RI-Kamboja "4 Mata" soal Penipuan Online, Ini Hasilnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia menegaskan dukungannya terhadap upaya Pemerintah Kamboja dalam memberantas kejahatan transnasional, khususnya sindikat penipuan daring atau online scam. Dukungan tersebut disampaikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Kamboja, Santo Darmosumarto, saat melakukan pertemuan dengan Presiden Senat sekaligus mantan Perdana Menteri (PM) Kamboja, Samdech Techo Hun Sen di Solidarity Palace, Phnom Penh, Senin waktu setempat.
Dalam pertemuan itu, Santo menekankan pentingnya kerja sama lintas negara untuk menghadapi kejahatan terorganisasi berskala internasional. "Kejahatan lintas negara hanya dapat ditanggulangi melalui kerja sama intensif, baik di tingkat bilateral maupun regional," ujar Santo dalam pernyataan yang diterima CNBC Indonesia, Selasa (27/1/2025).
Hal sama juga dikatakan Hun Sen yang menegaskan bahwa upaya pemberantasan sindikat penipuan daring di Kamboja telah dimulai sejak lama. Namun, menurutnya, hasil yang signifikan baru terlihat dalam beberapa waktu terakhir.
Sementara itu, selain isu pemberantasan kejahatan siber, Dubes RI juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kamboja terhadap upaya Kedutaan Besar RI di Phnom Penh dalam memberikan pelayanan dan perlindungan kepada Warga Negara Indonesia (WNI). Apresiasi tersebut khususnya terkait penanganan arus kedatangan WNI yang keluar dari berbagai pusat penipuan daring di Kamboja belakangan ini.
Sebelumnya, sebanyak 2.117 WNI di Kamboja mengajukan fasilitas pemulangan ke Indonesia. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah.
Dijelaskan, lonjakan pengajuan permohonan fasilitasi pemulangan ini merupakan dampak langsung dari razia yang dilakukan Pemerintah Kamboja terhadap pusat-pusat penipuan online. Ini menyebabkan banyak warga negara asing, termasuk WNI, keluar dari lokasi sindikat.
Setelah penangkapan sejumlah otak pelaku (mastermind) sindikat scam/penipuan online di berbagai kota di Kamboja, banyak jaringan sindikat yang memilih membubarkan diri secara mendadak dan membiarkan para pekerjanya keluar begitu saja. Akibatnya, para WNI yang sebelumnya terjebak melakukan perjalanan jauh dari provinsi terpencil seperti Banteay Meanchey dan Mondulkiri, menuju ibu kota Phnom Penh demi mencari perlindungan.
Sebagai informasi, Pemerintah Kamboja di bawah kepemimpinan PM Hun Manet memang tengah melakukan pembersihan besar-besaran terhadap industri gelap ini. Hal inilah yang kemudian memicu lonjakan gelombang kedatangan WNI ke KBRI setelah berhasil keluar dari lokasi sindikat yang tersebar di wilayah Kamboja.
(sef/sef)[Gambas:Video CNBC]