Fadli Zon Buka Suara Soal IHSG Anjlok: Harus Ada Reformasi!
Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon buka suara mengenai penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan terakhir. Menurutnya, gejolak tersebut bukan mencerminkan kondisi perekonomian Indonesia, melainkan persoalan di pasar modal yang perlu dibenahi melalui reformasi bursa.
"Kalau kemarin ada berita soal IHSG kita yang sempat drop, ya itu terkait saya kira bukan soal ekonomi, tapi soal bursa. Dan ini memang harus ada reformasi di bursa itu, "ungkap Fadli Zon dalam Taklimat Media di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Sebagai informasi, dalam perdagangan Jumat (16/10/2026) IHSG anjlok 678,67 poin atau 11,57% ke level 5.185,11dari posisi 5.863,78 pada perdagangan sehari sebelumnya.
Pelemahan tajam tersebut terjadi setelah MSCI membuka konsultasi terkait kemungkinan menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Fadli menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Ia merujuk pada pertumbuhan ekonomi yang dinilai masih terjaga serta tingkat inflasi yang terkendali.
"Tetapi kalau kita lihat, angka pertumbuhan kita relatif year-on-year masih sangat baik, masih di kisaran 5,6, 5,4, 5,6 persen. Kemudian inflasi juga sangat terkendali. Begitu juga indikator-indikator lain yang menunjukkan bahwa secara fundamental ekonomi kita kuat," Tegas Fai.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, ungkap Fadli, memang terdapat pihak-pihak yang menurutnya tidak menginginkan Indonesia maju. Ia menilai ini jadi salah satu tantangan yang dihadapi pemerintah dalam mengubah arah perekonomian agar sejalan dengan Pasal 33 UUD 1945, yang mengatur penguasaan negara atas cabang produksi penting dan sumber daya alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Menurutnya, kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih terlalu liberal dan kapitalistik sehingga manfaat pengelolaan kekayaan alam belum dirasakan secara merata oleh masyarakat.
"Sementara realitas ekonomi kita ini sudah terlanjur liberal, sudah sangat kapitalistik, hanya menguntungkan segelintir orang, pihak-pihak tertentu, dan sudah banyak yang mungkin mengambil mengeruk kekayaan alam kita bukan untuk sebesar-besar kemampuan rakyat, tapi hanya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, atau segelintir orang tadi," ungkap Fadli.
(mfa/haa) [Gambas:Video CNBC]