Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Level Rp18.070
Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah kembali dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (6/11/2026), melanjutkan penguatan yang tercatat sehari sebelumnya. Namun, kenaikan mata uang Garuda kali ini relatif terbatas.
Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka menguat tipis 0,03% ke posisi Rp18.070/US$ dibandingkan penutupan Kamis (5/11/2026) di level Rp18.075/US$. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berhasil menguat 0,44% setelah sempat melemah sehari sebelumnya.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,08% ke posisi 101,631.
Penguatan dolar AS terjadi ketika pelaku pasar tengah mencermati perkembangan terbaru pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS). Perhatian utama tertuju pada rilis data non-farm payrolls (NFP) periode Oktober yang dijadwalkan pada Jumat (6/11/2026).
Pasar memperkirakan ekonomi AS menambah 65.000 lapangan kerja pada Oktober, meningkat dibandingkan penambahan 29.000 pekerjaan pada September. Angka tersebut akan memberikan gambaran mengenai kekuatan pasar tenaga kerja AS sekaligus menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai prospek kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).
Sebelum laporan NFP dirilis, data klaim awal tunjangan pengangguran AS (initial jobless claims) menunjukkan penurunan. Jumlah pengajuan baru turun 6.000 menjadi 189.000 pada pekan yang berakhir 31 Oktober, lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 196.000.
Angka tersebut juga menyamai level terendah dalam 57 tahun, yang terakhir tercatat pada pertengahan Juli. Rendahnya klaim pengangguran menunjukkan perusahaan masih relatif mempertahankan tenaga kerja yang ada, meskipun kondisi ekonomi menghadapi berbagai tekanan.
Namun, rendahnya angka PHK belum tentu mencerminkan peningkatan perekrutan pekerja baru. Karena itu, pasar masih menantikan laporan NFP untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap mengenai kondisi ketenagakerjaan AS.
Kondisi pasar tenaga kerja menjadi perhatian karena berkaitan dengan ruang gerak The Fed dalam menentukan suku bunga. Data yang lebih kuat dari perkiraan dapat mengurangi urgensi pelonggaran moneter, sementara pelemahan yang lebih besar dari ekspektasi dapat memperkuat pertimbangan untuk menurunkan suku bunga.
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada rilis data cadangan devisa Indonesia periode Oktober 2026 oleh Bank Indonesia (BI), yang dijadwalkan pada Jumat (6/11/2026) pukul 10.00 WIB.
Sebagai gambaran, cadangan devisa Indonesia pada September tercatat sebesar US$ 146,3 miliar, sedikit menurun dibandingkan Agustus yang mencapai US$ 146,5 miliar.
Perkembangan cadangan devisa menjadi salah satu indikator yang dicermati pelaku pasar untuk melihat ketahanan eksternal Indonesia. Posisi cadangan devisa yang memadai memberikan ruang bagi BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, termasuk ketika pasar keuangan global menghadapi tekanan.
(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]