MARKET DATA

Setahun Prabowo, Produksi Minyak RI Sudah Lampaui Era Jokowi

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
12 January 2026 17:07
Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan sambutan dalam Peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). (Tangkapan Layar Youtube/KementerianESDM)
Foto: Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan sambutan dalam Peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). (Tangkapan Layar Youtube/KementerianESDM)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa realisasi produksi (lifting) minyak Indonesia selalu meleset dari target selama beberapa tahun terakhir. Namun, kondisi tersebut berbalik di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Bahlil, target lifting minyak akhirnya baru pertama kalinya tercapai, dalam 10 tahun terakhir. Dia menyebut, pada tahun 2026 rata-rata lifting minyak bumi mencapai target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yakni tercatat sebesar 605,3 ribu barel per hari (bph).

"Alhamdulillah, sejak 10 tahun terakhir lifting kita nggak pernah tercapai. Baru di 2026 lifting minyak kita mencapai, bahkan melampaui target APBN," kata Bahlil dalam acara peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/01/2026).

Ia lantas membeberkan bahwa produksi minyak lifting Indonesia pada tahun 2024 hanya mencapai 580 ribu barel per hari (bph). Artinya, terdapat penambahan sekitar 25 ribu barel selama ia menjabat sebagai Menteri ESDM.

Menurut Bahlil, peningkatan produksi minyak tersebut tak terlepas dari upaya pemerintah dalam mengoptimalkan pengelolaan sumur-sumur minyak idle di Indonesia. Sehingga berdampak pada kenaikan produksi.

"Sumur-sumur tua kita kita dorong dengan teknologi, percepatan tender-tender lapangan baru pun kita lakukan, dan kita melaksanakan mandatori B40," katanya.

Sebagaimana diketahui, RDMP Balikpapan merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikerjakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB). KPB sendiri merupakan anak usaha dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Subholding Pengolahan dan Petrokimia milik PT Pertamina (Persero).

Proyek RDMP Balikpapan merupakan salah satu contoh konkret keberhasilan pengawalan kebijakan tersebut. Proyek strategis nasional ini dimulai pada 2019 dan sempat mengalami perlambatan akibat pandemi COVID-19.

Namun, dengan konsistensi arah kebijakan dan komitmen kuat Kementerian ESDM, proyek ini tetap diselesaikan hingga dapat beroperasi penuh.

Proyek senilai US$ 7,4 miliar atau setara Rp 123 triliun ini tidak hanya meningkatkan kapasitas menjadi 360 ribu barel per hari (bph), tetapi juga menaikkan porsi produk bernilai tinggi dari 75,3% menjadi 91,8%. Kualitas produk telah setara EURO V, sementara kompleksitas kilang meningkat signifikan dari 3,7 menjadi 8.

Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, produksi dalam negeri akan diperkuat melalui tambahan gasoline, diesel, avtur, LPG, serta produk petrokimia seperti propilena. Total produksi ini berpotensi menurunkan nilai impor BBM hingga sekitar Rp68 triliun per tahun.

Selain itu, proyek ini juga menyerap puluhan ribu tenaga kerja, meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, serta memberi kontribusi signifikan terhadap PDB nasional hingga Rp514 triliun.

Salah satu unit kunci dalam pengembangan kilang terintegrasi ini adalah Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Unit ini menjadi simbol keberhasilan strategi hilirisasi migas yang selama ini didorong oleh pemerintah, karena memungkinkan konversi residu menjadi BBM dan produk bernilai tambah tinggi, sekaligus meningkatkan efisiensi dan daya saing kilang nasional.

(ven/ven)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Produksi Minyak RI Ditargetkan Capai 900 Ribu-1 Juta Barel Tahun 2029


Most Popular
Features