Laporan LPEM: Arus Modal Keluar RI Tembus Rp 17,8 T Gara-Gara MSCI
Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mencatat, aliran modal asing yang keluar dari pasar saham Indonesia mencapai US$ 1,38 miliar selepas pengumuman oleh MSCI dan Moody's pada 27 Januari 2026.
Sebagaiaman diketahui, pada saat itu, MSCI mengumumkan hasil konsultasi terkait penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes. MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sementara itu, lembaga pemeringkat kredit Moody's menurunkan outlook rating Indonesia dari stable menjadi negatif selepas pengumuman MSCI muncul. Namun, untuk rating utang atau kredit Indonesia hasil analisis terbaru, mereka masih pertahankan di level Baa2.
"Sejak pengumuman MSCI, Indonesia mengalami arus modal keluar dari pasar saham yang mencapai US$ 1,01 miliar. Kemudian, Indonesia juga mengalami arus modal keluar dari pasar obligasi yang mencapai US$ 0,37 miliar sejak perubahan penilaian kondisi ekonomi oleh Moody's," dikutip dari Seri Analisis Makroekonomi LPEM FEB UI, Jumat (27/2/2026).
Selama periode itu, tim ekonom LPEM FEB UI menyebut secara kumulatif, Indonesia mencatatkan arus modal keluar sebesar US$ 1,06 miliar dalam 30 hari terakhir. Alhasil, imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10-tahun meningkat sebesar 6 poin persentase dari 6,31% di 19 Januari lalu ke 6,40% pada 13 Februari.
"Secara kumulatif, dalam 30 hari arus modal keluar tercatat sebesar US$ 1,06 miliar atau sekitar Rp17,8 triliun ($1 = Rp16.832). Selain itu, kabar penunjukan keponakan Presiden sebagai Deputi Gubernur BI yang baru, turut memperburuk tingkat kepercayaan investor. BI perlu semakin membuktikan independensinya," dikutip dari akun instagram @lpemfebui.
Selama periode itu, LPEM FEB UI juga mencatat imbal hasil surat utang pemerintah tenor 1 tahun juga melonjak sebesar 20 poin persentasi dari 4,67% menjadi 4,87%, mengindikasikan arus modal keluar di pasar obligasi terjadi di berbagai tenor surat utang.
Namun, arus modal keluar dan kenaikan imbal hasil cenderung terbatas seiring pengumuman Moody's yang saat ini hanya menurunkan penilaian kondisi ekonomi dan belum melakukan penurunan peringkat terhadap Indonesia. Dalam rangka mengurangi tekanan arus modal keluar, Bank Indonesia secara aktif meningkatkan kepemilikian surat utang pemerintah untuk mengurangi tekanan nilai tukar.
Sebagai hasilnya, depresiasi Rupiah relatif terbatas. Sejak akhir bulan lalu, Rupiah hanya melemah sebesar 0,27% dan bahkan menguat sebesar 0,44% (m.t.m) dalam 30 hari terakhir. Tetapi, Rupiah tercatat mengalami depresiasi sebesar 0,84% (y.t.d) secara year-to-date dan terdepresiasi sebesar 3,74% (y.o.y) dalam satu tahun terakhir, mencatatkan kinerja yang lebih buruk ketimbang mayoritas mata uangnegara berkembang.
"Kebanyakan nilai tukar negara berkembang bahkan mencatatkan apresiasi selama 2026, termasuk Lira Brasil, Ringgit Malaysia, Rand Afrika Selatan, Rubel Rusia, Peso Filipina, Yuan Tiongkok, dan Baht Thailand," kata tim ekonom LPEM FEB UI.
S&P Global Ratings juga menyoroti tekanan fiskal Indonesia, khususnya biaya pembayaran utang yang lebih tinggi. Ini pun meningkatkan risiko penurunan profil kredit kedaulatan Indonesia dan dapat menyebabkan penurunan peringkat.
"Pembayaran bunga "sangat mungkin" melebihi ambang batas utama 15% dari pendapatan pemerintah tahun lalu," kata Rain Yin, analis kedaulatan di S&P Global Ratings, dalam webinar daring tentang kawasan Asia-Pasifik, dikutip dari The Edge Malaysia dan Bloomberg, Jumat (27/6/2026).
Jika tetap di atas ambang batas secara berkelanjutan, hal itu dapat memicu pandangan yang lebih negatif terhadap peringkat tersebut, tambahnya. Hal ini berpotensi kembali menekan pasar keuangan Indonesia ke depannya. S&P akan merilis laporan peringkat utang RI pada Juli mendatang. Sementara itu, Fitch Ratings diperkirakan akan mempublikasi rating RI pada Maret 2026 dan Moody's pada April.Â
(arj/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]