Inflasi RI Nyaris 3% di 2025, Pangan Jadi Tantangan
Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi hingga akhir 2025 mencapai 2,92% secara tahunan atau year on year (yoy). Catatan inflasi per Desember 2025 ini lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan pada 2024 yang berada di level 1,57%.
Adapun tekanan inflasi yang makin tinggi pada tahun ini dipicu oleh tekanan harga untuk kelompok pengeluaran masyarakat seperti makanan, minuman, dan tembakau, dengan angka inflasi 4,58% (yoy) dan andilnya terhadap keseluruhan inflasi 1,33%.
Badan Pusat Statistik mengumumkan, komoditas dengan andil inflasi terbesar untuk kelompok ini adalah cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras dan daging ayam ras.
Ekonom Maybank Myrdal Gunarto menjelaskan inflasi pangan pada akhir 2025 didorong oleh meningkatnya permintaan selama musim libur di tengah pasokan yang terbatas karena belum masuk masa panen serta kondisi musim hujan. Menurutnya, ini merupakan siklus yang lazim terjadi setiap tahun.
"Berhubungan karena faktor permintaan yang meningkat pada saat musim libur ya. Lalu yang kedua juga ada faktor supply yang kelihatannya tidak sebanyak pada saat musim panen dan ini lumrah terjadi pada saat musim hujan. Jadi itu yang buat kenapa inflasi pangan menjadi dominan pada periode bulan Desember lalu," ujar Myrdal kepada CNBC Indonesia, Selasa (6/1/2026).
Maka dari itu, Myrdal menilai sepanjang kuartal pertama 2026 inflasi Indonesia akan lebih banyak dipengaruhi oleh komponen pangan termasuk bahan pangan segar maupun pangan olahan.
Namun secara keseluruhan, inflasi 2026 masih akan terjaga pada level 2,5% selama tidak ada lonjakan signifikan pada harga minyak dunia.
"Jadi kalau harga minyaknya masih sesuai asumsi APBN, sekitar US$70/barel saya rasa inflasi kita aman ya. Tidak ada dampak signifikan dari imported inflation dan kita perkirakan juga tidak ada kenaikan harga BBM Petrlite atau pun juga solar ataupun juga tidak ada kenaikan harga LPG 3 kg ataupun juga tidak ada kenaikan harga tarif dasar listrik ya. Jadi itu yang akan menjadi tema untuk inflasi pada tahun 2026 ini," ujarnya.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede pun menilai lonjakan utama pada inflasi Desember dipengaruhi oleh permintaan musiman Natal dan Tahun Baru. Selain itu, gangguan pasokan dan distribusi akibat cuaca ekstrem dan banjir khususnya, di wilayah Sumatra.
"Dampaknya terlihat jelas pada inflasi bulanan Desember yang melonjak menjadi 0,64% dari 0,17% di November, dengan kenaikan terbesar datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 1,66% dalam sebulan dan menjadi penyumbang utama inflasi bulanan," ujar Josua kepada CNBC Indonesia, Selasa (6/1/2026).
Kendati demikian, Josua menilai tekanan inflasi pangan ini pada dasarnya cenderung bersifat sementara karena dua pemicunya banyak yang tidak permanen. Yakni efek musiman akhir tahun biasanya mereda setelah libur lewat, sementara gangguan distribusi akibat banjir akan menurun ketika jalur pasok pulih.
Namun, risikonya bisa berlanjut bila cuaca ekstrem masih sering terjadi sehingga panen dan distribusi kembali terganggu, karena komoditas pangan segar memang sangat cepat bereaksi terhadap gangguan pasokan.
"Permintaan pangan juga berpotensi tetap kuat di awal 2026 bila dorongan kebijakan pro-pertumbuhan dan program makan bergizi gratis menjaga konsumsi pangan tetap tinggi, sehingga gejolak harga pangan bisa lebih mudah muncul kembali meski intensitasnya tidak harus sebesar Desember.," ujarnya.
Josua menjelaskan perkiraan dasar menunjukkan inflasi 2026 masih berada dalam sasaran Bank Indonesia dan diproyeksikan sekitar 2,72% pada akhir 2026, tetapi pada awal 2026 ada risiko inflasi tahunan sementara bertahan di atas 3% karena pembanding tahun lalu yang rendah (low base effect).
Dengan demikian, dia menilai bila ada gangguan pangan lagi maka peluang sementara di atas 3% menjadi lebih besar.
Di sisi lain, penting juga dicatat bahwa inflasi 2025 tidak hanya soal pangan. Kenaikan harga emas perhiasan memberi sumbangan besar terhadap inflasi tahun 2025, sehingga penilaian tekanan harga perlu dilihat sebagai gabungan pangan dan faktor nonpangan tersebut.
"Kesimpulannya, risiko pangan saat ini cukup berarti untuk membuat inflasi awal 2026 lebih mudah bergejolak dan sesekali menembus 3%, namun selama pasokan membaik dan tidak ada gangguan besar berulang, inflasi 2026 tetap berpeluang kembali terkendali di kisaran mendekati 2,7-3,0%," ujarnya.
(haa/haa)[Gambas:Video CNBC]