CLOSE AD
MARKET DATA
Economic Outlook 2026

Bisnis Hilir Dimerger, Danantara Ungkap Tugas Bisnis Hulu Pertamina

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
12 February 2026 15:15
Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Dony Oskaria saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Dony Oskaria saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) meminta PT Pertamina (Persero) untuk fokus pada peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) untuk mendukung ketahanan energi nasional. Hal itu seiring dengan aksi korporasi menggabungkan tiga anak usaha menjadi Subholding Downstream Pertamina.

Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengatakan, di samping melangsingkan struktur badan usaha, pihaknya telah menugaskan Pertamina untuk mendongkrak angka produksi migas siap jual (lifting).

"Sama, di hulunya juga tentu akan ada perbaikan mengenai refocusing daripada upstream-nya Pertamina. Kita meminta mereka untuk lebih giat untuk menaikkan lifting-nya, karena itu kita ingin konsolidasi daripada Pertamina ini, memberikan dampak untuk ketahanan energi kita," ujarnya dalam acara Economic Outlook 2026 CNBC Indonesia, dikutip Kamis (12/2/2026).

Menurutnya, selama ini fokus Pertamina di sektor hulu belum optimal. Hal itu pun berdampak pada tren penurunan produksi minyak dalam negeri. Pihaknya saat ini mendorong agar lifting minyak dapat meningkat demi menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor.

"Kita sudah lama sebetulnya bahwa Pertamina tidak terlalu fokus di upstream-nya, di hulunya. Ini yang menyebabkan juga bahwa produksi kita cenderung decline, tetapi hari ini dengan 1 tahun ini kita mulai mem-push untuk terjadi peningkatan di sisi produksi kita. Karena ini akan berkaitan nantinya tentu dengan jumlah impor yang kita harus datangkan," imbuhnya.

Adapun, alasan finansial menjadi salah satu pendorong utama penggabungan tiga subholding Pertamina, terutama terkait pajak yang muncul akibat transaksi antar-anak usaha.

Dony menyoroti adanya pemborosan hingga Rp 20 triliun setiap tahunnya hanya untuk membayar Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari transaksi internal antara unit bisnis pengolahan, pengapalan, dan niaga.

"Dan juga Anda tahu berapa PPN kita yang over akibat dari para bisnis itu setiap tahun itu Rp 20 triliun. Dari transaksi intercompany, kenapa Patra Niaga bertransaksi dengan PIS, bertransaksi dengan kilang. Sekarang dengan penyatuan itu PPN-nya itu berkurang Rp 20 triliun setiap tahun," imbuhnya.

Di lain kesempatan, Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menyebutkan perusahaan berupaya untuk tetap menjaga ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri. Hal itu juga salah satunya dengan menjaga harga jual agar masyarakat bisa mendapatkan sumber energi yang terjangkau.

"Kita melakukan upaya-upaya integrasi untuk menjamin ketersediaan energi. Jadi rantai pasok dari bahan baku, dari hulu yang masuk ke kilang, kemudian dari kilang masuk ke terminal BBM hingga kita distribusikan ke masyarakat. Agar tentunya bisa kita pastikan availability-nya, kemudian juga reliable, dan juga accessible ke seluruh tanah air," jelas Oki dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, dikutip Kamis (12/2/2026).

Integrasi sektor hilir di perusahaan dinilai bisa meningkatkan ketahanan energi nasional, diantaranya dengan mendistribusikan energi hingga pelosok Tanah Air.

"Dan juga tentunya integrasi hilir ini akan memperkuat secara finansial dan juga operasional," imbuhnya.

Pihaknya memastikan dari aksi korporasi menggabungkan tiga subholding menjadi satu subholding downstream tersebut bisa menghasilkan efisiensi finansial. Hal itu didapatkan melalui pengurangan biaya yang dikeluarkan dari transaksi antar perusahaan.

"Dengan demikian, kita akan melihat terjadinya peningkatan net profit after tax setelah penggabungan yang kita lakukan antara Kilang, kemudian Commercial and Trading, dan Perkapalan ini," tandasnya.

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Danantara Bakal Groundbreaking 10 Proyek Baru Hilirisasi Pekan Depan!


Most Popular
Features