CSIS Bilang Konfik AS-Venezuela Bisa Buat Ekonomi Dunia 'Gloomy'
Jakarta, CNBC Indonesia - Tindakan Presiden Donald Trump menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro meningkatkan tensi geopolitik dan juga risiko instabilitas ekonomi dunia.
Hal ini diungkapkan oleh Peneliti Senior, Departemen Ekonomi, CSIS Deni Friawan saat acara Media Briefing: "Outlook 2026: Ancaman dan Risiko Instabilitas Ekonomi, Sosial, dan Politik" pada Rabu (7/1/2026).
"Kita hari-hari ini melihat ada peningkatan geopolitical risk eskalasi dari misalnya US attack di Venezuela. Itu juga menimbulkan instabilitas di dunia dari sisi geopolitik," ucapnya.
Seperti diketahui, AS melakukan operasi tak terduga, Sabtu lalu. AS menyerang ibu kota Venezuela, Caracas, dan "menculik" Presiden Nicolas Maduro.
Ini terjadi setelah seminggu sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menelepon Maduro secara pribadi, memintanya "pergi". "Anda harus menyerah," kata Trump menyebut percakapan tersebut ke wartawan, sebagaimana dimuat NBC.
Namun keengganan Maduro akhirnya membuat Trump nekat. Hasilnya 3 Januari lalu, Trump tak hanya membombardir Venezuela tapi juga menangkap Maduro dan membawanya ke New York.
Ketegangan geopolitik yang baru ini semakin memperbanyak katalis negatif untuk pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026. Katalis lain diungkap Deni seperti tekanan public debt besar Amerika Serikat, tarif resiprokal yang diterapkan Trump, larangan ekspor rare earth oleh China, larangan ekspor chip maker di Eropa, dan Inggris serta Jerman yang menghadapi tekanan fiskal.
"Jadi, semua itu berimplikasi bahwa perekonomian dunia, pertumbuhan di tahun 2026 akan sangat gloomy, akan lebih slowdown," tegas Deni.
Dalam proyeksi terbaru mereka, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1% pada 2026 di edisi Oktober. Sementara Bank Dunia dan OECD memperkirakan pertumbuhan ekonmi dunia akan dibawah ramalan IMF, yakni 2,4% dan 2,9%.
(ras/haa)[Gambas:Video CNBC]