MARKET DATA
INTERNASIONAL

Perang Saudara Menggila di Arab, Korban Sipil Berjatuhan

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
07 January 2026 16:20
Syrian army members take part in a military parade, as they mark the first anniversary of Bashar al-Assad's fall, in Aleppo, Syria December 8, 2025. REUTERS/Mahmoud Hassano
Foto: REUTERS/Mahmoud Hassano

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Suriah utara mencapai titik didih pada Selasa (6/1/2026). Bentrokan paling mematikan sejauh ini pecah antara pasukan pemerintah Suriah dan pejuang Kurdi di wilayah yang diperebutkan di kota Aleppo. Insiden ini terjadi di tengah buntunya upaya integrasi pasukan Kurdi ke dalam militer nasional.

Kantor berita pemerintah Suriah, SANA, melaporkan bahwa seorang tentara tewas dan tiga lainnya luka-luka akibat serangan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat. Media pemerintah juga menyebutkan tiga warga sipil tewas dan sembilan pegawai Direktorat Pertanian Aleppo terluka akibat penembakan yang dituduhkan kepada SDF.

Pihak SDF dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Melalui pernyataan resminya, SDF mengklaim bahwa proyektil yang jatuh di lingkungan al-Midan berasal dari faksi-faksi yang berafiliasi dengan pemerintah Damaskus. SDF justru menuding balik militer pemerintah telah meluncurkan serangan drone yang menewaskan seorang penduduk di wilayah Sheikh Maqsoud serta melukai dua anak-anak.

"Penembakan membabi buta ini merupakan serangan langsung terhadap area pemukiman dan membahayakan nyawa warga sipil secara serius," tulis pernyataan SDF.

Dampak dari pertempuran ini sangat dirasakan oleh warga sipil. Di Rumah Sakit Al-Razi Aleppo, suasana haru menyelimuti keluarga korban. Ahmad Abu Sheikh, seorang ayah, menunggu dengan cemas putrinya yang berusia 4 tahun, Fatima, yang harus menjalani operasi berjam-jam akibat terkena serpihan peluru.

"Saya hanya ingin tahu, apa yang harus saya katakan pada putri saya saat melihatnya nanti? Di mana matanya pergi?" ujarnya setelah mengetahui Fatima harus kehilangan satu matanya.

Konflik ini merupakan cerminan dari sulitnya menyatukan kekuatan militer di Suriah pasca-runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024 lalu. Sejatinya, pemerintahan transisi di bawah Presiden Interim Ahmad al-Sharaa telah menandatangani kesepakatan pada Maret 2025 untuk melebur SDF ke dalam tentara nasional.

Namun, implementasinya terhambat oleh sejarah permusuhan.Banyak faksi dalam tentara nasional Suriah yang baru merupakan mantan pemberontak dukungan Turki, yang secara historis merupakan musuh bebuyutan pasukan Kurdi. Turki sendiri menganggap SDF sebagai organisasi teroris karena hubungannya dengan PKK.

Kementerian Pertahanan Suriah menuduh SDF mencoba menggagalkan kesepakatan 10 Maret dan menyeret tentara ke dalam pertempuran terbuka. Sebaliknya, SDF menyebut serangan pemerintah sebagai pelanggaran berat hukum humaniter internasional yang secara sistematis menargetkan infrastruktur penting seperti air dan listrik.

Meskipun ketenangan sempat kembali pada Selasa malam, bentrokan dilaporkan kembali berkobar hanya dalam hitungan jam, menandakan rapuhnya stabilitas di wilayah utara Suriah.

(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Sadis! Masjid Jadi Tempat Berdarah Perang Saudara, 15 Tewas Dibantai


Most Popular
Features