MARKET DATA

Danantara Bongkar Bisnis Berlapis BUMN, Target Hemat Triliunan

Emir Yanwardhana,  CNBC Indonesia
26 October 2026 15:23
Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Fairmont, Jakarta, Senin (26/10/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)
Foto: Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Fairmont, Jakarta, Senin (26/10/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengungkap praktik transaksi berlapis antar perusahaan BUMN yang membuat biaya operasional membengkak. Chief Operasting Officer Danantara Dony Oskaria mengatakan, setiap perusahaan mengambil keuntungannya sendiri di setiap praktik operasional.

"Sebagian besar perusahaan itu, mereka beroperasi sebagai layering companies. Sebagian besar perusahaan, Anda tahu, mereka mengambil keuntungan dari diri mereka sendiri," ujarnya di Hotel Fairmont Jakarta, Senin (26/10/2026).

Dony yang juga menjabat sebagai Kepala BP BUMN ini memberi contoh pada salah satu emiten peat merah PT. Telkom Indonesia Tbk (TLKM), yang mana pembangunan serat optik di lingkungan untuk layanan Indihome harus melewati empat perusahaan berbeda. Masing-masing perusahaan mengambil keuntungan, sehingga biaya akhirnya disebut 150% lebih tinggi dibandingkan para pesaing.


"Jadi, jika dibandingkan dengan para pesaing, biaya kami 150% lebih tinggi daripada mereka. Ini adalah fakta," ungkapnya.

Pola serupa ditemukan di Pertamina, melalui Patra Niaga, memegang kepemilikan produk, sementara perusahaan pelayaran grup bertugas mengangkutnya. Perusahaan pelayaran itu kemudian menyewa pihak swasta untuk membawa produk tersebut.

"Dapatkah Anda bayangkan? Jadi perusahaan pelayaran tersebut mengambil keuntungan dari diri mereka sendiri. Dan banyak dari kasus ini, ucapnya.

Sehingga, Danantara menggabungkan tiga perusahaan hilir Pertamina, yakni Patra Niaga, PIS, dan satu entitas internasional, kini digabung menjadi satu. Penghematan dari penggabungan itu disebut sudah terlihat dalam enam bulan.

Secara agregat, inefisiensi akibat transaksi berlapis ini diperkirakan mencapai US$2 miliar per tahun. Angka itu belum termasuk kerugian sekitar Rp20 triliun (US$1,5 miliar) per tahun dari 52% perusahaan BUMN yang merugi. Jika perusahaan-perusahaan tersebut ditutup, potensi penghematan mencapai US$3,5 miliar setiap tahun.

"Dengan begitu, akan lebih mudah bagi saya untuk hanya mengelola delapan perusahaan yang menyumbang 97% dividen saya setiap tahunnya," ungkapnya.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Danantara Berkomitmen Beri Pelaporan Keuangan Transparan & Akuntabel


Most Popular
Features