Bukan AS, Negara Ini Mendadak Getok Tarif Impor 50% ke Tetangga
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Ekuador memutuskan untuk menaikkan tarif impor terhadap barang-barang asal Kolombia secara tajam, dari sebelumnya 30% menjadi 50%, mulai 1 Maret mendatang. Kebijakan ini menandai eskalasi signifikan dalam sengketa dagang dan keamanan yang kian intens antara kedua negara.
Dilansir Al Jazeera, Jumat (27/2/2026), langkah tersebut diambil di tengah hubungan yang memburuk antara Presiden sayap kanan Ekuador Daniel Noboa dan Presiden sayap kiri Kolombia Gustavo Petro. Noboa secara terbuka menekan Petro agar memperketat pengamanan perbatasan bersama, menyusul lonjakan kekerasan di Ekuador sejak pandemi Covid-19 melanda pada 2020.
Sejak saat itu, Ekuador mengalami peningkatan tajam kejahatan terorganisir yang dikaitkan dengan ekspansi jaringan narkotika. Noboa, dengan nada yang mengingatkan pada Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyalahkan Petro karena dinilai tidak cukup agresif dalam memberantas perdagangan narkoba.
Adapun Kolombia selama bertahun-tahun dikenal sebagai sumber kokain terbesar di dunia.
Seperti halnya Trump dalam kebijakan perdagangannya, Noboa kian mengandalkan instrumen tarif untuk menekan Kolombia agar sejalan dengan strategi keamanan nasional Ekuador. Pemerintahnya menuduh pemerintahan Petro gagal bekerja sama dalam langkah-langkah pengamanan perbatasan.
Kedua negara sama-sama berada di pesisir Pasifik dan berbagi perbatasan darat sepanjang sekitar 586 kilometer. Ketegangan terbaru ini muncul setelah Quito lebih dulu memberlakukan tarif 30% pada awal Februari.
Defisit Dagang dan Isu Listrik
Selain alasan keamanan, pejabat Ekuador juga membenarkan kebijakan proteksionis tersebut dengan mengacu pada defisit perdagangan yang terus melebar.
Data dari lembaga analisis Observatory of Economic Complexity menunjukkan hampir 4% ekspor Kolombia mengalir ke Ekuador, dengan nilai sekitar US$2,13 miliar. Ekuador banyak mengimpor obat-obatan dan pestisida dari Kolombia.
Sebaliknya, hanya sekitar 2,3% ekspor Ekuador yang masuk ke pasar Kolombia, dengan nilai sekitar 863 juta dolar AS. Berdasarkan data pemerintah Ekuador, tidak termasuk sektor minyak, defisit perdagangan negara itu terhadap Kolombia mencapai sekitar US$1,03 miliar hingga 2025.
Meski kenaikan tarif menjadi 50% telah diumumkan, belum jelas apakah kebijakan baru tersebut akan mencakup impor listrik dari Kolombia, yang merupakan sumber daya krusial bagi Ekuador.
Sebagai langkah balasan atas tarif awal 30%, Kolombia sebelumnya telah menangguhkan seluruh penjualan energi ke Ekuador. Penangguhan itu berpotensi memicu tekanan domestik terhadap pemerintahan Noboa.
Dalam beberapa tahun terakhir, kekeringan berkepanjangan mengganggu operasional bendungan hidroelektrik Ekuador yang menyuplai hampir 70% kebutuhan listrik nasional.
Gangguan tersebut menyebabkan pemadaman listrik meluas dan memicu gelombang protes anti-pemerintah. Dalam situasi serupa sebelumnya, Noboa memilih membeli listrik dari Kolombia untuk menutup kekurangan pasokan.
Sengketa Pipa Minyak
Selain tarif dan energi listrik, transportasi bahan bakar fosil turut menjadi titik panas baru dalam hubungan bilateral. Setelah kebijakan tarif Februari diberlakukan, pemerintah Noboa menaikkan biaya pengiriman minyak mentah Kolombia melalui jaringan pipa Trans-Ecuadorian System Oil Pipeline (SOTE) hingga 900%.
Kenaikan tersebut membuat biaya pengiriman melonjak menjadi sekitar US$30 per barel. Kolombia merespons dengan menghentikan seluruh pengiriman minyak melalui jalur pipa tersebut.
Upaya diplomatik tingkat tinggi belum membuahkan hasil. Pertemuan pejabat kebijakan luar negeri dan keamanan kedua negara yang digelar bulan ini di Ekuador berakhir tanpa terobosan.
Dalam pengumuman kenaikan tarif terbaru, Kementerian Produksi dan Perdagangan Luar Negeri Ekuador melontarkan kritik kepada Kolombia karena gagal menerapkan langkah-langkah "concrete and effective" untuk membendung perdagangan narkoba di wilayah perbatasan.
Situasi keamanan dalam negeri Ekuador sendiri tengah menjadi sorotan. Negara yang sebelumnya dikenal relatif stabil kini menghadapi lonjakan pembunuhan dan kejahatan kekerasan lainnya. Menurut Organized Crime Observatory yang berbasis di Jenewa, tingkat pembunuhan di negara Andes itu tahun lalu mencapai rata-rata satu kasus pembunuhan setiap jam.
Â
(luc/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]