Kelas Cuan Ungkap Strategi Investasi di Era Backdoor Listing

Khoirul Anam,  CNBC Indonesia
31 January 2026 15:39
Ilustrasi Bursa. (CNBC Indonesia)
Foto: Ilustrasi Bursa. (CNBC Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun ini dinilai sebagai era backdoor listing dalam dunia pasar saham. Hal ini disampaikan Equity Analyst CNBC Indonesia Susi Setiawati dalam Kelas Cuan yang mengusung tema "Market Outlook 2026: Stock Pick Bagger 2026".

Era ini disebut terjadi karena pasar saham diliputi ketidakpastian. Adapun backdoor listing merupakan mekanisme ketika perusahaan yang belum terdaftar di bursa (non-listed) masuk ke pasar modal dengan mengakuisisi perusahaan publik yang sudah terdaftar.

Dengan cara ini, perusahaan tersebut tidak perlu melewati proses penawaran umum perdana (IPO) yang biasanya panjang, mahal, dan kompleks. Strategi ini juga dikenal dengan istilah reverse takeover (RTO) atau reverse merger karena perusahaan yang sebenarnya lebih kecil justru diambil alih oleh entitas yang lebih besar dan belum go public.

Menurut Susi saat ini negara China tengah berinvestasi besar-besaran di Indonesia. Mereka melakukan akuisisi dibandingkan dengan mendirikan perusahaan baru.

"Ada beberapa emiten yang dicaplok china. Dia ingin punya perusahaan yang sudah Tbk karena cari dana lebih gampang dari publik. Kalau perusahaan tertutup kan pakai strategi investor. Kalau sudah Tbk, cari modal gampang. Makanya sekarang perusahaan China lagi gencar, mereka mengincar perusahaan," kata dia, Jumat (30/1/2026).

Asal tahu saja, terdapat tiga emiten dengan story backdoor listing yang sebentar lagi menyelesaikan proses tender offer. Mereka adalah PT Futura Energi Global Tbk (FUTR), PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE), dan PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA).

Dalam hal backdoor listing, tender offer diperlukan sebagai bagian dari proses untuk melindungi kepentingan pemegang saham publik. Ketika terjadi perubahan pengendali melalui aksi akuisisi atau pengambilalihan, regulasi mewajibkan pihak pengendali baru melakukan tender offer kepada pemegang saham publik sebagai bentuk exit option yang adil.

Lewat tender offer ini, investor publik diberi kesempatan untuk menjual sahamnya pada harga yang wajar sebelum arah bisnis, struktur kepemilikan, hingga profil risiko emiten berubah signifikan.

Selain itu, mekanisme ini juga menjadi alat pengawasan agar backdoor listing tidak digunakan semata-mata untuk menghindari proses IPO reguler yang lebih ketat, baik dari sisi keterbukaan informasi maupun tata kelola.

Dalam webinar ini, Susi juga memaparkan langkah-langkah dalam mencari saham dengan backdoor listing. Termasuk dengan dengan mempertimbangkannya dari sisi aset.

"Kalau saya biasanya pilih total aset kurang dari Rp 100 miliar atau bisa Rp 100-Rp 400 miliar karena kalau perusahaan yang bagus mau dibeli atau akuisisi emiten, pasti pilih asetnya yang rendah karena biayanya rendah," terang dia.

Dia juga memaparkan berbagai pertimbangan dalam mencari saham backdoor listing. Susi menjelaskan pertimbangan-pertimbangan tersebut kepada para peserta Kelas Cuan.

Kelas Cuan digelar oleh CNBC Indonesia sebagai sarana edukatif untuk membantu investor dan masyarakat umum memahami literasi finansial secara lebih komprehensif. Dalam Kelas Cuan kali ini, peserta belajar bagaimana memanfaatkan tren pasar untuk mendapatkan cuan serta analisa saham-saham pilihan dengan potensi pertumbuhan berbasis fundamental, sentimen, dan momentum.

Tak hanya itu, peserta bisa mendapatkan full recording webinar yang akan dikirimkan melalui e-mail berupa link Gdrive dan e-Certificate berisi nama peserta yang akan dikirimkan melalui email terdaftar. Dengan demikian, para peserta bisa mempelajari kembali edukasi yang disampaikan dari profesional.

(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]


Most Popular
Features