Warga AS Mulai Suka Minyak Sawit RI, China-India Sudah Ketagihan
Jakarta, CNBC Indonesia - Minyak sawit Indonesia mulai mendapat perhatian lebih besar dari pasar global, termasuk dari konsumen di Amerika Serikat. Perubahan preferensi ini dinilai membuka peluang baru bagi produk minyak nabati asal Indonesia untuk memperluas pasar ekspor.
Direktur Perlindungan Perkebunan di Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Hendratmojo Bagus Hudoro mengatakan terdapat indikasi pergeseran konsumsi minyak nabati di AS yang mulai melirik kelapa sawit.
Menurutnya, tren ini menjadi peluang penting bagi Indonesia sebagai salah satu produsen sawit terbesar di dunia.
"Ada pergeseran konsumen di Amerika Serikat. Yang selama ini lebih banyak menggunakan minyak non-sawit, sekarang mulai beralih ke kelapa sawit," kata Bagus dalam diskusi Sawit Setara di Kementan, Senin (2/3/2026).
Perubahan preferensi tersebut tidak terlepas dari kebutuhan pasar global terhadap minyak nabati yang lebih efisien dan kompetitif.
"Kalau kita bandingkan dari sisi produktivitas dan efisiensi lahan, sawit memang memiliki keunggulan yang cukup besar dibandingkan minyak nabati lain," ujarnya.
Selain perubahan pola konsumsi, pemerintah juga melihat peluang dari kebijakan perdagangan yang dapat membuka akses pasar lebih luas ke AS.
"Sekarang ada peluang baru terkait jalur tarif bea masuk yang bisa mencapai 0%. Ini tentu menjadi kesempatan yang harus dimanfaatkan," kata Hendratmojo.
Momentum tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi produk sawit Indonesia untuk memperkuat posisi di pasar global. Pasar AS memiliki pengaruh besar terhadap arah konsumsi global karena banyak negara lain mengikuti tren yang berkembang di sana.
"Kalau Amerika sudah mulai menjadikan sawit sebagai salah satu pilihan utama, biasanya negara-negara lain yang menjadi mitra atau sekutunya juga akan mengikuti," ujarnya.
Selain AS, permintaan minyak sawit Indonesia juga masih kuat dari negara-negara besar seperti India dan China, yang selama ini menjadi pasar utama ekspor. Ketergantungan sejumlah negara terhadap pasokan sawit Indonesia masih cukup tinggi.
"India dan China sampai sekarang masih sangat bergantung pada pasokan sawit dari Indonesia," katanya.
Ia menilai kondisi geopolitik global dan perubahan dinamika perdagangan juga bisa membuka ruang baru bagi ekspansi ekspor sawit Indonesia.
"Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, peluang sekecil apa pun harus kita manfaatkan untuk memperkuat posisi komoditas kita," ujarnya.
Ia pun berharap peluang dari pasar AS dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku industri sawit nasional.
"Kalau peluang ini bisa kita tangkap dengan baik, tentu akan memberikan dampak positif bagi ekspor sawit Indonesia dan juga bagi kesejahteraan petani di dalam negeri," ujarnya.
Foto: Direktur Perlindungan Perkebunan di Direktorat Jenderal Kementerian Pertanian, Hendratmojo Bagus Hudoro (tengah) dalam diskusi mengenai Sinergi Media untuk Sawit Berkelanjutan di Kementan, Senin (2/3/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)Direktur Perlindungan Perkebunan di Direktorat Jenderal Kementerian Pertanian, Hendratmojo Bagus Hudoro (tengah) dalam diskusi mengenai Sinergi Media untuk Sawit Berkelanjutan di Kementan, Senin (2/3/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi) |
source on Google [Gambas:Video CNBC]
Foto: Direktur Perlindungan Perkebunan di Direktorat Jenderal Kementerian Pertanian, Hendratmojo Bagus Hudoro (tengah) dalam diskusi mengenai Sinergi Media untuk Sawit Berkelanjutan di Kementan, Senin (2/3/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)