Ramadan Berbalut Krisis di Negara Kaya Minyak, Harga Naik-ATM Habis
Jakarta, CNBC Indonesia - Libya merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar dunia. Menurut data Worldometer, ada 48,36 miliar barel atau setara dengan 2,7% dari total cadangan minyak global.
Namun 15 tahun setelah jatuhnya pemimpin lama Muammar Qaddafi, negara ini tetap terpecah antara timur dan barat. Krisis ekonomi juga terjadi dan menekan masyarakat.
Melambungnya harga, mata uang yang terdevaluasi, kekurangan barang termasuk bahan bakar, mengganggu kehidupan sehari-hari. Hal ini pulalah yang membuat Ramadan tak bisa dinikmati semua orang di negeri itu.
Banyak orang tidak memiliki banyak hal untuk dirayakan di bulan suci tahun ini. Biasanya, selama bulan puasa, banyak orang akan membeli banyak makanan lezat sementara keluarga berkumpul untuk menikmati hidangan mewah saat sahut dan buka, namun tahun ini supermarket di Libya telah membatasi penjualan barang.
Belum lagi, banyak SPBU kekurangan bensin. Di ibu kota Tripoli misalnya, sebagian besar ATM kehabisan uang tunai minggu ini.
Mengutip AFP Senin (23/2/2026), warga bernama Firas Zreeg (37) mengakui itu sambil berjalan di tengah supermarket yang ramai. Bahwa, ekonomi sedang memburuk.
Ia menyalahkan spekulan mata uang atas jatuhnya dinar. "Itu berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari kita," katanya.
Harga minyak goreng telah berlipat ganda dalam beberapa minggu terakhir. Harga daging dan unggas naik setengahnya.
Isi ulang tabung gas, yang secara resmi dihargai 1,5 dinar (Rp 3.900) tetapi seringkali tidak tersedia melalui distributor milik negara. Sekarang gas dijual seharga 75 dinar (Rp 199 ribu) di pasar gelap dan terkadang lebih mahal.
Sebenarnya Libya telah berjuang untuk pulih dari kekacauan yang meletus setelah pemberontakan Musim Semi Arab 2011 yang menggulingkan Qaddafi. Namun, negara ini tetap terbagi antara pemerintah yang diakui PBB yang berbasis di Tripoli dan pemerintahan timur yang didukung oleh tokoh militer Khalifa Haftar.
Meski demikian, negara ini sebagian besar stabil dalam beberapa tahun terakhir meskipun telah terjadi beberapa kali kekerasan mematikan. Termasuk pembunuhan putra Qaddafi dan pewaris takhta, Seif Al-Islam, bulan ini.
Dengan keamanan yang terjaga sebenarnya banyak warga Libya lebih fokus pada mata pencaharian mereka. Tapi tahun ini ekonomi semakin sulit.
Bulan lalu, bank sentral di wilayah barat tersebut mendevaluasi dinar. Ini dilakukan untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari setahun, sebesar hampir 15%.
Langkah itu bertujuan untuk menjaga stabilitas keuangan dan moneter serta memastikan keberlanjutan sumber daya publik. Dalam pidatonya minggu ini, Perdana Menteri (PM) Abdulhamid Dbeibah mengakui bahwa devaluasi tersebut sekali lagi memberikan beban kepada warga negara.
Kepala Misi Dukungan Perserikatan PBB di Libya, Hanna Tetteh, memperingatkan bahwa kemiskinan dan tekanan pada masyarakat semakin meningkat. "Situasi ini, selain lanskap keamanan yang rapuh, harus menjadi perhatian karena kondisi seperti itu dapat menyebabkan tantangan politik dan keamanan yang tidak terduga," katanya kepada Dewan Keamanan (DK) PBB.
Masalah ekonomi Libya lainnya termasuk tidak adanya anggaran nasional yang terpadu, mengingat perpecahan politiknya, serta pengeluaran publik yang tidak terkoordinasi karena lembaga negara yang paralel. Pendapatan dari industri minyak juga menurun, sementara bank sentral mengatakan pengeluaran publik tumbuh dengan laju yang tidak berkelanjutan.
(sef/sef) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]