Pengumuman! Trump Warning Darurat, Ancam Negara Penghasil Minyak
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan keadaan darurat nasional dan mengancam. Ini ditujukan kepada situasi negaranya dengan tetangga dekat AS, Kuba.
Ia bahkan menegaskan akan memberlakukan tarif tinggi ke negara mana pun yang memasok minyak ke Havana. Kuba selama ini sangat bergantung pada minyak Venezuela, yang terputus secara tiba-tiba karena operasi militer AS, yang berujung penangkapan eks presiden Nicolas Maduro.
Hal ini terungkap dari perintah eksekutif Trump yang mengacu pada Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA). Namun, perlu diketahui, saat ini tarif berdasarkan UU IEEPA sedang digugat di Mahkamah Agung (MA).
"Amerika Serikat tidak menolerir sama sekali tindakan sewenang-wenang rezim komunis Kuba," bunyi perintah Trump tersebut, dikutip RT, Jumat (30/1/2026).
"Saya menemukan bahwa kebijakan, praktik, dan tindakan Pemerintah Kuba secara langsung mengancam keselamatan, keamanan nasional, dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat," tambahnya.
"Rezim tersebut bersekutu dengan... sejumlah negara yang bermusuhan, kelompok teroris transnasional, dan aktor jahat yang merugikan Amerika Serikat, termasuk Rusia, China, dan Iran, serta kelompok militan Hamas dan Hizbullah."
Perintah tersebut memberikan wewenang luas kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) dan Menteri Perdagangan (Mendag) AS untuk mengidentifikasi pelanggar dan merekomendasikan tingkat tarif kepada Presiden. Langkah ini Trump ini makin mengintensifkan blokade energi de facto yang dilakukan AS, membuat negara lain menurutinya.
Sementara itu, dalam sebuah unggahan media sosial, dikutip AFP, Trump juga mengancam Kuba untuk segera membuat kesepakatan dengan AS. Meski, ia tak dijelaskan jenis kesepakatannya.
"Saya sangat menyarankan mereka untuk membuat kesepakatan, SEBELUM TERLAMBAT," tulis Trump di media sosial.
Selasa lalu, Trump kembali mengatakan pemerintah Kuba akan segera gagal. Terputusnya pasokan minyak dari Venezuela akan mendorong Havana ke ambang kehancuran.
Menurut perusahaan data Kpler, Kuba hanya memiliki cadangan minyak yang cukup untuk 15 hingga 20 hari. Negara itu sudah mengalami pemadaman listrik harian, di mana para analis memperingatkan akan terjadinya keruntuhan ekonomi dan krisis kemanusiaan tanpa pasokan ulang yang cepat.
Sementara itu, Menlu Kuba mengecam perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump yang mengancam tarif terhadap negara-negara yang menjual minyak ke pulau Karibia tersebut. Ia menyebutnya sebagai "tindakan agresi brutal".
"Kami mengecam kepada dunia tindakan agresi brutal ini terhadap Kuba dan rakyatnya, yang selama lebih dari 65 tahun telah menjadi sasaran blokade ekonomi terpanjang dan terkejam yang pernah dikenakan pada suatu bangsa dan yang sekarang dijamin akan menjadi sasaran kondisi kehidupan yang ekstrem," tulis Menteri Luar Negeri Bruno Rodriguez dalam sebuah unggahan di X, dimuat AFP.
(sef/sef)[Gambas:Video CNBC]