Dirut PLN Buka-Bukaan Perjuangan Melistriki Daerah Bencana Aceh-Sumut
Jakarta, CNBC Indonesia - PT PLN (Persero) mengungkapkan kisah di balik upaya pemulihan sistem kelistrikan di wilayah bencana Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Perusahaan setrum pelat merah tersebut mengerahkan segala upaya, mulai dari penggunaan alutsista militer hingga modifikasi teknis darurat di lapangan, demi menghandirkan terang bagi warga terdampak.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menceritakan bahwa skala kerusakan pada bencana yang terjadi kali ini merupakan tantangan terberat yang pernah dihadapi perusahaan, bahkan jika dibandingkan dengan bencana besar sebelumnya.
Ia membandingkan dampak bencana ini dengan Tsunami Aceh tahun 2004 silam, di mana kerusakan infrastruktur kelistrikan saat ini jauh lebih meluas dan tersebar di ratusan titik yang sulit dijangkau.
"Pertama adalah dulu ada bencana namanya tsunami Aceh. Dalam bencana tsunami Aceh, titik kerusakan sistem kelistrikan di PT PLN Persero ada di delapan titik kerusakan. Nah kali ini, kerusakan di Aceh saja itu ada 442 titik lokasi, itu hanya di Aceh. Belum lagi di Sumatera Utara maupun di Sumatera Barat," ungkap Darmawan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Darmawan menjabarkan, yang menjadi tantangan terbesar di lapangan adalah akses logistik yang terputus akibat longsor dan banjir yang mengubah jalur evakuasi. Untuk mengangkut menara darurat (tower emergency) dan kabel ke lokasi vital, PLN harus bekerja sama dengan TNI Angkatan Udara menggunakan pesawat Hercules hingga helikopter karena jalur darat lumpuh.
"Untuk itulah kami mengakui kedigdayaan tim PLN yang biasanya bisa bekerja dengan sangat-sangat lincah itu pertama kali kami mengakui kami dikalahkan oleh alam. Jadi kami tidak bisa mengangkut barang-barang kami ke lokasi tower sampai kemudian seminggu kemudian ternyata jalan darat dari Banda Aceh sampai ke Bireuen bisa dipulihkan," tambahnya.
Adapun, tim teknis PLN melakukan improvisasi dan inovasi darurat demi melistriki wilayah terdampak bencana tersebut. Salah satunya adalah memodifikasi alat berat crane menjadi menara listrik darurat setinggi 54 meter untuk membentangkan kabel di lokasi yang sulit, serta menemukan titik tanah keras di tengah rawa banjir untuk mendirikan tiang penyangga.
"Saya kalau sebagai Dirut ditanya saya sudah speechlessbagaimana tim kami di PLN itu berjuangnya sudah di luar batas kekuatan manusia dan bisa bertahan. Saya ketemu Pak Edwin (Direktur Transmisi) di sana nginapnya di tenda tidak pernah lagi tinggal itu toilet pun saya tanya toiletnya ada di mana? Ya di mana saja Pak," cerita Darmawan.
Selain kendala teknis, Darmawan juga menyoroti gotong royong yang luar biasa antara petugas PLN, TNI, Polri, dan masyarakat setempat.Proses penarikan kabel (stringing) yang berat harus dibantu ditarik secara manual oleh puluhan warga dan aparat karena keterbatasan kapasitas alat berat yang bisa diangkut oleh helikopter ke lokasi terisolir.
"Kami ada di lapangan selama berminggu-minggu dan pertama kali kami merasakan bahwa kami adalah manusia yang sangat kecil melawan kekuatan dari Tuhan Yang Mahakuasa dan alam. Tim kami memberikan yang terbaik di luar batas kemampuan kemanusiaan," pungkasnya.
Saat ini, progres normalisasi pasokan listrik di lapangan yang menunjukkan tren positif. Dalam catatannya, pemulihan di Sumatera Barat telah tuntas sepenuhnya sejak akhir Desember lalu, sementara wilayah Sumatera Utara dan Aceh kini telah mencapai rasio pemulihan di atas 99% meski sempat terkendala longsor susulan.
Khusus untuk wilayah Aceh, tantangan pemulihan dinilai paling berat karena melibatkan kerusakan infrastruktur transmisi utama yang sangat masif. Kendati demikian, PLN berhasil menyalakan kembali listrik di sebagian besar wilayah, menyisakan 60 desa yang masih terisolir akibat akses jalan yang terputus.
(pgr/pgr)[Gambas:Video CNBC]