MARKET DATA
Internasional

Banjir Terparah Sedekade, Lebih dari 100 Orang Tewas di 3 Negara

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
31 January 2026 14:45
Banjir melumpuhkan sebagian besar wilayah Mozambik. Ribuan warga terjebak di daerah-daerah yang kini terisolasi total, Jumat (30/1/2026). (REUTERS/Moses Mwape)
Foto: Banjir melumpuhkan sebagian besar wilayah Mozambik. Ribuan warga terjebak di daerah-daerah yang kini terisolasi total, Jumat (30/1/2026). (REUTERS/Moses Mwape)

Jakarta, CNBC Indonesia - Banjir besar melanda kawasan Afrika bagian selatan dan menyebabkan ratusan ribu orang terpaksa mengungsi setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut dalam intensitas tinggi selama beberapa pekan terakhir. Bencana ini disebut sebagai salah satu banjir terparah yang pernah dialami kawasan tersebut dalam beberapa dekade.

Dilansir dari NY Times, Hingga akhir Januari 2026, lebih dari 100 orang dipastikan meninggal dunia di Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Mozambik. Otoritas meteorologi memperkirakan curah hujan masih akan berlanjut setidaknya hingga Februari, seiring musim hujan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Mozambik menjadi negara yang paling terdampak. Pemerintah setempat melaporkan kerusakan parah pada infrastruktur yang menyebabkan banyak komunitas terputus dari layanan penting. Badan Nasional Pengelolaan Risiko dan Pengurangan Bencana Mozambik menyebut terputusnya akses ini telah mengganggu distribusi bantuan dan pasokan kebutuhan vital ke wilayah terdampak.

Organisasi kemanusiaan yang beroperasi di lapangan menggambarkan kondisi yang semakin mengkhawatirkan. Kekurangan tempat tinggal, air bersih, sanitasi, pangan, dan layanan kesehatan dilaporkan terjadi di sejumlah provinsi, termasuk Gaza, Inhambane, Sofala, dan Zambézia. Situasi tersebut meningkatkan risiko krisis kemanusiaan dan kesehatan masyarakat.

UNICEF memperingatkan bahwa keterbatasan akses terhadap air bersih dan sanitasi membuka peluang besar merebaknya penyakit yang ditularkan melalui air, seperti kolera, serta meningkatnya ancaman malaria. Juru bicara UNICEF di Mozambik, Guy Taylor, mengatakan kondisi ini sangat berbahaya bagi anak-anak. Menurutnya, bahkan sebelum bencana terjadi, sekitar empat dari sepuluh anak di Mozambik telah mengalami malnutrisi kronis.

"Ketika anak-anak yang mengalami malnutrisi terpapar penyakit yang ditularkan melalui air, bahkan satu episode diare saja bisa berakibat fatal," ujar Taylor.

Prakiraan cuaca menunjukkan hujan masih akan terus mengguyur Mozambik hingga setidaknya awal Februari, terutama di wilayah utara negara tersebut. Musim hujan di Mozambik biasanya berlangsung hingga April dan ditandai dengan cuaca panas dan lembap, hujan deras yang sering, serta meningkatnya risiko badai tropis dan siklon.

Tim penyelamat di Mozambik menyebut banjir kali ini sebagai yang terburuk sejak tahun 2000, ketika hujan lebat disertai siklon menewaskan hingga 700 orang. Taylor menggambarkan skala bencana tersebut setelah melihat langsung kondisi dari udara. Ia mengatakan saat terbang melintasi Provinsi Gaza, wilayah tersebut tampak seperti lautan luas.

Di kota Xai Xai, ibu kota Provinsi Gaza, Taylor mengaku bertemu dengan sejumlah ibu yang tidak mengetahui dari mana makanan anak-anak mereka selanjutnya akan diperoleh, setelah kehilangan rumah, lahan pertanian, dan ternak akibat banjir.

Respons darurat juga dilakukan di tingkat regional. Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (Southern African Development Community/SADC) telah mengerahkan tim tanggap darurat ke wilayah-wilayah yang paling parah terdampak banjir. Selain itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa menyalurkan bantuan berupa peralatan kesehatan, tenda, perlengkapan kebersihan, bantuan gizi, serta materi pendidikan.

Dampak banjir juga terasa signifikan di Afrika Selatan. Taman Nasional Kruger, salah satu destinasi wisata paling populer di negara tersebut, dilanda banjir hebat yang memaksa ratusan wisatawan dan staf dievakuasi. Otoritas taman nasional menyatakan tidak ada laporan korban jiwa maupun luka-luka, namun hingga kini sebagian besar area taman masih belum dapat diakses.

Banjir di Afrika Selatan mulai terjadi sejak Desember 2025, ketika curah hujan jauh di atas rata-rata melanda sejumlah wilayah, terutama di Provinsi Limpopo. Hingga akhir Desember, desa Haenertsburg mencatat curah hujan mencapai sekitar 13 inci, hampir tiga kali lipat dari rata-rata bulanan. Curah hujan tinggi tersebut berlanjut hingga awal Januari.

Sementara itu, di Zimbabwe, sedikitnya 70 orang dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 1.000 rumah hancur sejak awal Januari akibat banjir. Badan penanggulangan bencana pemerintah Zimbabwe menyatakan sejumlah sekolah, jalan, dan jembatan mengalami kerusakan berat atau hanyut tersapu banjir, memperparah dampak sosial dan ekonomi di wilayah terdampak.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pertamina Gerak Cepat, Bantu Korban Banjir & Longsor di Sumatera Utara


Most Popular
Features