MARKET DATA
Internasional

Kena Hukum Trump, Negara Komunis Tetangga AS Terancam Kolaps

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
20 February 2026 05:00
Bangunan-bangunan terlihat selama pemadaman listrik saat jaringan listrik negara itu runtuh lagi pada hari Minggu, menurut kementerian energi dan pertambangan Kuba, dalam kemunduran terbaru terhadap upaya pemerintah untuk memulihkan listrik ke pulau itu, di Havana, Kuba, 20 Oktober 2024. (REUTERS/Norlys Perez)
Foto: Bangunan-bangunan terlihat selama pemadaman listrik saat jaringan listrik negara itu runtuh lagi pada hari Minggu, menurut kementerian energi dan pertambangan Kuba, dalam kemunduran terbaru terhadap upaya pemerintah untuk memulihkan listrik ke pulau itu, di Havana, Kuba, 20 Oktober 2024. (REUTERS/Norlys Perez)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kuba kini tengah menghadapi masa ketidakpastian ekonomi paling mendalam dalam beberapa dekade terakhir seiring dengan terhentinya pasokan bahan bakar dan merosotnya sektor pariwisata. Kebijakan blokade minyak oleh Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump telah memutus arus energi ke pulau yang dikuasai komunis tersebut, yang bertujuan untuk menekan perubahan politik dan ekonomi yang signifikan.

Kondisi ini sangat kontras dengan era normalisasi hubungan diplomatik pada tahun 2015 di bawah Presiden Barack Obama. Mandy Pruna, seorang pengemudi mobil antik Chevrolet 1957, mengenang masa-masa kejayaan pariwisata saat itu di mana selebritas dunia seperti Will Smith, Rihanna, hingga Kim Kardashian datang berkunjung dan menggunakan jasanya.

"Semua sektor masyarakat mendapat manfaat dari hal itu. Anda melihat orang-orang mengecat rumah mereka, membuka bisnis baru. Bagi saya itu luar biasa. Itu adalah era terbaik bagi pariwisata di Kuba," kata Pruna saat mengingat masa keemasan tersebut dikutip CNN International, Jumat (20/2/2026).

Namun, saat ini Kuba tampaknya tidak lagi memiliki sekutu yang bersedia memasok bahan bakar senilai ratusan juta dolar untuk menggerakkan ekonominya. Kehilangan ganda antara pasokan bahan bakar dan kedatangan wisatawan telah menjadi pukulan telak bagi para pekerja di sektor jasa seperti Pruna.

"Saya butuh bensin untuk bisa bekerja, saya butuh turis untuk bisa bekerja," ujar Pruna menekankan sulitnya situasi yang ia hadapi saat ini.

Dampak krisis ini mulai melumpuhkan kehidupan di pulau berpenduduk hampir 10 juta jiwa tersebut. Kelas-kelas di sekolah dihentikan, pekerja dirumahkan untuk menghemat energi, dan hotel-hotel yang kosong mulai ditutup. Bahkan, penerbangan dari Rusia dan Kanada dibatalkan karena ketiadaan bahan bakar jet untuk penerbangan internasional jarak jauh.

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa pemerintah Kuba harus segera membuka ekonomi terpusatnya sebelum benar-benar runtuh. Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa saat ini tidak ada lagi sumber daya yang tersisa di pulau tersebut untuk menopang sistem yang ada.

"Tidak ada minyak, tidak ada uang, tidak ada apa-apa," kata Presiden Donald Trump kepada wartawan, seraya menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio tengah memimpin upaya negosiasi dengan pejabat tinggi Kuba.

Marco Rubio, yang merupakan keturunan Kuba-Amerika dan penentang lama pemerintah Kuba, menegaskan bahwa model ekonomi Kuba yang bergantung pada subsidi dari negara luar kini telah mencapai titik akhir. Ia merujuk pada sejarah ketergantungan Kuba terhadap Uni Soviet dan Venezuela di masa lalu.

"Ini adalah rezim yang bertahan hampir seluruhnya berkat subsidi-pertama dari Uni Soviet, lalu dari Hugo Chavez. Untuk pertama kalinya, tidak ada subsidi yang masuk dari siapa pun, dan model tersebut telah terpapar apa adanya," kata Rubio dalam Konferensi Keamanan Munich.

Krisis kemanusiaan kini membayangi Kuba karena sebagian besar kebutuhan pangan mereka didapat melalui impor yang kini terancam. Politisi konservatif di Amerika Serikat bahkan menyerukan penghentian total bantuan dan remitansi untuk semakin menekan pemerintah Kuba.

Anggota Kongres dari Partai Republik, Maria Elvira Salazar, menyatakan bahwa langkah ekstrem ini diperlukan sebagai dilema untuk membebaskan Kuba secara permanen dari kediktatoran, meskipun ia mengakui dampak penderitaan yang ditimbulkan.

"Inilah saatnya untuk menghentikan segalanya: tidak ada lagi pariwisata, tidak ada lagi remitansi, tidak ada lagi mekanisme yang terus mendanai dan mempertahankan kediktatoran. Sangat menyedihkan memikirkan kelaparan seorang ibu, tentang seorang anak yang membutuhkan bantuan segera. Tidak ada yang acuh tak acuh terhadap rasa sakit itu. Namun itulah dilema brutal yang kami hadapi sebagai eksil: menyelesaikan penderitaan jangka pendek atau membebaskan Kuba selamanya," tutur Salazar.

Di dalam negeri, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel telah meminta penduduknya untuk mengadopsi mentalitas masa perang dan bertahan secara kreatif di tengah keterbatasan. Ia memperingatkan bahwa distribusi pangan antar wilayah akan terganggu akibat kelangkaan bahan bakar.

"Kami akan memakan apa yang bisa kami produksi di setiap tempat. Sekarang jika bahan bakar berkurang, maka makanan tidak akan bisa keluar dari beberapa kota ke kota lainnya," kata Diaz-Canel dalam penampilan televisi bulan lalu.

Di pasar-pasar tradisional Havana, para pedagang mulai mengeluhkan kesulitan memasok buah dan sayuran dari pedesaan. Anayasi, seorang pedagang makanan yang menolak menyebutkan nama belakangnya, memperingatkan bahwa dampak dari kelangkaan ini akan sangat mengerikan bagi masyarakat.

"Kami membayar dua, tiga kali lipat untuk menyetok ulang dan menjaga orang tetap senang. Tidak ada makanan. Dampaknya akan sangat mengerikan. Kami tidak akan memiliki apa-apa," ucap Anayasi.

Kondisi yang semakin tidak menentu ini membuat warga seperti Mandy Pruna kehilangan harapan akan masa depan di tanah airnya. Setelah 20 tahun mencari nafkah dari pariwisata, ia kini bahkan telah menangguhkan izin kerjanya dan mempertimbangkan untuk beremigrasi ke Spanyol.

"Semuanya tidak pasti saat ini. Tidak ada bahan bakar. Kami tidak tahu apakah akan ada dan bagaimana kami akan membayarnya. Jika saya harus membayar bensin dalam dolar, bagaimana saya bisa menutup biaya itu jika tidak ada pariwisata?" pungkas Pruna.

(tps/luc) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Terlalu Bergantung Impor Minyak, Krisis Listrik Hantam Negara Ini


Most Popular
Features