CLOSE AD
MARKET DATA

KKP Tawarkan Industri Mamin Investasi Sektor Garam, Pebisnis Tertarik?

Martya Rizky,  CNBC Indonesia
12 February 2026 15:00
Petani Garam
Foto: CNBC Indonesia/ Donald

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah membuka peluang bagi industri makanan dan minuman (mamin) untuk terlibat langsung sebagai investor dalam pengembangan kawasan industri garam raksasa di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tawaran ini sejalan dengan upaya mendorong swasembada garam nasional yang ditargetkan tercapai pada 2027.


Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat ini tengah mengembangkan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao yang berdiri di atas lahan seluas 12.597,69 hektare. Namun, tidak seluruh kawasan akan digarap oleh pemerintah.


Direktur Sumber Daya Kelautan KKP, Frista Yorhanita menegaskan, keterbatasan anggaran negara membuat pemerintah hanya mampu membangun sebagian zona. Selebihnya dibuka untuk investasi swasta, termasuk industri pengguna garam seperti produsen makanan dan minuman.


"Pengembangan kawasan industri di Rote itu kan tidak mungkin pemerintah semua. Kemampuan APBN kami paling ya hanya bisa di 2 zona, sisa 8 zonanya itu harus dilakukan oleh investor," ujar Frista dalam acara Talkshow Bincang Bahari di Media Center KKP, Jakarta, Kamis (12/2/2026).


Dalam perencanaannya, KKP akan menggarap zona 1 seluas 1.025 hektare dan zona 2 seluas 899,54 hektare. Sementara delapan zona lainnya dengan total luas 10.444,73 hektare akan ditawarkan kepada investor.


"Bagaimana dengan sisanya? Sisanya itu nanti yang akan kita tawarkan kepada investor, termasuk nanti rekan-rekannya Pak Adhi (Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia), industri pengguna yang selama ini hanya memakai saja misalnya gitu ya. Nanti akan juga berkontribusi, minimal mereka jadi bisa memenuhi kebutuhannya sendiri," jelasnya.


Menanggapi tawaran tersebut, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman mengatakan, industri makanan dan minuman tidak bisa serta-merta langsung masuk sebagai investor di tambak garam. Menurutnya, investasi di tambak garam raksasa di Rote Ndao lebih tepat dilakukan oleh perusahaan pengolah garam.


"Nah terkait dengan Rote, sebetulnya yang nanti harus dipertanyakan adalah di industri pengolah garam. Karena investasi di sana itu dilakukan oleh industri pengolah garam. Dan ini merupakan upaya dari pemerintah sebelumnya, mendorong pelaku usaha termasuk PT Garam, ada di sana juga, di NTT, untuk ekstensifikasi," kata Adhi dalam kesempatan yang sama.


Adhi menyampaikan, upaya ekstensifikasi tambak garam di wilayah tersebut sudah mulai berjalan. Namun, ia mengingatkan masih ada tantangan besar yang perlu diselesaikan, terutama dari sisi logistik.


"Jadi ekstensifikasi ini saya mendapatkan informasi sudah mulai berjalan, meskipun tantangannya masih cukup besar terkait dengan logistik. Ini yang juga menjadi tantangan terbesar," ucap dia.


Karena itu, ia mendorong agar pembangunan industri pengolahan garam diprioritaskan lebih dekat dengan sentra industri pengguna, termasuk industri makanan dan minuman, agar biaya distribusi bisa ditekan.


"Sekaligus saya berharap kepada KKP maupun PT Garam, kalau bisa membangun industri-industri pengolahannya di dekat industri pengguna dulu. Sebagai prioritas agar logistik ini menjadi murah, dan ini juga penting bagi industri makan minuman untuk meningkatkan daya saing," ujarnya.


Lebih lanjut, Adhi menekankan pentingnya kolaborasi antar industri agar produk dalam negeri mampu bersaing di pasar global, bukan saling bersaing di dalam negeri.


"Karena kita harus berkolaborasi, kemarin Presiden mengatakan kita harus Indonesia Incorporated, karena saingan kita bukan di dalam negeri sendiri, tapi saingan kita adalah di global," tutur Adhi.


Ia mengingatkan, tanpa penguatan daya saing industri, Indonesia justru berisiko semakin bergantung pada impor produk jadi. "Kalau kita gagal membuat produk-produk yang berdaya saing, tentunya kita akan impor produk jadi yang jauh lebih murah, dan kita akan kehilangan kesempatan kerja, kehilangan nilai tambah, kehilangan manfaat-manfaat ekonomi yang kita harapkan bisa dilakukan oleh industri, khususnya industri makan minuman dan industri manufaktur secara umum," katanya.

(hoi/hoi)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Titiek Soeharto Tanya Kapan RI Swasembada Garam? KKP Tegas Jawab Ini


Most Popular
Features