Saat Corona Banyak Pelanggaran Mudik, RI Jadi Sorotan Dunia

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
23 May 2020 12:34
Petugas memeriksa kendaraan roda dua yang diduga untuk berpergian mudik di Jalan Raya Kalimalang, Jakarta Timur, Jumat (22/5). Dua hari jelang lebaran para pengendara motor masih ada yang nekat untuk pergi mudik. Petugas kepolisian dan Dishub memberhentikan motor yang memiliki muatan lebih. Pengendara motor diperiksa juga KTP asalnya. Jika ketahuan dari mereka mudik petugas menyuruh para pemudik motor untuk putar balik. Petugas kepolisian yang berjaga di check point jalan raya Kalimalang ini terus memantau, mengawasi dan melakukan pemeriksaan secara ketat agar pemudik yang berusaha keluar dari Jakarta bisa dihalau. Seperti diketahui Pengendara yang melintas masuk atau keluar ibu kota di 12 titik checkpoint, wajib menunjukkan SIKM. Ketentuan ini sesuai Peraturan Gubernur Nomor 47 Tahun 2020 tentang Pembatasan Berpergian Keluar Masuk DKI Jakarta. SIKM diperuntukan bagi warga yang karena tugas dan pekerjaannya harus melakukan perjalanan dinas keluar dan/atau masuk wilayah DKI Jakarta atau Jabodetabek selama masa pandemi.  (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang Idulfitri, keadaan Indonesia di tengah pandemi COVID-19 cukup mengkhawatirkan karena banyak pelanggaran terkait larangan mudik. Bahkan media internasional turut menyoroti pelanggaran tersebut seperti ditulis Agence France-Presse (AFP).

Belum lama ini pemerintah memang melakukan pelonggaran aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pelonggaran tersebut malah membuat ribuan masyarakat berbondong-bondong memenuhi bandara, pelabuhan, dan stasiun kereta api.

Dokumen perjalanan palsu dan surat keterangan kesehatan yang dapat diperjualbelikan digunakan sebagai dalih agar masyarakat yang berada di Jakarta, bisa menjalankan tradisi tahunan pulang kampung atau mudik ke daerah asal masing-masing.

"Ini adalah momen kritis," kata Doni Monardo, kepala satuan tugas mitigasi COVID-19 Indonesia, dikutip dari AFP. "Saya khawatir orang-orang yang pergi ke daerah lain akan kembali terinfeksi dan semua upaya kami akan sia-sia."

Kamal dan istri adalah salah satu masyarakat yang menggunakan dokumen perjalanan palsu untuk memudahkan anaknya, seorang mahasiswa yang sedang merantau di Jakarta, untuk kembali ke kota kelahirannya di Makassar, Sulawesi Selatan.

Berbekal bantuan teman-temannya, pasutri tersebut mengatakan berhasil mendapatkan surat bermaterai dari salah satu instansi pemerintah yang menyatakan bahwa putri mereka dipekerjakan untuk mendistribusikan persediaan selama pandemi di kota Makassar.

"Kami sangat khawatir tentang kesehatannya jika dia tinggal di Jakarta," kata Kamal, yang meminta agar nama aslinya tidak digunakan. "Tapi yang paling penting dari semua adalah bahwa kita sangat merindukannya. Kami ingin merayakan Idulfitri bersama seperti tahun-tahun sebelumnya."

Kemudahan dalam mendapatkan dokumen perjalanan palsu ini membuat polisi bekerja lebih keras untuk memberantas oknum-oknum yang memperjualbelikannya. Belum lama ini, pihak berwenang di Bali berhasil menangkap tujuh orang yang diduga menjajakan dokumen perjalanan palsu.

Selain menggunakan dokumen palsu, banyak juga masyarakat yang kucing-kucingan dengan polisi dalam perjalanan mudik. Mereka diam-diam bersembunyi di dalam mobil mereka yang dibawa dengan truk yang ditutupi terpal, berusaha mengecoh polisi agar bisa lolos di perbatasan antar kota antar provinsi.

Sayangnya, trik tersebut tidak begitu berhasil. Pihak berwenang berhasil menangkap ratusan pengemudi yang dibayar untuk menyelundupkan mereka yang ingin pulang kampung.

"Ada banyak cara orang mencoba menipu kita," kata juru bicara kepolisian Jakarta Yusri Yunus. "Kami tidak berusaha membuat hidup mereka sulit. Ini semua dimaksudkan untuk mengurangi penyebaran virus corona."

Masyarakat pun terbagi menjadi dua kubu. Kubu yang nekat mudik memicu kemarahan kubu masyarakat yang bertahan untuk tetap di rumah saja dan menjaga jarak.

Tagar #IndonesiaTerserah juga muncul sebagai bentuk kekecewaan mereka terhadap masyarakat pelanggar aturan, termasuk kekecewaan terhadap pemerintah yang dinilai tidak tegas dan tidak mampu menangani pandemi global ini.

Indonesia kini menjadi negara kedua di wilayah ASEAN dengan kasus terjangkit terbanyak dengan 20,796 kasus, serta 1.326 kematian, dan 5.057 pasien berhasil sembuh per Sabtu (23/5/2020), menurut data Worldometers.


[Gambas:Video CNBC]





(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading