MARKET DATA
Internasional

Resmi! Presiden Dimakzulkan Usai "Main Mata" dengan Pebisnis China

luc,  CNBC Indonesia
18 February 2026 05:45
Presiden baru Peru, Jose Jeri, mengenakan selempang kepresidenan saat upacara pelantikan, setelah Kongres memutuskan untuk memberhentikan mantan Presiden Dina Boluarte, di Lima, 10 Oktober 2025. (REUTERS/Angela Ponce)
Foto: Presiden baru Peru, Jose Jeri, mengenakan selempang kepresidenan saat upacara pelantikan, setelah Kongres memutuskan untuk memberhentikan mantan Presiden Dina Boluarte, di Lima, 10 Oktober 2025. (REUTERS/Angela Ponce)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden interim José Jerí resmi lengser setelah parlemen menyetujui pemakzulannya secara cepat menyusul skandal pertemuan rahasia dengan sejumlah pebisnis asal China.

Dilansir The Guardian, dalam pemungutan suara di Kongres pada Selasa (17/2/2026) waktu setempat, sebanyak 75 anggota parlemen mendukung pemecatan, sementara 24 menolak. Keputusan ini mengakhiri masa jabatan Jerí yang baru berjalan sekitar 4 bulan, sekaligus menandai pergantian pemimpin kedelapan di Peru sejak 2016 di tengah periode ketidakstabilan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Skandal yang menjatuhkan Jerí dikenal dengan sebutan "Chifagate", merujuk pada rekaman kamera pengawas yang menunjukkan dirinya melakukan pertemuan di luar agenda resmi dengan pebisnis China. Salah satu video paling kontroversial memperlihatkan Jerí datang ke sebuah pertemuan dengan mengenakan hoodie, seolah berusaha menyembunyikan identitasnya.

Jerí, yang kini berusia 39 tahun, sebelumnya sempat menikmati tingkat popularitas yang tinggi di awal masa jabatannya. Namun, dukungan publik runtuh drastis setelah skandal Chifagate mencuat dan diikuti berbagai tuduhan lain. Sejumlah partai politik yang semula mendukungnya mulai berbalik arah dan mendesaknya mundur, terutama ketika kampanye pemilu nasional mulai bergulir.

Ketua sementara Kongres Peru, Fernando Rospigliosi, mengatakan parlemen akan kembali menggelar pemungutan suara pada Rabu (18/2/2026) untuk menentukan siapa yang akan menggantikan Jerí sebagai presiden interim, hanya beberapa bulan sebelum pemilihan presiden yang dijadwalkan berlangsung pada April.

Kasus ini kini juga merambah ranah hukum. Jaksa telah membuka penyelidikan awal terkait dugaan praktik jual beli pengaruh yang dikaitkan dengan pertemuan Jerí bersama Yang Zhihua, seorang pengusaha China yang dikenal dengan nama "Johnny" dan telah lama bermukim di Peru.

Selain Yang, jaksa juga menyoroti kehadiran warga China lain, Ji Wu Xiaodong, yang disebut berada dalam salah satu pertemuan tersebut. Menurut pihak kejaksaan, Ji dituduh terlibat dalam jaringan perdagangan kayu ilegal bernama Los Hostiles de la Amazonia dan sempat menjalani tahanan rumah selama dua tahun.

Jerí juga menghadapi sorotan terkait dugaan perekrutan perempuan muda yang tidak memenuhi kualifikasi, namun memperoleh jabatan di pemerintahan setelah melakukan pertemuan larut malam di Istana Kepresidenan.

Dugaan ini berdasarkan catatan resmi keluar-masuk tamu istana. Beberapa di antara mereka bahkan disebut kerap menemani Jerí dalam perjalanan dinas menggunakan pesawat kepresidenan. Jerí membantah seluruh tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa semua penunjukan dilakukan secara legal.

Pergolakan politik di Lima ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan China. Duta Besar AS yang baru untuk Peru, Bernardo Navarro, melontarkan kritik tajam terhadap China dalam unggahan di media sosial X.

Ia mengecam apa yang disebutnya sebagai "cheap Chinese money" dan menambahkan bahwa "tidak ada harga yang lebih mahal daripada kehilangan kedaulatan".

Pernyataan Navarro dipandang merujuk langsung pada Pelabuhan Chancay, fasilitas pelabuhan otomatis yang berjarak sekitar 50 mil di utara Lima dan mayoritas sahamnya dimiliki oleh perusahaan China, Cosco Shipping Ports.

Sebelumnya, sejumlah pejabat AS menyatakan kekhawatiran bahwa pelabuhan air dalam tersebut berpotensi digunakan untuk aktivitas angkatan laut, meski pemerintah Peru membantah tudingan itu.

China pun bereaksi keras. Kementerian Luar Negeri China menuduh AS menyebarkan "tuduhan palsu dan disinformasi" terkait kerja sama Beijing dengan Lima dalam proyek Pelabuhan Chancay.

Untuk meredam ketegangan, Kementerian Luar Negeri Peru mengunggah foto di X yang memperlihatkan menteri luar negerinya berjabat tangan dengan Duta Besar China untuk Peru, Song Yang, dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek. Dalam unggahan tersebut, pemerintah Peru juga memuji investasi China serta hubungan perdagangan bilateral kedua negara.

Dengan jatuhnya Jerí, Peru kembali dihadapkan pada ketidakpastian kepemimpinan di tengah persiapan pemilu nasional. Situasi ini mempertegas reputasi negara tersebut sebagai salah satu demokrasi paling tidak stabil di Amerika Latin dalam satu dekade terakhir.

 

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Resmi! Presiden Ini Akhirnya Dimakzulkan, Digantikan Pemuda 38 Tahun


Most Popular
Features