MARKET DATA
Internasional

Jepang Sebut Tak Ragu Terima Pekerja Muslim dari RI, Ini Alasannya

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
04 March 2026 02:45
Well-wishers wave Japanese flags while waiting to see Japan's Emperor Naruhito making New Year's public appearance with his imperial families at Imperial Palace in Tokyo Thursday, Jan. 2, 2020. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Foto: Jepang (AP/Eugene Hoshiko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Jepang menegaskan kini semakin terbuka terhadap pekerja Muslim, khususnya dari Indonesia. Hal ini seiring meningkatnya jumlah tenaga kerja Indonesia di Jepang dalam beberapa tahun terakhir.

Chargés d'Affaires ad interim Jepang di Indonesia, Myochin Mitsuru mengatakan, jumlah pekerja Indonesia di Jepang kini telah mencapai sekitar 180.000 orang. Bahkan, menurutnya, laju peningkatan pekerja Indonesia menjadi yang tercepat dibanding negara lain di Jepang.

"Sekarang jumlah pekerja Indonesia sudah mencapai 180.000 orang di Jepang. Itu membuktikan bahwa masyarakat Jepang kini tidak memiliki keraguan untuk menerima pekerja Muslim, termasuk dari Indonesia," ujarnya kepada media di Jakarta, dikutip Rabu (4/3/2026).

Ia mengakui secara historis Jepang tidak memiliki pengetahuan yang besar mengenai komunitas Muslim. Namun kondisi tersebut berubah seiring meningkatnya interaksi dan kehadiran pekerja asing, termasuk dari Indonesia.

Menurut Myochin, masyarakat Jepang, bahkan di wilayah pedesaan yang cenderung konservatif, kini semakin menerima pekerja Indonesia karena dinilai bekerja dengan rajin, jujur, dan memiliki etos kerja yang baik.

"Orang-orang di daerah pedesaan Jepang akhirnya menyadari bahwa pekerja Indonesia itu rajin, jujur, dan baik. Itu sebabnya penerimaan terhadap mereka semakin besar," katanya.

Ia menilai peningkatan jumlah pekerja Indonesia tidak hanya berdampak pada sektor ketenagakerjaan, tetapi juga memperkuat hubungan antar masyarakat kedua negara.

"People-to-people contact sangat penting. Kita harus saling mengenal dan memahami latar belakang masing-masing, serta saling menghormati," ujarnya.

Myochin menambahkan, pengalaman pandemi COVID-19 menjadi pelajaran penting mengenai arti pertemuan langsung antar masyarakat. Selama periode tersebut, interaksi tatap muka sangat terbatas sehingga hubungan antarmasyarakat tidak berkembang optimal.

"Pertemuan langsung dan pertukaran secara personal itu sangat penting untuk saling memahami dengan lebih baik,""katanya.

Selain itu, ia juga mengungkapkan kekagumannya terhadap budaya Ramadan di Indonesia. Menurutnya, semangat menahan diri sepanjang hari hingga waktu berbuka menjadi pengalaman budaya yang mengesankan.

Ia bahkan mengutip peribahasa Jepang yang berbunyi, "Hunger is the best seasoning," yang berarti rasa lapar adalah bumbu terbaik bagi makanan. Menurutnya, pengalaman berbuka puasa menunjukkan kebahagiaan yang muncul setelah menahan diri sepanjang hari.

Meski belum sempat mencoba berpuasa karena jadwal pertemuan kerja yang padat, Myochin mengaku terbuka untuk suatu saat merasakan langsung pengalaman tersebut.

(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Diam-Diam Awak Kapal Perikanan RI Banyak Diincar Negara Lain


Most Popular
Features