MARKET DATA

Breaking! Kilang Terbesar Diresmikan Prabowo, RI Kurangi Impor BBM

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
12 January 2026 17:47
Presiden Prabowo Subianto saat melakukan Peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). (Tangkapan Layar Youtube/KementerianESDM)
Foto: Presiden Prabowo Subianto saat melakukan Peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). (Tangkapan Layar Youtube/KementerianESDM)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto baru saja meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RMDP) Balikpapan, Kalimantan Timur, hari ini, Senin (12/01/2026).

Proyek RDMP Balikpapan ini merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikerjakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB). Perusahaan ini merupakan anak usaha dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Subholding Pengolahan dan Petrokimia milik PT Pertamina (Persero).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, dengan diresmikannya proyek RDMP Balikpapan ini, maka Indonesia akan mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Pasalnya, proyek dengan nilai investasi US$ 7,4 miliar atau sekitar Rp 123 triliun ini menambah kapasitas pengolahan minyak mentah sebesar 100 ribu barel per hari (bph).

RDMP Balikpapan ini kini memiliki kapasitas pengolahan minyak mentah 360.000 bph, naik 100.000 bph dari sebelumnya 260.000 bph.

"Proyek ini investasi US$ 7,4 miliar atau Rp 123 triliun, ini RDMP terbesar Indonesia, dan dilakukan dengan menghasilkan 260 ribu barel jadi 360 ribu barel (per hari). Menuju ke EURO V dan menuju Net Zero Emissions," ungkap Bahlil saat acara peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/01/2026).

Bahlil menjelaskan, dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, maka ini akan menekan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) RI. Dari sisi bensin, dia menyebut, RDMP Balikpapan akan menambah produksi bensin sebesar 5,8 juta kilo liter (kl), sehingga akan mengurangi impor BBM bensin sebesar 5,8 juta kl.

Begitu juga dengan impor BBM Solar. Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan ini, ditambah dengan program mandatori Biodiesel 40% (B40) dan Biodiesel 50% (B50) pada tahun ini, maka RI bukan cuma akan mengurangi impor Solar, namun juga akan surplus BBM Solar.

"Dengan RDMP ini menghemat devisa kurang lebih Ro 60 triliun lebih. Karena nambah 100 ribu barel (bph). Dengan bensin kita menghasilkan 5,8 juta kl per tahun. Konsumsi bensin sekarang 38 juta kl per tahun. Produksi dalam negeri kita 14,25 juta. Denagn penambahan 5,8 juta (kl), maka impor bensin tinggal 19 juta kl," papar Bahlil.

"Sementara Solar tahun ini perintah Presiden, maka mulai yang kita bicara ini tidak ada impor Solar ke depan. Karena kebutuhan Solar kita total 38 juta, dengan B40 B50, dengan ini kita tambah 5 juta, impor kita tinggal 5 juta, jadi tertutupi, bahkan surplus 1,4 juta. Itu untuk Solar C48. Sementara C51 impor hanya 600 ribu kl. Nanti Semester kedua saya minta Pertamina bangun supaya gak impor lagi," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri pun membeberkan sejumlah fakta terkait proyek RDMP Balikpapan ini di hadapan Presiden Prabowo.

Dia menjelaskan, proyek RDMP Balikpapan ini merupakan terintegrasi hulu-hilir minyak dan gas bumi, berikut beberapa rincian proyek di dalamnya:

1. Pembangunan pipa gas pasokan bahan bakar kilang dari Senipah ke Balikpapan sepanjang 78 km berdiameter 20 inch dengan kapasitas 125 MMSCFD.

2. Pembangunan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC)

"RDMP, jantungnya adalah RFCC, di situ residu yang biasa tidak diolah sekarang diolah," ucap Simon.

3. Peningkatan kapasitas pengolahan minyak mentah atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan dari kapasitas 260 ribu barel per hari (bph) menjadi 360 ribu bph.

4. Kualitas produk setara standar EURO V.

5. Terminal tangki timbun BBM dan Terminal Tanjung Batu berkapasitas 125.000 KL, serta empat dermaga.

6. Penambahan kapasitas tangki timbun minyak mentah (crude oil) Lawe-Lawe sebesar 2 juta barel, dari 5,6 juta barel menjadi 7,6 juta barel.

"Dengan demikian ini wujud, kemudian tonggak sejarah bangsa meningkatkan kemandirian kita di bidang energi, kita menunjukkan berdiri di kaki sendiri, dan menunjukan ke swasembada energi," ungkap Simon.

Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan ini, maka ini menjadikan Kilang Balikpapan sebagai kilang minyak terbesar RI dengan kapasitas 360.000 bph, menyalip Kilang Cilacap yang berkapasitas 348.000 bph.

(wia)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bahlil Kirim Tim ke Afrika Demi Kaji Bangun Kilang, Gimana Hasilnya?


Most Popular
Features