MARKET DATA

RI Mau Bangun Pembangkit Nuklir Mini dengan AS-Jepang, Ini Tujuannya

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
03 March 2026 14:40
RI Bersama AS dan Jepang sepakat untuk kembangkan Small Modular Reactor (SMR). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)
Foto: RI Bersama AS dan Jepang sepakat untuk kembangkan Small Modular Reactor (SMR). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Energi Nasional (DEN) memperkuat kerja sama dengan Amerika Serikat (AS) dan Jepang untuk mengembangkan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) skala kecil atau Small Modular Reactor (SMR). Tidak lain, hal itu untuk memperkokoh ketahanan dan keamanan energi nasional, sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.

Sekretaris Jenderal DEN Dadan Kusdiana menjelaskan bahwa pengembangan nuklir saat ini telah ditetapkan sebagai salah satu pilar strategis dalam peta jalan transisi energi Indonesia. Dalam kebijakan terbaru, energi nuklir tidak lagi diposisikan sebagai opsi terakhir, melainkan mandat untuk menyeimbangkan bauran energi primer negara.

"Pengembangan nuklir Indonesia selaras langsung dengan arah kebijakan Presiden Prabowo, yang dikenal sebagai Asta Cita, yang bertujuan memperkuat pertahanan dan keamanan nasional sekaligus mendorong swasembada pangan, energi, dan air," ujar Dadan dalam acara Pembukaan Workshop on Small Modular Reactor Deployment Considerations For Indonesia, di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Dadan memaparkan bahwa teknologi SMR dipilih karena menawarkan solusi transformatif yang sangat cocok untuk karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan. Berbeda dengan reaktor konvensional skala besar, SMR memiliki fleksibilitas untuk ditempatkan di daerah terpencil dan dapat diintegrasikan ke dalam jaringan listrik regional yang lebih kecil (grid), sehingga ideal untuk mendukung pusat-pusat industri dan ekonomi biru.

"Target RUPTL 2025-2034 adalah kapasitas awal sebesar 500 Mega Watt. Ini akan disebarkan secara strategis mulai tahun 2032, baik di sistem kelistrikan Sumatera maupun Kalimantan," jelasnya.

Kerja sama trilateral tersebut dinilai penting untuk memastikan kesiapan infrastruktur dan regulasi di Indonesia. Amerika Serikat berperan menyediakan desain SMR mutakhir beserta cetak biru regulasinya, sementara Jepang berkontribusi membagikan pengalaman dalam manufaktur canggih serta protokol keselamatan yang ketat.

"Sinergi trilateral ini memastikan bahwa Indonesia tidak hanya membangun tenaga nuklir, tetapi juga membangun tanggung jawab, mengikuti standar internasional tertinggi untuk keselamatan, keamanan, dan perlindungan," tandasnya.

(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article RI Jajaki Kerjasama Bangun Pembangkit Nuklir dengan Brasil


Most Popular
Features