MARKET DATA

Produksi Batu Bara RI Dipangkas, Ngefek ke Harga Jangka Panjang?

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
09 January 2026 15:50
Sejumlah perahu tongkang batu bara melintas di Sungai Mahakam, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (24/7/2024). Sungai Mahakam berfungsi sebagai jalur pengangkutan batu bara. Setiap hari di sungai ini dipadati tongkang yang membawa muatan batu bara. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Sejumlah perahu tongkang batu bara melintas di Sungai Mahakam, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (24/7/2024). Sungai Mahakam berfungsi sebagai jalur pengangkutan batu bara. Setiap hari di sungai ini dipadati tongkang yang membawa muatan batu bara. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mengungkapkan, rencana pemerintah yang akan memangkas produksi batu bara tahun ini tidak berefek pada harga secara jangka panjang.

Plt Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani menjelaskan bahwa kebijakan pengurangan produksi memang bisa memberikan sentimen positif terhadap harga pasar. Namun, dia memperhitungkan efek penguatan harga tersebut kemungkinan besar hanya akan bersifat sementara atau terbatas pada jangka pendek hingga menengah.

"Penurunan target produksi berpotensi memberi dampak ke harga pada jangka pendek dan menengah. Namun tidak signifikan dan tidak berkelanjutan dalam jangka panjang, mengingat banyak faktor yang mempengaruhi seperti dinamika pasar global, permintaan dan kebijakan setiap negara," ungkap Gita kepada CNBC Indonesia, Jumat (9/1/2026).

Menurutnya, mekanisme pembentukan harga batu bara global sangat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai variabel eksternal. Faktor-faktor seperti kondisi ekonomi global hingga kebijakan energi di negara-negara importir turut memegang peranan vital yang sulit dikontrol hanya dengan mengurangi suplai dari Indonesia.

"Dari sisi industri jika dalam jangka panjang kebijakan ini dapat berdampak pada rantai usaha, termasuk volume kerja, utilisasi alat berat, jam operasi, dan tenaga kerja, terutama di tambang dengan biaya produksi tinggi," jelasnya.

Meski begitu, pihaknya tetap menghormati langkah strategis pemerintah tersebut. APBI menyatakan dukungannya terhadap upaya regulator dalam menjaga keseimbangan pasar agar harga batu bara tidak terlalu terperosok.

"Namun kami tetap mengapresiasi upaya pemerintah dalam mengendalikan produksi untuk menjaga keseimbangan pasar dan stabilitas harga," tutup Gita.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan akan menurunkan produksi batu bara dan juga nikel di tahun 2026 ini. Tujuannya, supaya harga kedua komoditas tersebut bisa 'bagus' di pasar dunia.

"Jadi produksi kita akan turunkan supaya harga bagus dan tambang kita untuk cucu kita. Bangsa ini harus berjalan terus, lingkungan kita jaga dan ini juga terjadi tidak hanya di batu bara termasuk nikel kita akan sesuaikan kebutuhan industri dan suplai ore nikel kita," terang Bahlil dalam Konferensi Pers Kinerja Sektor ESDM 2025, Kamis (8/1/2026).

Menteri Bahlil menaksirkan, bahwa paling tidak produksi batu bara di tahun ini hanya sekitar 600-an juta ton. "Kurang lebih 600 juta ton," ungkap Bahlil. Sebagaimana diketahui, pada tahun 2025, realisasi produksi batu bara mencapai 790 juta ton.

Namun sayangnya, Bahlil belum bisa menyampaikan angka pasti dari penurunan produksi nikel. Ia hanya bilang, produksi nikel akan disesuaikan dengan kebutuhan industri.

"Kami akan sesuaikan dengan kebutuhan industri dan kita akan bikin pemerataan, maksudnya industri-industri besar harus beli ore nikel dari pengusaha tambang. Jangan ada monopoli kita ingin perusahaan daerah kuat supaya ada kolaborasi, supaya hilirisasi berkeadilan. kita support tapi harus berkolaborasi," tegas Bahlil.

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Produksi Batu Bara PTBA Melejit 9% di Kuartal III-2025


Most Popular
Features