MARKET DATA
Internasional

Negara Kaya Mau Batasi Kerja Part Time, Semua Jadi Full Time

sef,  CNBC Indonesia
27 January 2026 03:00
Penumpang berjalan melewati kios check-in mandiri di terminal keberangkatan selama aksi mogok 24 jam di bandara Berlin yang diserukan oleh serikat pekerja Jerman Verdi akibat perselisihan upah di Berlin, Jerman, 10 Maret 2025. (REUTERS/Annegret Hilse)
Foto: Ilustrasi Jerman (REUTERS/Annegret Hilse)

Jakarta, CNBC Indonesia - Partai konservatif yang berkuasa di Jerman telah mengusulkan pembatasan hak untuk bekerja paruh waktu (part time), guna mendorong lebih banyak orang bekerja penuh waktu (full time). Ini terjadi di tengah stagnasi perekonomian yang dialami raksasa Eropa tersebut.

Mengutip AFP Senin (26/1/2026), Kanselir Friedrich Merz dari partai CDU sayap kanan tengah, menyatakan bahwa lebih banyak pekerjaan dan produktivitas diperlukan untuk memicu perubahan. Di Jerman, banyak orang- sebagian besar perempuan- bekerja paruh waktu, sementara industri utama telah lama menghadapi kekurangan tenaga kerja terampil yang akut.

Komentar Merz ini juga didukung Menteri Ekonomi Katherina Reiche. Selama kunjungan ke kota Hamburg, menteri yang juga berasal dari CDU tersebut menyerukan lebih banyak pekerjaan penuh waktu akan dikombinasikan dengan pilihan penitipan anak untuk keluarga atau perawatan untuk tanggungan.

Berdasarkan rencana ini, pekerjaan paruh waktu hanya akan diizinkan untuk alasan tertentu seperti membesarkan anak, merawat kerabat, atau pelatihan kejuruan. Pembahasan kongres segera dimulai di bulan Februari.

Tak pelak usulan tersebut memicu kritik. Mulai dari partai SPD sayap kiri tengah, mitra dalam koalisi pemerintahan, hingga serikat pekerja setempat.

"CDU sebaiknya tidak terus mengarahkan bahwa orang-orang di Jerman tidak cukup bekerja," kata Perdana Menteri (PM) Negara Bagian Mecklenburg-Western Pomerania, Manuela Schwesig, kepada majalah Stern.

"Masalahnya bukan kurangnya kemauan atau kinerja, tetapi kondisi yang tidak memadai bagi mereka yang tidak dapat bekerja penuh waktu," kata Ketua Serikat Pekerja IG Metall, Christiane Benner, dalam konferensi pers di Frankfurt.

Sebelumnya, Merz memicu kontroversi ketika ia mengkritik aturan cuti sakit di Jerman. Menurutnya kebijakan saat ini "berlebihan".

Ia mencatat bahwa pekerja rata-rata hampir tiga minggu cuti setahun karena sakit. Dirinya pun mempertanyakan mengapa mereka diizinkan untuk mendapatkan surat keterangan sakit dengan berkonsultasi dengan dokter melalui telepon.

 

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tsunami PHK Otomotif Berlanjut, 114 Ribu Lapangan Kerja 'Hilang'


Most Popular
Features