NATO Pecah! Trump Nekat Mau Rebut Greenland, Raksasa Eropa Ngamuk
Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan internal pakta pertahanan NATO berada di ambang perpecahan serius. Jerman dan Swedia secara terbuka mengecam keras pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang kembali melontarkan ancaman penggunaan kekuatan militer untuk merebut wilayah Greenland dari kedaulatan Denmark.
Para pemimpin Eropa mulai merapatkan barisan setelah Gedung Putih pekan ini menyatakan bahwa Trump ingin membeli Greenland dan menolak untuk mengesampingkan opsi aksi militer jika keinginan tersebut tidak terpenuhi.
Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson, mengutuk keras retorika Trump yang dinilai mengancam keamanan global. Pernyataan ini muncul setelah Trump berulang kali menegaskan bahwa Washington akan "melakukan sesuatu terhadap Greenland, suka atau tidak suka."
"Sebaliknya, Amerika Serikat seharusnya berterima kasih kepada Denmark, yang selama bertahun-tahun telah menjadi sekutu yang sangat setia," tegas Kristersson dalam konferensi pertahanan Swedia, mengutip AFP, Senin (12/1/2025).
Kristersson memperingatkan bahwa pengambilalihan paksa wilayah Arktik yang kaya mineral tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional yang sangat berbahaya.
"Swedia, negara-negara Nordik, Baltik, dan beberapa negara besar Eropa lainnya berdiri bersama teman-teman Denmark kami," tambahnya.
Jerman, sebagai kekuatan ekonomi terbesar di Eropa, turut pasang badan mendukung Denmark. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadehpul, menegaskan bahwa masalah kedaulatan dan wilayah Greenland sepenuhnya berada di tangan rakyat Greenland dan pemerintah Denmark.
"Kami memperkuat keamanan di Arktik bersama-sama sebagai sekutu NATO, dan bukan untuk saling melawan satu sama lain," imbuh Menteri Keuangan Jerman, Lars Klingbeil, menjelang KTT global tentang bahan baku kritis di Washington.
Di sisi lain, Komandan Tertinggi NATO di Eropa, Jenderal Alexus Grynkewich, mengakui adanya diskusi "sehat" namun pelik di internal aliansi mengenai masa depan Greenland. Meskipun Grynkewich menyatakan belum ada ancaman militer langsung, ia tidak menampik bahwa isu ini telah menjadi pembahasan di Dewan Atlantik Utara.
"Anggota aliansi sedang membicarakan dan berupaya menyelesaikan masalah-masalah berduri ini," ujarnya.
Greenland sendiri, yang merupakan bekas koloni Denmark, telah menyatakan dengan tegas melalui mayoritas penduduk dan partai politiknya bahwa mereka menolak berada di bawah kendali Amerika Serikat dan bersikeras menentukan masa depan mereka sendiri.
Trump bersikeras bahwa menguasai pulau tersebut sangat krusial bagi keamanan nasional AS guna membendung aktivitas militer Rusia dan China di kutub utara.
[Gambas:Video CNBC]