Ini Penyebab Kasus Corona RI Nambah Hampir 1.000 dalam Sehari

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
22 May 2020 06:00
Pembagian Takjil Gratis dengan Penerapan Jaga Jarak (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto) Foto: Pembagian Takjil Gratis dengan Penerapan Jaga Jarak (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)
Setidaknya ada dua alasan mengapa kasus corona di Ibu Pertiwi semakin bertambah dan puncak pandemi masih jauh dari pandangan. Pertama, pemerintah tengah menggenjot uji corona sehingga ke depan akan semakin banyak kasus yang muncul ke permukaan.

Harus diakui bahwa Indonesia memang tertinggal dalam hal uji corona. Mengutip data Worldometer per 21 Mei 2020, jumlah tes corona di Indonesia adalah 219.975.

Dengan jumlah populasi 273.192.339, berarti hanya 805 dari 1 juta penduduk yang sudah menjalani tes. Angka ini masih di bawah negara-negara ASEAN-6.





Kedua, seperti disampaikan Kepala Bappenas, risiko penyebaran virus corona di Indonesia sedang tinggi-tingginya karena kenaikan intensitas mobilitas masyarakat. Meski sudah ada anjuran untuk #dirumahaja, tetapi momentum Ramadan-Idul Fitri mungkin terlalu berharga untuk dilewatkan.

Di sejumlah pasar, terlihat warga menyemut untuk berbelanja kebutuhan lebaran. Belum lagi masih ada yang memberanikan diri untuk mudik ke kampung halaman, sebuah tradisi yang sudah mengakar puluhan atau bahkan ratusan tahun sejak masa kolonial Belanda.

Situasi ini membuat virus corona lebih mudah menyebar. Sama seperti di China, virus menyebar luas karena masyarakat Negeri Panda mudik untuk merayakan Tahun Baru Imlek.

Mengutip data Social Distancing Index keluaran Citi, skor Indonesia pada 9 Mei adalah -39. Sepekan sebelumnya, nilai Indonesia berada di -40.

Social Distancing Index yang semakin menjauhi nol berarti masyarakat semakin berjarak. Dalam kasus Indonesia, jarak itu sepertinya malah semakin sempit, membuktikan bahwa terjadi kenaikan intensitas kontak dan interaksi antar-manusia yang mempermudah virus untuk menyebar.

corona


Oleh karena itu, mempertimbangkan aspek kesehatan, sepertinya masih sulit bagi Indonesia untuk mengendurkan social distancing yang dituangkan dalam kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Negara-negara lain seperti Amerika Serikat (AS), Spanyol, Italia, sampai Thailand memang sudah melakukan pelonggaran. Indonesia tidak boleh latah, karena di negara-negara itu pelonggaran social distancing dilakukan setelah kasus sudah sangat dekat dengan puncaknya.

Namun kalau mempertimbangkan aspek ekonomi, memang berat kalau PSBB terus-terusan. Aktivitas publik menjadi sangat terbatas sehingga roda ekonomi berjalan sangat lambat.

DBS, bank terbesar di Singapura, dalam risetnya memperkirakan ekonomi Indonesia bisa terkontraksi (tumbuh negatif) -1% pada 2020 jika pembatasan aktivitas masyarakat terus diberlakukan. Pemulihan diperkirakan baru terjadi pada 2021 dengan pertumbuhan ekonomi di atas 3%.

"Kenaikan kasus dalam beberapa hari belakangan kemungkinan membuat pemerintah menunda rencana untuk membuka kembali aktivitas ekonomi pada Juni. Bahkan mungkin akan ada pemantauan dan restriksi lebih ketat untuk mencegah penyebaran lebih lanjut," kata Radhika Rao, Ekonom DBS.

Kalau PSBB dilanjutkan, maka ribuan atau jutaan nyawa bisa selamat dari ancaman virus corona. Namun di sisi lain, jutaan orang juga bisa terancam kelangsungan hidupnya akibat kelesuan ekonomi dan ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Sebuah pilihan yang sangat sulit...



TIM RISET CNBC INDONESIA


(aji/aji)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading