MARKET DATA

Bulog Tak Lagi Bayar Pakai Uang Tunai Tebus Beras Petani, Kenapa?

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
02 January 2026 16:31
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani bersama jajarannya saat konferensi pers di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Jumat (2/1/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizki)
Foto: Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani bersama jajarannya saat konferensi pers di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Jumat (2/1/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan langkah konkret yang dilakukan Bulog untuk menutup celah penyimpangan di lapangan. Kuncinya ada pada digitalisasi, mulai dari proses pembelian gabah hingga sistem pembayaran langsung ke petani.

Rizal menjelaskan, eksekusi penyerapan gabah Bulog dilakukan langsung sejak masa panen, dan langsung dilakukan pembayaran di sawah. Skema ini diterapkan di sejumlah sentra produksi padi seperti Indramayu, Subang, hingga Karawang.

"Jadi kalau kami dari Bulog eksekusinya itu mulai dari saat panen. Jadi contohnya di Indramayu, atau di Subang yang tempat-tempat sentra yang terdekat di sini ya atau di Karawang, itu kita eksekusinya beli gabah kering panennya di sawah," kata Rizal dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Jumat (2/1/2026).

Dalam praktiknya, Bulog membeli gabah langsung dari petani dengan harga yang sudah ditetapkan. Proses penimbangan dan pembayaran dilakukan di lokasi panen.

"Jadi contoh si petani A punya 10 hektare, 10 hektare dipanen dengan harga Rp6.500 per kilogram di sawah. Setelah dipanen, itu ditimbang langsung berapa timbangannya, dibayar di situ. Itu cash and carry," jelasnya.

Namun ke depan, sistem pembayaran tunai tersebut akan diubah. Bulog tengah menyiapkan transformasi besar dengan mengalihkan seluruh pembayaran ke sistem digital mulai 2026.

"Jadi kami sedang kembangkan dananya itu by digital. Untuk 2026, kami sedang kembangkan Bulog itu pembayarannya tidak menggunakan uang tunai, tapi kami menggunakan uang digital," tegas dia.

Ia menuturkan, petani diharapkan memiliki rekening bank agar transaksi bisa langsung ditransfer. Menurutnya, digitalisasi pembayaran memiliki banyak manfaat, baik dari sisi keamanan maupun transparansi.

"Teman-teman petani harapannya sudah punya nomor rekening. Tujuannya, pertama, biar aman, tidak ada rampok dan lain sebagainya. Kalau bawa uang banyak ratusan juta bahaya juga kan," tuturnya.

Selain faktor keamanan, sistem digital juga mendorong kebiasaan menabung sekaligus mempercepat pencatatan transaksi.

"Yang kedua, petani juga bisa nabung. Yang ketiga, pencatatannya jadi lebih cepat, lebih mudah, begitu klik, itu langsung terdata sampai pusat, berapa jumlah nominal yang akan diserap hari ini bahkan per detik itu bisa terlihat," lanjut Rizal.

Yang paling penting, menurutnya, digitalisasi menjadi instrumen pengawasan untuk menekan potensi korupsi di internal Bulog.

"Keempat adalah upaya untuk meminimalisir korupsi. Korupsi bisa aja anak-anak Bulog yang di lapangan juga ada yang nakal juga. Ini supaya tidak nakal kami buat nanti pembayarannya dengan digital, sehingga tidak ada lagi ruang-ruang untuk berbuat yang aneh-aneh di lapangan," tegasnya.

Menjawab kekhawatiran petani yang kesulitan mengakses layanan perbankan karena keterbatasan ATM dan jarak ke kota, Rizal memastikan sistem ini tetap akan terkontrol dan inklusif.

Bulog, kata dia, akan menggandeng bank-bank milik negara atau Himbara untuk turun langsung ke desa-desa dan menjemput bola.

"Nanti kami kerjasamakan dengan teman-teman bank negara supaya bank negara seperti BRI, BNI dan Mandiri harapannya nanti segera turun ke desa-desa. Jadi banknya akan jemput bola kepada masyarakat," ucap dia.

Seiring musim panen yang akan segera dimulai, Bulog berencana mengumpulkan perbankan nasional agar petani bisa langsung didaftarkan sebagai nasabah baru.

"Jadi kan sebentar lagi sudah mulai panen, kita akan kumpulkan perbankan nasional. Jadi harapannya mereka juga sudah mulai menjadikan petani-petani ini menjadi nasabah baru, sehingga nanti lebih mudah, lebih aman dan lebih terkontrol," pungkas Rizal.

(wur)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Gula Rafinasi Merembes, Bos Bulog Akui Petani & Pabrik Gula Tertekan


Most Popular
Features