MARKET DATA

Pengguna BBM Pertalite & Solar Subsidi Semakin Turun, Ini Buktinya

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
28 January 2026 09:25
Petugas mengisi BBM mobil di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak (SPBU) milik PT Pertamina di Jakarta, Selasa (28/8). Saat ini sebanyak 60 terminal BBM Pertamina telah menyalurkan biodiesel 20% atau B20 untuk PSO (Public Service Obligation/subsidi). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi Pengisian BBM Pertamina (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat adanya penurunan pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis subsidi baik itu Jenis BBM Tertentu (JBT) solar maupun Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite.

Buktinya, mengacu data paparan BPH Migas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR, Selasa (27/1/2026), serapan JBKP Pertalite mencapai 89,86% atau hanya 28,06 juta KL dari target kuota yang ditetapkan 2025 mencapai 31,23 juta KL

Sementara untuk JBT solar hanya terealisasi 97,49% atau 18,4 juta Kilo Liter (KL) dari target kuota yang ditetapkan tahun 2025 mencapai 18,88 juta KL.

"Di dalam distribusi realisasi Januari sampai Desember, bahwasanya BPH Migas telah mengawal dengan baik, distribusi semuanya lancar," terang Kepala BPH Migas Wahyudi Anas dalam RDP dengan Komisi XII DPR, dikutip Rabu (28/1/2026).

Atau menurunnya serapan BBM subsidi tersebut, BPH Migas mencatat adanya penghematan subsidi dan kompensasi di tahun 2025 mencapai Rp 4,98 triliun yang terdiri dari JBT Solar sebanyak Rp 2,1 triliun, JBKP Pertalite Rp 2,7 triliun dan JBT minyak tanah Rp 0,122 triliun.

"Kompensasi negara semua terpenuhi dan lancar," ungkap Wahyudi.

Kuota 2026

Sementara itu, pada tahun 2026 ini, BPH Migas telah menetapkan kuota BBM Solar dan Pertalite dengan rincian kuota BBM jenis Pertalite sebesar 29,2 juta KL dan Solar subsidi sebesar 18,6 juta KL serta minyak tanah sebesar 526 ribu KL.

"Kami BPH telah menetapkan penyaluran kuota JBT dan JBKP tahun 2026 untuk minyak tanah 526.000 kiloliter, kemudian minyak solar 18.636.500 kiloliter, kemudian JBKP Pertalite 29.267.947 kiloliter," ujar Wahyudi.

Selain kuota BBM, BPH Migas juga memaparkan program strategis sektor hilir migas tahun 2026. Salah satunya adalah pembangunan lembaga penyalur BBM Satu Harga. Pada 2026 BPH Migas menargetkan pembangunan 55 lembaga penyalur baru, sehingga secara kumulatif mencapai 654 lembaga penyalur.

Sementara itu, untuk pengawasan operasional BBM Satu Harga, BPH Migas menargetkan 71 lembaga penyalur, dengan total kumulatif mencapai 654 lembaga penyalur.

Sedangkan untuk sektor gas bumi, BPH Migas menargetkan penambahan jaringan transmisi dan distribusi sepanjang 50 kilometer. Adapun volume pengangkutan dan niaga gas bumi melalui pipa ditargetkan mencapai 1,54 miliar MSCF.

"Selanjutnya, PNBP BPH Migas, kami targetkan Rp 1,295 triliun. Untuk program strategis, kami laporkan kepada pimpinan dan seluruh anggota bahwasannya program pemanfaatan langsung kepada masyarakat yang kami siapkan sebanyak Rp28,61 miliar, dengan program ada delapan kegiatan," kata dia.

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kuota BBM Bersubsidi Dipatok 19,162 juta KL Dalam RAPBN 2026


Most Popular
Features