MARKET DATA
Internasional

Putra Mahkota Raja Iran Tiba-Tiba Muncul Respons Protes, Serukan Ini

tfa,  CNBC Indonesia
12 January 2026 14:00
Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi. (Tangkapan Layar Video/REUTERS)
Foto: Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi. (Tangkapan Layar Video/REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah meluasnya protes anti-pemerintah di Iran, Reza Pahlavi, putra terakhir Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, muncul ke publik. Meski telah hidup di pengasingan selama puluhan tahun, Pahlavi yang berusia 65 tahun, menyerukan perubahan besar dan menyatakan kesiapan memimpin transisi menuju Iran yang sekuler dan demokratis.

Perlu diketahui, Reza Pahlavi tinggal di Amerika Serikat (AS) sejak sebelum ayahnya, Mohammad Reza Shah Pahlavi, digulingkan. Melalui pesan-pesan video yang diunggah di platform X, ia memuji keberanian rakyat Iran yang turun ke jalan dan menyerukan diakhirinya pemerintahan ulama yang telah berkuasa hampir setengah abad.

"Kita akan sepenuhnya membuat Republik Islam dan aparatus penindasannya yang usang dan rapuh bertekuk lutut," ujar Pahlavi dalam salah satu pesan terbarunya, seperti dikutip Reuters, Senin (12/1/2026).

Namun, seberapa besar dukungan yang benar-benar ia miliki di dalam negeri masih sulit diukur. Pemerintah AS pun tidak memberikan dukungan resmi.

Tapi, sejumlah video terverifikasi di media sosial memperlihatkan demonstran meneriakkan slogan "Hidup Shah!", menandakan adanya simpati terhadap sosok Pahlavi.Meski demikian, sebagian besar massa protes lebih menekankan tuntutan perubahan sistemik, dengan seruan seperti "Turunkan diktator!" yang ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Perlu diketahui, gelombang protes terbaru muncul dipicu kondisi ekonomi Iran yang kian memburu. Ini diperparah sanksi internasional bertahun-tahun serta dampak perang singkat selama 12 hari pada Juni lalu, ketika Israel dan kemudian Amerika melancarkan serangan udara ke Iran.

"Semua yang dipelajari Reza Pahlavi tentang memerintah negara berasal dari ayahnya yang gagal karena suatu alasan. Kita pernah memiliki Pahlavi, sekarang saatnya untuk negara yang demokratis," kata seorang warga, Azadeh, 27 tahun.

Pahlavi sendiri bukan nama baru dalam setiap gejolak politik Iran. Ia kerap menyuarakan perubahan saat krisis, termasuk pada demonstrasi besar 2009 dan protes nasional 2022 menyusul kematian Mahsa Amini.

Namun, dalam gelombang-gelombang protes sebelumnya, dukungan terbuka terhadap restorasi monarki atau figur Pahlavi relatif terbatas. Berbeda dengan Revolusi 1979 yang dipersatukan oleh figur Ayatollah Ruhollah Khomeini, oposisi Iran saat ini terfragmentasi tanpa satu pemimpin tunggal. 

"Hanya ada satu jalan untuk mencapai perdamaian: Iran yang sekuler dan demokratis. Saya di sini untuk menyerahkan diri kepada rekan-rekan sebangsa saya untuk memimpin mereka di jalan menuju transisi demokrasi," kata Pahlavi dalam pidato yang diunggah pada 23 Juni tahun lalu.

Lahir pada 1960 dan dinobatkan sebagai putra mahkota pada 1967, Pahlavi tumbuh dalam simbol kemewahan monarki Iran, gaya hidup yang kala itu turut memicu kemarahan publik di tengah inflasi tinggi dan kesenjangan sosial. Rezim ayahnya juga dikenal dengan represi keras melalui aparat keamanan SAVAK.

Di pengasingan, Pahlavi mendapat dukungan signifikan dari diaspora Iran, khususnya di AS. Ia juga sempat mengunjungi Israel pada 2023 dan bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, serta secara terbuka mendukung serangan Israel dan AS terhadap fasilitas nuklir Iran, meski menegaskan perlunya dukungan lebih besar bagi rakyat Iran.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan mendukung rakyat Iran jika aparat keamanan menembaki demonstran. Namun ia mengaku "tidak yakin apakah akan tepat" untuk bertemu dengan Reza Pahlavi.

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Kembali Disanksi, Iran Batalkan Negosiasi Proyek Nuklir


Most Popular
Features