Manuver Danantara Bersih-Bersih BUMN, Menuju IPO di 2029
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah melakukan penurunan aset (impairment )sekitar Rp135 triliun dalam 16 hingga 18 bulan terakhir. Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria mengatakan, langkah tersebut untuk membersihkan pembukuan perusahaan BUMN yang dinilai tidak benar.
"Rp135 triliun yang kita impaired akibat pembukuan yang tidak benar yang dilakukan selama ini," ujarnya di gedung Wisma Danantara, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, upaya tersebut perlu dilakukan agar laba yang dilaporkan mencerminkan kondisi sebenarnya. Dengan pembukuan yang bersih, tahun ini Danantara menargetkan laba bersih Rp360 triliun, atau lebih dari US$20 miliar.
"Pada tahun ini, pendapatan bersih kami bisa mendekati Rp 360 triliun atau setara US$ 20 billion," ucapnya.
Pembersihan BUMN berkinerja buruk juga dilakukan lewat restrukturisasi struktur korporasi. Dari 1.074 perusahaan, sekitar 200 dikonsolidasikan, 213 dilikuidasi, dan 208perusahaan yang terlalu kecil untuk dimiliki BUMN dilepas. Sebanyak 15 perusahaan menjalani restrukturisasi keuangan, antara lain PT. Krakatau Steel Tbk (KRAS) dan PT. Garuda Indonesia Tbk (GIAA).
Total BUMN yang yang ditutup hingga saat ini sebanyak 364 perusahaan. Pada akhir tahun, Danantara menargetkan sedikitnya 750 perusahaan ditutup atau dikonsolidasikan lewat merger, divestasi, dan likuidasi, sehingga jumlah BUMN menjadi kurang dari 200.
Ia menegaskan proses ini dijalankan dengan tata kelola yang diawasi sejumlah lembaga. Dalam transformasi, Danantara mengaku dibantu Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun), Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel), BPK, dan BPKP.
Menurutnya, tata kelola yang benar penting karena investasi Danantara bersumber dari dividen BUMN. Tahun ini dividen yang disetorkan ditargetkan sekitar Rp200 triliun (sekitar US$12 miliar) untuk diinvestasikan.
Tahap berikutnya adalah penguatan SDM dan budaya korporasi pada 2027, inovasi teknologi pada 2028, lalu penciptaan nilai pada 2029, ketika sejumlah perusahaan sehat dijadwalkan melantai di bursa. Pada 2030, Danantara menargetkan hanya memiliki perusahaan kelas dunia.
"Kemudian nanti kita masuk ke value creation, beberapa perusahaan yang bagus akan kami persiapkan go public, kita akan ke public tahun 2029 dan 2030," tutupnya.