MARKET DATA

Bank Dunia: 10-15 Tahun Lagi Anak Muda Hadapi Krisis Lapangan Kerja

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
26 October 2026 12:25
World Bank Group. (REUTERS/Akhtar Soomro/File Photo)
Foto: World Bank Group. (REUTERS/Akhtar Soomro/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Bank Dunia (World Bank) Ajay Banga memperingatkan ancaman kesenjangan lapangan kerja global yang diproyeksikan mencapai 800 juta pekerjaan dalam 10 hingga 15 tahun mendatang.

Tantangan tersebut semakin berat di tengah meningkatnya beban utang negara, menyempitnya ruang fiskal, dan tingginya biaya kebutuhan pokok yang membatasi kemampuan pemerintah membiayai pembangunan.

Banga mengungkapkan, sekitar 1,2 miliar anak muda diproyeksikan memasuki pasar kerja dalam 10 hingga 15 tahun ke depan. Namun, jumlah pekerjaan yang tersedia diperkirakan hanya mencapai sekitar 400 juta.

Artinya, terdapat kesenjangan sekitar 800 juta pekerjaan yang perlu diatasi agar generasi muda memiliki kesempatan untuk bekerja dan meningkatkan kesejahteraan.

"Dalam 10 hingga 15 tahun ke depan, 1,2 miliar kaum muda akan memasuki pasar kerja, yang diproyeksikan hanya mampu menyediakan sekitar 400 juta lapangan pekerjaan. Generasi inilah yang akan membentuk abad mendatang. Pilihan yang kita buat hari ini akan turut menentukan bagaimana bentuk masa depan tersebut," ujar Banga dalam pidatonya pada Annual Meetings Bank dunia dikutip Senin (26/10/2026).

Banga menegaskan bahwa penciptaan lapangan kerja dalam skala besar menjadi salah satu tantangan utama pembangunan global. Persoalan tersebut tidak dapat dipisahkan dari keterbatasan sumber daya yang dihadapi banyak negara.

Menurutnya, berbagai tekanan global masih berlangsung, seperti konflik belum mereda, ruang fiskal semakin sempit, beban utang meningkat, sementara biaya kebutuhan esensial, mulai dari energi hingga pupuk, masih tinggi.

Kondisi tersebut menciptakan tantangan ganda bagi setiap pemerintah. Di satu sisi, negara perlu meningkatkan investasi untuk memperkuat perekonomian dan menciptakan lapangan kerja. Di sisi lain, kemampuan pembiayaan publik menghadapi keterbatasan di tengah meningkatnya tekanan fiskal.

Banga menilai kedua persoalan tersebut harus ditangani secara bersamaan, yakni memaksimalkan penggunaan sumber daya yang tersedia sekaligus membantu negara menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

Ruang Fiskal Menyempit, Investasi Jadi Kunci Utama Pembangunan

Meningkatnya beban utang dan terbatasnya ruang fiskal menjadi salah satu tantangan yang disoroti Banga dalam pidatonya.

Ruang fiskal sendiri menggambarkan kemampuan pemerintah menyediakan anggaran untuk belanja dan investasi tanpa mengganggu keberlanjutan keuangan negara. Ketika beban pembayaran utang meningkat dan kebutuhan belanja lainnya membesar, pemerintah dapat menghadapi keterbatasan dalam memperluas pembiayaan pembangunan.

Banga menilai pembangunan ke depan akan bergantung pada kemampuan untuk memadukan pendanaan publik, investasi swasta, filantropi, dan teknologi, yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara.

"Kemitraan serta perpaduan berbagai sumber pendanaan tersebut harus terus berkembang seiring dengan kemajuan negara-negara terkait," ujarnya.

Meskipun demikian, di tempat dengan kebutuhan dan risiko terbesar, pendanaan publik dan pendanaan lunak (konsesional) akan tetap menjadi hal yang krusial. Seiring dengan semakin kuatnya suatu negara, investasi swasta dan akses ke pasar harus memainkan peran yang lebih besar.

Banga mengungkapkan bahwa mobilisasi modal swasta yang dilakukan World Bank Group meningkat lebih dari tiga kali lipat, dari sekitar US$35 miliar pada tahun fiskal 2022 menjadi US$112 miliar pada tahun fiskal terakhir yang dipaparkan. Jika digabungkan dengan pendanaan dari pihak Bank Dunia sendiri, total pendanaan yang terkumpul melampaui US$230 miliar.

Mobilisasi modal swasta meningkat hampir tiga kali lipat di negara berpendapatan menengah bawah dan empat kali lipat di negara berpendapatan menengah atas. Di Afrika, nilainya meningkat lebih dari dua kali lipat.

Namun demikian, Banga mengungkapkan tantangan yang dihadapi adalah di negara-negara berpendapatan rendah, di mana menarik modal komersial merupakan hal yang paling sulit, tingkat mobilisasi modal justru stagnan.

"Jalan menuju pemulihan ekonomi bagi negara-negara termiskin dan paling rentan terletak pada usaha kecil mereka; usaha-usaha ini sering kali tumbuh di tempat yang belum dijangkau oleh perusahaan-perusahaan besar," ujarnya.

Penciptaan Lapangan Kerja Jadi Prioritas Investasi

Untuk mengatasi ancaman kesenjangan lapangan kerja, Bank Dunia menyusun strategi yang berfokus pada tiga pilar utama, yakni pembangunan infrastruktur fisik dan sumber daya manusia, kepastian regulasi dan kebijakan, serta peningkatan skala investasi swasta.

Pilar pertama adalah memperkuat infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia. Banga menilai perusahaan membutuhkan pasokan listrik, air, transportasi, dan konektivitas digital yang memadai untuk menjalankan usaha dan memperluas produksi.

"Tahun lalu, kami mengalokasikan US$40 miliar, hampir sepertiga dari total pendanaan kami, untuk membangun fondasi-fondasi ini," kata Banga.

Pilar kedua adalah menciptakan kepastian regulasi dan kebijakan. Menurut Banga, perusahaan dari berbagai skala membutuhkan institusi yang kuat, tata kelola yang baik, serta aturan yang jelas dan dapat diprediksi. Penyederhanaan perizinan dan kepastian aturan pertanahan menjadi bagian dari upaya menciptakan iklim usaha yang mendukung investasi.

Bank Dunia menyebut sekitar 30% pembiayaan sektor publiknya pada tahun fiskal terakhir diarahkan untuk mendukung reformasi kebijakan dan kelembagaan.

Pilar ketiga adalah memperbesar investasi swasta. Bank Dunia berupaya mengatasi berbagai hambatan yang membuat investor.

"Meskipun fondasi sudah kuat dan aturan sudah jelas, terkadang masih ada risiko yang menghambat investasi. Laboratorium Investasi Sektor Swasta (Private Sector Investment Lab) membantu kami berfokus pada hambatan-hambatan tersebut, mulai dari risiko mata uang hingga akses terhadap pembiayaan, serta memperkuat instrumen untuk mengatasinya, seperti penjaminan, penyertaan modal (ekuitas), dan pembiayaan dalam mata uang lokal," imbuhnya.

(ras/mij) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Asuransi & Dana Pensiun Pegang 27% Surat Utang RI, Nilainya Rp137,4 T


Most Popular
Features