MARKET DATA

Prabowo Akan Resmikan Kilang Minyak Terbesar, RI Siap Lepas Impor BBM

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
12 January 2026 10:18
Kilang Balikpapan milik Pertamina memiliki tangki raksasa
Foto: dok: Pertamina

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden RI Prabowo Subianto akan meresmikan proyek kilang minyak terbesar di Indonesia yakni Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur pada hari ini, Senin (12/1/2026). Proyek jumbo tersebut digadang-gadang akan membuat Indonesia terbebas dari 'jerat' impor Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya jenis Solar.

Sekretaris Kabinet (Seskab) dalam akun resmi instagramnta @sekretariat.kabinet menyampaikan, bahwa rencana peresmian RDMP Balikpapan tersebut merupakan salah satu pembahasan dalam Rapat Terbatas (Ratas) Prabowo dengan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Hambalang, Bogor, Minggu (11/1/2026).

"Rencana peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan pada esok hari, Senin, 12 Januari 2026," ujar Teddy dilansir dari Instagram Sekretariat Kabinet @sekretariat.kabinet, dikutip Senin (12/1/2026).

Adapun, kilang minyak dengan nilai investasi US$ 7,4 miliar setara Rp 123 triliun tersebut dikelola oleh PT Pertamina (Persero). Proyek tersebut akan menjadi tulang punggung RI untuk lepas dari jerat impor BBM jenis solar setidaknya pada tahun 2026 ini.

Terpisah, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengatakan kebijakan penghentian solar bisa dilakukan setelah RDMP Balikpapan beroperasi optimal.

"Kita perlu kejar karena kita berharap kekuatan dari RDMP ini akan menjadi tulang punggung kita untuk bebas dari impor solar tahun 2026. Itu yang kita andalkan adalah RDMP," kata Laode dikutip Senin (12/1/2026).

Profil RDMP Balikpapan

Sebagaimana diketahui, proyek RDMP Balikpapan merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikerjakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB). Perusahaan ini merupakan anak usaha dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Subholding Pengolahan dan Petrokimia milik PT Pertamina (Persero).

Proyek strategis nasional yang dibangun sejak 2019 ini, menjadi tonggak penting dalam pengembangan infrastruktur energi nasional yang terintegrasi. Proyek tersebut mencakup sistem penerimaan minyak mentah, pengolahan, hingga penunjang keandalan rantai pasok energi secara menyeluruh.

Proyek dengan total investasi setara Rp123 triliun ini untuk memodernisasi kilang eksisting, sehingga akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak, menghasilkan BBM berkualitas tinggi dan ramah lingkungan, mendorong hilirisasi industri petrokimia, serta memperkuat ketahanan energi nasional.

RDMP Balikpapan dirancang dan dilaksanakan dalam tiga lingkup utama proyek yang saling terhubung dan terintegrasi untuk memastikan kesiapan operasional kilang serta keberlanjutan pasokan energi nasional.

Lingkup pertama adalah early work, yang mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan. Tahap ini meliputi persiapan dan pematangan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, penyediaan utilitas sementara, serta pembangunan fasilitas penunjang konstruksi.

Early work menjadi fondasi penting untuk mendukung kelancaran dan keselamatan seluruh tahapan konstruksi utama RDMP Balikpapan.

Pada lingkup kedua, Pertamina melaksanakan pengembangan dan pembangunan fasilitas utama kilang yang mencakup 39 unit, terdiri dari 21 unit proses baru serta 13 unit fasilitas utilitas pendukung. Tidak hanya membangun unit baru, proyek ini juga melakukan revitalisasi 4 unit fasilitas utama pengolahan, antara lain unit distilasi minyak mentah, unit pengolahan residu, unit hydrocracking dan hydrotreating, serta pemulihan LPG.

Pembangunan dan revitalisasi unit-unit ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pengolahan minyak mentah, sekaligus mendukung peningkatan kualitas produk BBM sesuai standar yang lebih tinggi.

Lingkup ketiga merupakan penguatan infrastruktur penerimaan dan penyaluran minyak mentah, yang mencakup pembangunan dua tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas masing-masing 1 juta barel.

Pada tahap ini, Pertamina juga membangun jaringan pipa transfer line onshore dan offshore berdiameter 20 inci, unloading line onshore dan offshore berdiameter 52 inci, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) dengan kapasitas sandar kapal hingga 320.000 DWT.

Infrastruktur ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan keandalan penerimaan minyak mentah dari kapal tanker berkapasitas besar.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron menyampaikan, RDMP Balikpapan merupakan proyek strategis yang dibangun secara terintegrasi dari penyediaan bahan baku, pipa transfer hingga produksinya.

"RDMP Balikpapan menjadi fondasi penting penguatan sistem energi nasional. Melalui pengembangan infrastruktur yang terintegrasi, Pertamina memastikan keandalan pasokan minyak mentah dan operasional kilang yang lebih efisien dan berkelanjutan," ujarnya, dikutip Sabtu (10/1/2026).

Dengan cakupan pembangunan yang komprehensif, mulai dari pekerjaan pendahuluan, pembangunan unit proses dan utilitas, hingga penguatan fasilitas penerimaan minyak mentah, RDMP Balikpapan menjadi salah satu pilar utama dalam transformasi infrastruktur energi nasional guna mendukung ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang.

"Proyek RDMP Balikpapan akan mendukung visi Asta Cita Pemerintah dalam menjaga ketahanan dan kemandirian energi nasional," pungkas Baron.

Saat ini, proyek tersebut telah memasuki tahapan operasional awal, seiring dimulainya rangkaian start-up unit utama pengolahan, yakni Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex, yang merupakan hasil modernisasi Kilang Balikpapan melalui proyek RDMP.

Sebagai unit pengolahan utama, RFCC Complex dirancang untuk mengoptimalkan pengolahan residu minyak menjadi produk bahan bakar dan petrokimia bernilai tinggi. Kehadiran fasilitas ini menjadikan Kilang Balikpapan mampu memproduksi bahan bakar berkualitas tinggi setara standar Euro 5, yang lebih bersih dan rendah emisi, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Selain itu, Kilang Balikpapan juga dapat memproduksi produk petrokimia propylene dan sulfur.

Baron juga mengatakan, RFCC Complex menjadi tulang punggung operasional Kilang Balikpapan dalam mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.

"Melalui RFCC Complex dan unit tambahan lainnya, Kilang Balikpapan mengalami peningkatan signifikan dari standar Euro 2 dengan kandungan sulfur 2.500 ppm menjadi standar Euro 5 dengan kandungan sulfur hanya 10 ppm. Selain itu, Kilang Balikpapan akan mampu menghasilkan produk petrokimia. Ini merupakan lompatan besar dalam peningkatan kualitas BBM nasional, dengan kapasitas kilang mencapai 360 ribu barel per hari serta mendukung program hilirisasi," ujar Baron, Minggu (11/01/2026).

Dia menambahkan, Proyek RDMP Balikpapan merupakan proyek modernisasi kilang terbesar di Indonesia. Dengan beroperasinya RFCC Complex, Kilang Balikpapan tidak hanya memproduksi bensin dan solar, tetapi juga mampu menambah produksi LPG serta menghasilkan produk petrokimia yang sebelumnya belum dapat dihasilkan di kilang ini.

"Penambahan produksi LPG dari Kilang Balikpapan diperkirakan mencapai 336 ribu ton per tahun, sehingga memperkuat pasokan LPG domestik dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap impor," jelasnya.

Selain meningkatkan diversifikasi produk, RFCC Complex juga memungkinkan pengolahan minyak residu yang sebelumnya sulit diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene. Inovasi ini meningkatkan nilai ekonomi kilang sekaligus memperluas kontribusi Kilang Balikpapan dalam rantai industri energi dan petrokimia nasional.

Dari sisi kinerja, kompleksitas Kilang Balikpapan meningkat signifikan, tercermin dari Nelson Complexity Index (NCI) yang melonjak dari 3,7 menjadi 8,0. Dimana semakin tinggi angkanya, menunjukkan kilang lebih kompleks, sehingga mampu menghasilkan lebih banyak produk berkualitas tinggi. Sementara itu, Yield Valuable Product (YVP) atau imbal hasil produk bernilai meningkat dari 75,3% menjadi 91,8% atau naik sekitar 16 persen, menegaskan efisiensi dan daya saing kilang yang semakin tinggi.

Impor solar RI sepanjang lima tahun terakhir

Berdasarkan data Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2024, Indonesia tercatat belum pernah absen impor solar dalam 10 tahun terakhir. Terhitung dari tahun 2019, Indonesia mengimpor produk BBM jenis solar (gasoil) hampir 4 juta kilo liter (kl) tepatnya sebanyak 3,87 juta kl.

Angka tersebut terhitung rata-rata melonjak hingga tahun 2023 yang impor solarnya mencapai 5,14 juta kl. Namun, angka impor tersebut tercatat menurun pada tahun 2024 lalu sebanyak 4,24 juta kl.

Mengingat, pada tahun 2023 Indonesia mulai memasifkan campuran produk sawit yakni biodiesel 35% (B35) pada pertengahan tahun. Meningkat komposisinya pada tahun 2025 menjadi 40% (B40) dan diyakini bisa menekan angka impor solar dalam negeri.

Berikut detail impor solar RI sejak tahun 2019-2024

2019: 3,87 juta kl

2020: 3,18 juta kl

2021: 3,19 juta kl

2022: 5,27 juta kl

2023: 5,14 juta kl

2024: 4,24 juta kl

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Siap-Siap! Kilang Minyak Terbesar RI Bakal Beroperasi 10 November 2025


Most Popular
Features