MARKET DATA

Produksi Batu Bara-Nikel Dipangkas, Duit Setoran ke Negara Aman?

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
20 January 2026 20:05
A worker uses the tapping process to separate nickel ore from other elements at a nickel processing plant in Sorowako, South Sulawesi Province, Indonesia March 1, 2012. REUTERS/Yusuf Ahmad
Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa pemangkasan target produksi batu bara dan nikel di dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 tidak akan berdampak terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan meski terdapat pengurangan terhadap target produksi nikel, ia optimistis target PNBP akan tetap tercapai seiring tren kenaikan harga komoditas.

"Kita juga mempertimbangkan itu, maksudnya sekarang harga juga naik kan. Terus ada beberapa komoditas lain kayak timah juga naik, terus kemudian nikel, emas, dan lain sebagainya. Jadi mudah-mudahan achieve lah," ungkap Tri saat ditemui di Gedung DPR RI, dikutip Selasa (20/1/2026).

Ia pun memproyeksikan target PNBP 2026 di sekitar Rp 134 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan target PNBP pada tahun 2025 yang ditetapkan sebesar Rp 124,7 triliun.

Di sisi lain, Tri mengatakan pemangkasan produksi nikel di dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 direncanakan sekitar 250-260 juta ton.

Adapun, seiring dengan adanya pemangkasan produksi domestik tersebut, ia menegaskan pemerintah tidak mempermasalahkan jika smelter dalam negeri mengimpor bijih nikel, khususnya dari Filipina.

Apalagi, volume impor dari Filipina diperkirakan tidak akan melonjak signifikan dan berada di kisaran 10-15 juta ton.

"Ya nggak papa impor, kan selama ini Filipina kan gak tinggi," ujarnya.

Seperti diketahui, selain pemangkasan produksi bijih nikel, pemerintah juga memutuskan untuk memangkas produksi batu bara pada tahun ini. Produksi batu bara pada 2026 direncanakan turun menjadi kurang lebih 600 juta ton menjadi 790 juta ton pada 2025.

(ven/wia)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Wamen ESDM Catat PNBP Sektor ESDM Tembus Rp 210,90 Triliun


Most Popular
Features