Ada RI! USTR AS Klaim Sudah Kunci Perjanjian Dagang dengan 8 Negara
Jakarta, CNBC Indonesia- Amerika Serikat (AS) mengaku sudah mengunci Perjanjian Dagang Timbal Balik (Agreements on Reciprocal Trade/ATR) dengan sejumlah negara. Hal ini diumumkan Perwakilan Dagang AS (USTR), Selasa waktu setempat.
"Dari Buenos Aires hingga Kuala Lumpur, @POTUS terus mengamankan Perjanjian Perdagangan Timbal Balik dengan mitra kami di seluruh dunia," tulis USTR di akun X @USTradeRep, merujuk akun X resmi Presiden AS Donald Trump, Rabu dikutip Kamis (25/2/2026).
"Malaysia, Kamboja, El Salvador, Guatemala, Argentina, Bangladesh, Taiwan, Indonesia," paparnya lagi menyebut nama negara-negara yang sudah "diamankan" dengan tanda centang.
Pernyataan ini di X juga dibuat USTR setelah mem-posting cuitan lain soal deal dagang antara RI dan AS. Dituliskan bahwa kesepakatan perdagangan AS-Indonesia mengamankan investasi senilai sekitar US$33 miliar (Rp 555,2 triliun) di Amerika.
"US$15 miliar komoditas energi AS, US$13,5 miliar pesawat komersial & barang & jasa terkait penerbangan, US$4,5 miliar produk pertanian AS," tulisnya.
Dalam unggahan lain USTR juga menulis bagaimana kesepakatan perdagangan Trump dengan Indonesia membuka akses bagi eksportir Amerika ke "negara terpadat keempat di dunia". Disebutkan hal itu bisa "menciptakan peluang komersial yang berarti bagi petani dan produsen Amerika".
Sementara itu sebelumnya, Mahkamah Agung AS telah membatalkan tarif resiprokal yang diumumkan tahun lalu 10%-50% ke banyak negara dunia, yang didasarkan pada Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA). MA mengatakan Trump berlaku di luar kewenangannya.
Dengan dibatalkannya IEEPA, AS harus menghadapi pengembalian pungutan besar. Bloomberg Economics memperkirakan total bea yang dikumpulkan dari tarif ini mencapai sekitar US$ 88 miliar (setara Rp 1.320 triliun).
Hasil MA kemudian dibalas Trump dengan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan AS. Trump menerapkan tarif hingga 15 %, tetapi hanya untuk periode maksimal 150 hari, mulai Selasa. Hal ini menimbulkan banyak kebingungan di banyak negara.
source on Google [Gambas:Video CNBC]