekutu sejati". Laman itu pun menambahkan bahwa bahkan negara-negara yang lebih dekat pun akan memprioritaskan kepentingan nasional mereka sendiri daripada mengangkat Teheran keluar dari krisis.

Sebenarnya, sikap China yang menahan diri dalam mendukung Iran secara militer bukanlah hal baru. Tahun lalu, masih merujuk Chatham House, Beijing mengkritik serangan AS dan Israel terhadap Iran tetapi tidak memberikan dukungan material kepada Teheran.

China juga mendukung sanksi ekonomi yang dipimpin PBB terhadap Teheran sebelum kesepakatan nuklir 2015. Sejak itu, negeri tersebut, bergerak lambat dalam menyalurkan investasi ke ekonomi Iran.

Setelah penangkapan presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh AS pada 3 Januari, China juga mengutuk "penggunaan kekuatan yang terang-terangan" dan mendesak Washington untuk "berhenti melanggar kedaulatan negara lain". Tetapi mereka hanya melakukan sedikit hal selain menyampaikan kata-kata kecaman ini.

"Reaksi China terhadap intervensi AS di Venezuela dan Iran menunjukkan bahwa kemitraan strategis dengan Beijing jauh dari aliansi militer atau bahkan jaminan dukungan militer dalam menghadapi ancaman eksistensial dari agresi AS," kata Wildau.

Rusia

Iran telah menjadi mitra strategis, militer, ekonomi, dan perdagangan utama bagi Moskow di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Iran telah menjadi pemasok penting drone dan rudal militer bagi Rusia sejak invasi skala penuhnya ke Ukraina dimulai pada tahun 2022.

Rusia akan khawatir kehilangan pijakan lain di Timur Tengah. Karena runtuhnya rezim Iran akan mengikuti hilangnya sekutu regional lainnya, Suriah, setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024.

Kemlu Rusia memang mengutuk serangan terhadap Iran. Tapi Kremlin maupun Presiden Vladimir Putin belum berbicara secara terbuka tentang situasi tersebut.

"Sebenarnya, perang yang berkepanjangan di Ukraina telah mengikis kemampuan Rusia untuk memproyeksikan kekuatan di luar perbatasannya, kata kepala ahli strategi geopolitik di BCA Research, Matt Gerken.

"Dengan militernya yang kewalahan dan ekonominya yang terus-menerus berada di bawah tekanan sanksi Barat, pengaruh Moskow di Timur Tengah akan semakin berkurang," tambahnya.

Lagi pula, Rusia harus memantau harga minyak mentahnya. Selama ini minyak ke China dan India membantu mendanai mesin perangnya.

Kemarin, harga minyak naik lebih dari 8% karena pelaku pasar khawatir konflik di Iran dapat menyebabkan gangguan pasokan global yang besar. Beberapa negara dalam kelompok OPEC+, termasuk Rusia, mengumumkan pada hari Minggu bahwa mereka akan meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April.

"Putin pasti senang, karena apa pun yang menaikkan harga minyak akan menguntungkannya," kata Presiden Transversal Consulting, Ellen Wald.

"Dia pasti bisa mengatakan: jika Anda tidak bisa mendapatkan minyak dari Teluk, hei, kami punya pasokan yang melimpah," tambahnya.

"Saya rasa dia [Putin] pasti senang dengan situasinya, meskipun setelah masalah ini terselesaikan, Trump pasti akan mengalihkan perhatiannya ke Putin selanjutnya."

Intinya, Rusia sering mengambil pendekatan "wait and see" terhadap urusan global yang tidak secara langsung berdampak pada kepentingannya. Ketika protes meletus di Iran pada akhir Desember, Rusia tidak memberikan bantuan.

Sekarang, Rusia mungkin akan mundur dan mengamati apakah rezim tersebut dapat menahan serangan militer dari AS dan Israel. Namun Profesor Stanford dan mantan duta besar AS untuk Rusia, Michael McFaul, mengatakan tidak ada jaminan bahwa serangan udara AS dan Israel saja akan cukup untuk menyebabkan perubahan rezim.

Iran Akan Jatuh?

McFaul mengatakan secara historis, serangan udara tidak mengarah pada penggulingan rezim. Jadi, menurutnya, ia tidak dapat memikirkan satu pun kasus keberhasilan, bahkan intervensi militer dengan pasukan darat.

"Saat ini kita membom target militer berupa sistem senjata yang ditujukan kepada kita dan mitra serta sekutu kita, kita tidak melenyapkan instrumen militer dan senjata yang digunakan untuk menindas rakyat Iran," katanya.

"Sejauh ini, masih sangat tidak jelas bagaimana kampanye militer saat ini akan mengarah pada perubahan rezim yang telah dijanjikan Presiden Trump kepada rakyat Iran," tambahnya.

(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tensi Panas, Militer Angkatan Laut Rusia, Iran & China Ngumpul di sini


Most Popular
Features