Dua Hal Ini Jadi Syarat Utama Raih Pendanaan Hijau
Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Climate Policy Initiative (CPI), Tiza Mafira menyebut terdapat dua hal yang menjadi syarat utama green financing atau pendanaan hijau. Pertama adalah dengan memperbanyak proyek-proyek berbasis hijau.
Menurut dia investor sangat menaruh perhatian terhadap proyek hijau seperti energi baru terbarukan.
"Setiap kali kita bertemu dengan perbankan dengan lembaga keuangan yang ditanya adalah proyeknya di mana," ungkap Tiza dalam ESG Sustainability Forum 2026 CNBC Indonesia, Selasa (3/2/2026).
Dia mencontohkan Indonesia melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RPUTL) menargetkan sebanyak 17 gigawatt pembangunan pembangkit listrik tenaga surya pada 2034.
Proyek ini kata dia bisa menarik minat investor untuk memberikan green financing. Menurut dia, kapasitas 17 gigawatt merupakan angka yang besar.
"Jadi harus jor-joran. Kebayang ya untuk dari dari 2 gigawatt sampai 17 gigawatt harus jor-joran. PLN melakukan pengadaan dipercepat procurement-nya supaya tercapai target itu dan supaya ada opsi-opsi dari investor untuk berinvestasi," terang dia.
Sedangkan yang kedua adalah meningkatkan perdagangan pasar karbon. Di mana saat ini harga pasar karbon di Indonesia masih terbilang rendah dibandingkan dengan negara lain.
"Tetapi kalau kita lihat pasar karbon sekarang harganya masih cukup rendah 4 dollar per ton 2 sampai 4 dollar per ton. Beda dengan misalnya Singapura 8 sampai 16 dollar per ton. Beda dengan Eropa 60 dollar per ton. Itu menunjukkan bahwa sebenarnya supply di Indonesia lebih banyak daripada demand. Makanya harganya jatuh," terang Tiza.
Tiza menjelaskan untuk memperbanyak suplai di pasar karbon adalah dengan memperketat kebutuhan. Dengan kata lain, pemerintah perlu membuat aturan bagi perusahaan untuk melakukan perdagangan di pasar karbon.
"Kiata harus mewajibkan beberapa perusahaan untuk memperdagangkan karbon baik itu diwajibkan melalui mandatory product market maupun itu didorong melalui pengenaan pajak karbon," kata dia.
[Gambas:Video CNBC]