Konflik AS-Iran Bisa "Makan Korban" China, Ini Sebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Risiko konflik yang melibatkan Iran dinilai berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap ekonomi China. Terutama melalui kenaikan harga energi, gangguan jalur pelayaran, serta pengetatan penegakan sanksi internasional.
Presiden Pusat Studi Timur Tengah sekaligus dosen tamu di Universitas HSE, Murad Sadygzade, menilai posisi Iran tidak hanya strategis secara regional, tetapi juga krusial dalam konteks persaingan global. Menurut dia, eskalasi di Iran dapat meningkatkan biaya pertumbuhan ekonomi China tanpa harus terjadi konfrontasi langsung.
"Iran berada di persimpangan pasar energi global, jalur maritim utama, dan rezim sanksi. Gangguan di titik ini akan cepat meningkatkan biaya ekonomi China," kata Sadygzade dalam analisisnya, seperti dikutip RT, Kamis (26/2/2026).
China merupakan importir minyak bersih terbesar di dunia dan sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi. Ketidakpastian di kawasan Teluk Persia, terutama yang berkaitan dengan Iran, dinilai dapat memicu lonjakan harga minyak global. Kondisi ini berdampak langsung pada biaya industri dan inflasi domestik China.
"Bagi China, kenaikan harga minyak bekerja seperti pajak tambahan. Biaya produksi naik dan pengelolaan ekonomi makro menjadi lebih menantang," ujar Sadygzade.
Selain harga, risiko juga datang dari jalur distribusi energi. Iran memiliki pengaruh strategis terhadap keamanan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting dunia. Bahkan tanpa penutupan fisik, sinyal eskalasi militer dapat menaikkan premi asuransi dan tarif pengiriman.
"Persepsi risiko saja sudah cukup untuk mengganggu logistik global. China, yang sangat bergantung pada jalur laut untuk impor energinya, akan menanggung biaya tambahan," jelasnya.
Tekanan berikutnya berasal dari arsitektur sanksi. Iran selama bertahun-tahun berada di bawah sanksi ketat, namun ekspor minyaknya tetap mengalir melalui mekanisme perdagangan bayangan, dengan China sebagai pembeli utama. Rata-rata pembelian minyak Iran oleh China diperkirakan mencapai sekitar 1,38 juta barel per hari atau lebih dari 13% impor minyak China via laut.
"Jika penegakan sanksi diperketat, importir China akan menghadapi biaya transaksi lebih tinggi dan kehilangan pasokan minyak diskon dari Iran," kata Sadygzade.
Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) dinilai memiliki ketahanan energi yang lebih kuat dibandingkan dekade sebelumnya, seiring peningkatan produksi dan ekspor minyak. Namun, lonjakan harga energi global tetap berisiko menekan konsumen dan sekutu AS yang merupakan importir bersih.
Meski demikian, Sadygzade mengingatkan bahwa strategi menekan China melalui konflik Iran juga memiliki batas. Eskalasi berkepanjangan dapat mendorong Beijing mempercepat diversifikasi energi, menambah cadangan strategis, dan mengembangkan sistem perdagangan yang lebih tahan terhadap sanksi.
"Tekanan jangka pendek memang bisa terasa berat, tetapi dalam jangka panjang justru dapat mendorong China membangun ketahanan baru," ujarnya.
Dengan demikian, konflik Iran dinilai berpotensi menjadi sumber tekanan ekonomi bagi China melalui berbagai saluran sekaligus. Namun efektivitas tekanan tersebut sangat bergantung pada skala dan durasi eskalasi, serta kemampuan aktor global mengelola dampak lanjutan terhadap ekonomi dunia.
(sef/sef) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]