Money Avoidance: Mengapa Ada Orang Takut Punya Uang?
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah meningkatnya literasi finansial dan kemudahan akses investasi digital, banyak orang tetap kesulitan mengelola uang.
Fenomena money avoidance menjadi penting dibahas karena sering kali tidak disadari oleh pelakunya.
Seseorang dapat bekerja keras menghasilkan uang, tetapi pada saat yang sama memiliki keyakinan negatif terhadap kekayaan.
Apa Itu Money Avoidance
Dalam kajian psikologi keuangan, money avoidance merujuk pada keyakinan bahwa uang adalah sesuatu yang buruk atau tidak pantas dimiliki. Orang dengan pola pikir ini sering merasa bahwa kekayaan identik dengan keserakahan atau perilaku tidak etis.
Psikolog keuangan dari Creighton University, Dr. Brad Klontz, menjelaskan bahwa banyak orang memiliki hubungan emosional yang kompleks dengan uang.
"Orang dengan pola money avoidance sering percaya bahwa uang itu buruk, orang kaya serakah, atau bahwa mereka sendiri tidak pantas memiliki uang," kata Klontz dalam kajian tentang psikologi finansial. Dikutip dari Creative Planning, Jumat (06/03/2026)
Menurut Klontz, keyakinan semacam ini sering berkembang secara tidak sadar. Seseorang mungkin berusaha meningkatkan penghasilan, tetapi pada saat yang sama merasa tidak nyaman ketika memiliki uang dalam jumlah besar. Konflik psikologis ini akhirnya memengaruhi keputusan finansial sehari-hari.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Financial Planning juga menunjukkan bahwa pola money scripts, termasuk money avoidance, dapat memengaruhi perilaku finansial seseorang, mulai dari kebiasaan menabung hingga cara mengelola investasi.
Penyebab Money Avoidance
Money avoidance biasanya terbentuk dari pengalaman hidup seseorang sejak kecil.
Pengalaman keluarga, nilai budaya, dan lingkungan sosial sering kali memainkan peran penting dalam membentuk cara pandang seseorang terhadap uang.
Salah satu penyebab paling umum adalah pengalaman negatif terkait uang di masa kecil. Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan konflik keuangan sering mengasosiasikan uang dengan stres atau pertengkaran.
Ketika dewasa, mereka cenderung menghindari topik keuangan karena menganggap uang sebagai sumber masalah.
Selain itu, nilai moral yang berkembang di lingkungan sosial juga dapat memengaruhi pandangan seseorang terhadap uang.
Dalam beberapa budaya, kekayaan kerap dikaitkan dengan keserakahan atau ketidakjujuran. Keyakinan ini dapat menimbulkan konflik batin ketika seseorang mulai memperoleh penghasilan besar.
Dalam sebuah tulisan di Forbes tentang psikologi finansial, keyakinan tentang uang biasanya terbentuk sejak masa kanak-kanak dan terus memengaruhi keputusan finansial di masa dewasa.
"Money scripts adalah keyakinan bawah sadar tentang uang yang biasanya berkembang sejak masa kanak-kanak dan memengaruhi perilaku finansial di masa dewasa," tulis laporan Forbes, dikutip pada Jumat, (06/03/2026)
Faktor lain yang sering memicu money avoidance adalah pengalaman finansial yang traumatis, seperti kebangkrutan keluarga, hutang besar, atau kegagalan investasi. Pengalaman tersebut dapat membentuk persepsi bahwa uang selalu membawa risiko dan masalah.
Dampak Finansial yang Serius
Meski terlihat sederhana, money avoidance dapat berdampak besar terhadap kondisi finansial seseorang.
Pola pikir ini sering kali membuat seseorang tanpa sadar menghambat kesuksesan finansialnya sendiri.
Salah satu dampak yang paling umum adalah stagnasi pendapatan. Orang dengan pola money avoidance sering merasa tidak nyaman meminta kenaikan gaji atau menegosiasikan bayaran yang lebih tinggi. Mereka khawatir dianggap terlalu materialistis atau serakah.
Selain itu, pola pikir ini juga dapat memengaruhi kebiasaan menabung. Ketika saldo rekening meningkat, sebagian orang justru merasa tidak nyaman dan berusaha mengurangi jumlah uang tersebut melalui pengeluaran yang tidak perlu.
Menurut laporan CNBC tentang psikologi keuangan, keyakinan inti seseorang tentang uang sangat memengaruhi cara mereka mengelola keuangan sehari-hari.
"Keyakinan dasar tentang uang sering kali menentukan apakah seseorang akan menabung, berinvestasi, atau justru menghindari pengelolaan keuangan," tulis laporan CNBC, dikutip pada Jumat, (06/03/2026)
Dampak lain yang sering muncul adalah kecemasan finansial. Orang yang menghindari uang biasanya juga menghindari perencanaan keuangan. Mereka tidak ingin melihat laporan keuangan, tagihan, atau investasi yang dimiliki. Akibatnya, masalah finansial dapat menumpuk tanpa disadari.
Contoh Kasus
Fenomena money avoidance dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya seorang profesional dengan penghasilan tinggi yang selalu menghabiskan bonus tahunan dalam waktu singkat. Secara finansial ia sebenarnya mampu menabung atau berinvestasi, tetapi merasa tidak nyaman menyimpan uang dalam jumlah besar.
Dalam banyak kasus, perilaku ini bukan sekadar kebiasaan konsumtif, melainkan sebagai bentuk sabotase finansial secara tidak sadar. Seseorang mungkin memiliki peluang untuk memperbaiki kondisi keuangan, tetapi keyakinan negatif tentang uang membuatnya sulit mempertahankan kekayaan.
Kasus seperti ini cukup sering muncul dalam praktik konseling keuangan. Banyak klien datang ke konsultan bukan karena kekurangan penghasilan, melainkan karena memiliki hubungan emosional yang tidak sehat dengan uang.
Cara Mengatasi Money Avoidance
Meski terdengar kompleks, pola pikir money avoidance sebenarnya dapat diubah. Langkah pertama adalah menyadari bahwa hubungan seseorang dengan uang tidak selalu rasional, tetapi sering dipengaruhi oleh emosi dan pengalaman masa lalu.
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi keyakinan pribadi tentang uang. Menulis pengalaman masa kecil terkait uang atau mengingat kembali nilai yang diajarkan keluarga tentang kekayaan dapat membantu memahami sumber keyakinan tersebut.
Langkah berikutnya adalah meningkatkan literasi finansial. Memahami dasar-dasar pengelolaan uang seperti membuat anggaran, menabung, dan berinvestasi dapat membantu mengurangi rasa takut terhadap uang.
Selain itu, penting untuk mengubah cara pandang terhadap kekayaan. Uang pada dasarnya hanyalah alat yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan hidup, bukan sesuatu yang secara moral baik atau buruk.
Dalam beberapa kasus, bantuan profesional seperti konselor keuangan atau psikolog juga dapat membantu. Terapi keuangan merupakan pendekatan yang menggabungkan psikologi dan perencanaan keuangan untuk membantu seseorang mengatasi perilaku finansial yang merugikan.
Pentingnya Memahami Psikologi Uang
Fenomena money avoidance menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan uang tidak hanya berkaitan dengan angka, tetapi juga emosi dan pengalaman hidup. Di era modern yang penuh dengan peluang investasi dan sumber penghasilan baru, memahami psikologi uang menjadi semakin penting.
Banyak orang mengetahui cara menghasilkan uang, tetapi tidak semua orang memiliki hubungan yang sehat dengan uang tersebut. Tanpa kesadaran terhadap pola pikir yang dimiliki, seseorang bisa saja terus mengulangi perilaku finansial yang merugikan.
Pada akhirnya, tujuan dari memahami konsep money avoidance bukan sekadar untuk meningkatkan kekayaan, tetapi untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang. Dengan cara ini, keputusan finansial dapat diambil secara lebih rasional dan mendukung kesejahteraan jangka panjang.
(dag/dag) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]