MARKET DATA
Internasional

Iran Mendadak Sunyi Senyap Usai Pembunuhan Massal-Mayat Berhamburan

Redaksi,  CNBC Indonesia
17 January 2026 06:45
Warga Iran menghadiri unjuk rasa pro-pemerintah di Taheran, Iran, Senin (12/1/2026). (Stringer/WANA via REUTERS)
Foto: Warga Iran menghadiri unjuk rasa pro-pemerintah di Taheran, Iran, Senin (12/1/2026). (Stringer/WANA via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi brutal pemerintah Iran terhadap warganya telah membuat negara lumpuh. Mata uang Rial anjlok gila-gilaan, internet mati total, belum lagi korban berjatuhan 'dihabisi' pemerintah sendiri.

Tindakan keras pemerintah tampaknya 'berhasil' meredam aksi protes besar-besaran warga yang dimulai sejak 28 Desember 2025, dikutip dari Reuters, Sabtu (17/1/2026. Protes itu meletus lantaran inflasi yang melonjak dan menyebabkan ekonomi lumpuh.

Kelompok Hak Asasi Manusia dan warga setempat melaporkan kondisi Iran tampak 'sunyi senyap' pasca berhari-hari chaos. Media pemerintah melaporkan lebih banyak penangkapan, di tengah ancaman berulang AS untuk 'campur tangan' jika pembunuhan terus berlanjut.

Prospek serangan AS surut ketika Presiden Donald Trump mengaku mendapat laporan bahwa pembunuhan di Iran mereda. Kendati demikian, aset militer AS diperkirakan akan lebih banyak Iran, menunjukkan ketegangan yang berkelanjutan.

Sekutu AS, termasuk Arab Saudi dan Qatar, melakukan diplomasi intensif dengan Washington pada pekan ini untuk mencegah serangan yang direncanakan negara adikuasa tersebut. Para sekutu memperingatkan dampak bagi kawasan Timur Tengah yang lebih luas dan pada akhirnya akan turut berefek ke AS, kata seorang pejabat, dikutip dari Reuters.

Kepala intelijen Israel, David Barnea, juga berada di AS pada Jumat (16/1) untuk pembicaraan tentang Iran, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut. Seorang pejabat militer Israel mengatakan pasukan negara itu berada dalam 'kesiapan puncak'.

Gedung Putih mengatakan Trump dan timnya telah memperingatkan Teheran bahwa akan ada konsekuensi serius jika terjadi pertumpahan darah lebih lanjut. Ditekankan pula bahwa Tump tetap mempertimbangkan semua opsi yang ada.

Saat pemadaman internet mereda pekan ini, mulai bermunculan laporan-laporan tentang kekerasan yang terjadi di Iran. Seorang wanita di Teheran mengatakan kepada Reuters melalui telepon bahwa putrinya tewas setelah bergabung dengan demonstrasi di dekat rumah mereka.

"Dia berusia 15 tahun. Dia bukan teroris, bukan perusuh. Pasukan Basij mengikutinya saat dia mencoba pulang," katanya, merujuk pada cabang pasukan keamanan yang sering digunakan untuk meredam kerusuhan.

AS diperkirakan akan mengirimkan kemampuan ofensif dan defensif tambahan ke wilayah tersebut, tetapi susunan pasti pasukan tersebut dan waktu kedatangannya masih belum jelas, kata seorang pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim.

Komando Pusat militer AS menolak berkomentar, dengan mengatakan bahwa mereka tidak membahas pergerakan kapal.

Beberapa warga Teheran mengatakan ibu kota itu sudah mulai tenang. Namun, mereka mengatakan drone tetap siaga terbang di atas kota, meski sudah tidak ada tanda-tanda protes.

Kelompok hak asasi manusia Iran-Kurdi Hengaw mengatakan tidak ada demonstrasi sejak akhir pekan lalu, tetapi lingkungan keamanan tetap sangat ketat.

"Sumber independen kami mengkonfirmasi kehadiran militer dan keamanan yang besar di kota-kota tempat protes sebelumnya terjadi, serta di beberapa lokasi yang tidak mengalami demonstrasi besar," kata Hengaw yang berbasis di Norwegia dalam komentarnya kepada Reuters.

Seorang warga lain di sebuah kota di utara Laut Kaspia mengatakan jalanan juga tampak tenang. Warga tersebut menolak untuk disebutkan namanya demi keselamatan mereka.

Kerusuhan Sporadis

Namun, ada indikasi kerusuhan terjadi di beberapa daerah secara sporadis. Hengaw melaporkan bahwa seorang perawat wanita tewas akibat tembakan langsung dari pasukan pemerintah selama protes di Karaj, sebelah barat Teheran. Reuters tidak dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.

Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan negara melaporkan bahwa para demonstran membakar kantor pendidikan setempat di Kabupaten Falavarjan, di provinsi Isfahan tengah, pada pekan lalu.

Seorang warga lanjut usia di sebuah kota di wilayah barat laut Iran, tempat banyak warga Kurdi Iran tinggal dan yang telah menjadi fokus dari banyak kerusuhan terbesar, mengatakan bahwa protes sporadis terus berlanjut, meskipun tidak seintens sebelumnya.

"Saya belum pernah melihat pemandangan seperti itu sebelumnya," kata dia, merujuk pada aksi kerusuhan beberapa saat lalu.

Video yang beredar online, yang dapat diverifikasi oleh Reuters sebagai rekaman di pusat medis forensik di Teheran, menunjukkan puluhan mayat tergeletak di lantai dan tandu, sebagian besar di dalam kantong tetapi beberapa tidak tertutup. Reuters tidak dapat memverifikasi tanggal video tersebut.

Stasiun televisi milik negara, Press TV, mengutip pernyataan kepala kepolisian Iran yang mengatakan bahwa situasi telah kembali tenang di seluruh negeri.

Ribuan Korban Jiwa

Jumlah korban tewas yang dilaporkan oleh kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, HRANA, hanya sedikit meningkat pekan ini, saat ini mencapai 2.677 orang, termasuk 2.478 demonstran dan 163 orang yang diidentifikasi berafiliasi dengan pemerintah.

Reuters belum dapat memverifikasi secara independen jumlah korban tewas HRANA. Seorang pejabat Iran mengatakan kepada kantor berita tersebut awal pekan ini bahwa sekitar 2.000 orang telah tewas.

Jumlah korban jiwa jauh lebih besar daripada jumlah korban tewas dari kerusuhan sebelumnya yang telah diredam oleh negara.

Otoritas Iran menuduh musuh asing menghasut protes dan mempersenjatai orang-orang yang mereka identifikasi sebagai teroris untuk menargetkan pasukan keamanan dan melakukan serangan.

HRANA melaporkan bahwa lebih dari 19.000 orang telah ditangkap, tetapi kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan negara mengatakan 3.000 orang telah ditahan.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Negeri Musuh Besar AS Chaos, Demo Menggila-Internet Mati Total


Most Popular
Features