RI 'Mabuk' Gandum, Ekonom Sarankan Beralih ke Singkong
Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonom INDEF menyoroti Indonesia yang 'mabuk' atau ketergantungan terhadap gandum. Pasalnya hal ini membuat RI rawan terjadi instabilitas pangan.
Peneliti INDEF Ariyo D.P. Irhamna mengatakan bahwa konsumsi tepung di Indonesia tinggi, padahal impor.
"Konsumsi komoditas tepung di mana tepung ini kita nggak bisa produksi tapi impor. Selalu impor ya dari luar negeri itu per kapita kita itu naik misalnya misalnya di tahun 2013 sampai tahun 2022 untuk konsumsi tepung itu gandum itu naik dua kali lipat 2,29 lipat," ucapnya saat diskusi publik INDEF dikutip pada Rabu (22/1/2026).
Ario mengatakan bahwa ketergantungan akan gandum yang tinggi dapat menjadikan ketahanan pangan kita akan makin rapuh.
"Ketergantungan kita kepada gandum itu akan menjadikan ketahanan pangan kita akan makin rapuh. Misalnya kalau ada shok harga dan sebagainya akan terpengaruh," ucapnya.
Maka dari itu, menurut Ario pemanfaatan singkong akan lebih optimal dalam menjaga ketahanan pangan RI.
"Cassava (singkong) itu kita akan membawa apa namanya ketahanan pangan kita lebih kuat," ucapnya.
Selain itu, pemanfaatan singkong akan memberikan efek positif kepada petani di dalam negeri.
"Kalau dan semakin banyak orang meng-utilize apa namanya produksi pangan domestik, multiplier effect yang akan dirasakan oleh eh petani di dalam negeri akan eh semakin bermanfaat juga," ujarnya.
"Beda misalnya Rp1 juta di spending buat cassava (singkong), Rp1 juta buat beli gandum, produk gandum. Manfaatnya itu akan lebih banyak Rp1 juta itu untuk beli kasava, beli singkong karena berarti ngalirnya di dalam negeri karena itu dari domesti. Tapi kalau gandum jelas impor," imbuhnya.
(haa/haa)[Gambas:Video CNBC]