MARKET DATA
Internasional

NATO Minggir! Dunia Punya Geng Baru, Namanya 'Klub Nuklir'

sef,  CNBC Indonesia
27 January 2026 22:00
Gambar yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) resmi Korea Utara, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi lokasi pembangunan kapal selam bertenaga nuklir seberat 8.700 ton yang mampu meluncurkan rudal permukaan-ke-udara, 25 Desember 2025. (KCNA via REUTERS)
Foto:Ilustrasi (KCNA via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia kini punya geng baru. Geng ini merupakan "klub nuklir".

Hal ini dikatakan mantan (eks) presiden Rusia, yang juga sekutu Presiden Vladimir Putin, Dmitry Medvedev. Menurutnya, kondisi saat ini memperlihatkan bagaimana jumlah negara dengan senjata nuklir segera bertambah.

"Beberapa negara akan mempertimbangkan opsi optimal memiliki senjata nuklir," ujarnya dimuat Newsweek, Selasa (27/1/2026).

"Saya percaya bahwa 'klub nuklir' akan ramai muncul ke depan," tegasnya.

Pernyataan Medvedev ini merujuk kemungkinan konsekuensi dari berakhirnya perjanjian proliferasi nuklir bulan depan. Ini merupakan kesepakatan yang disepakati secara internasional oleh sejumlah negara tentang pembatasan senjata nuklir.

Merujuk Kommersant, Putin belum menerima tanggapan atas tawaran Moskow kepada Washington untuk memperpanjang perjanjian New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) yang membatasi persaingan nuklir. Padahal perjanjian berakhir 5 Februari.

Sementara itu, Gedung Putih mengatakan Presiden AS Donald Trump akan memutuskan jalan ke depan dalam pengendalian senjata nuklir. "Dia klarifikasi sesuai jadwalnya sendiri," tambah Washington.

Sebelumnya, New START membatasi senjata nuklir AS dan Rusia, yang memiliki 90% dari persediaan senjata nuklir dunia. Selain membatasi persenjataan pada 1.550 hulu ledak yang dikerahkan dan 700 rudal jarak jauh dan pesawat pembom berat yang dikerahkan masing-masing, perjanjian ini juga memungkinkan berbagi data, pemantauan, dan inspeksi untuk memverifikasi kepatuhan dan merupakan rem terhadap persaingan nuklir yang tidak terkendali.

Februari 2023, Putin sempat mengumumkan bahwa Rusia akan menangguhkan partisipasinya dalam New START karena dukungan Washington untuk Ukraina. AS yang kala itu di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden kemudian meniru langkah tersebut.

Setelah Trump kembali menjabat pada Januari 2025, Putin menyerukan keterlibatan bilateral dalam pengendalian senjata. Ia tak bersikeras mengakhiri bantuan militer AS ke Ukraina. 

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Putin Buka-bukaan Mau Luncurkan Senjata Nuklir Baru, Rusia Mendominasi


Most Popular
Features