MARKET DATA

IHSG Naik 1% Ini Penyebabnya

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
22 October 2026 10:14
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/10/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada pertengahan perdagangan sesi pertama hari ini. Pada pukul 09.56 WIB, IHSG berada di level 5.381,43, naik 53,07 poin atau 1%.

Padahal, IHSG sempat anjlok hingga 2% pada pembukaan perdagangan hari ini. Pergerakan indeks pagi ini cukup dinamis. Meski IHSG dibuka tertekan pada 5.247, namun, tekanan itu tidak bertahan lama. Menjelang pukul 10.00 WIB, IHSG berbalik arah dan naik bertahap hingga menyentuh level tertinggi harian di 5.382,36.

Aktivitas perdagangan terpantau ramai. Hingga pukul 09.56 WIB, volume transaksi tercatat 100,26 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp4.467,35 miliar.

Mengutip data Refinitiv, penguatan IHSG pada sesi I hari ini didorong oleh sektor energi yang meroket 2,7%, disusul oleh sektor industri yang naik 1,1%, dan sektor konsumer kritikal yang naik 1,05%.

Saham-saham penopang IHSG hari ini antara lain PT. Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), dan PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM).

Sementara saham-saham pemberat IHSG antara lain, PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT. Barito Pacific Tbk. (BRPT), PT. United Tractors Tbk. (UNTR), dan PT. VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR).

Pada perdagangan Kamis ini, pelaku pasar akan mencermati sejumlah perkembangan penting dari dalam dan luar negeri. Mulai dari keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuannya, disertai sejumlah kebijakan baru untuk mendorong penyaluran kredit perbankan.

Selain itu, pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna, termasuk responsnya terhadap ancaman penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, turut menjadi perhatian investor.

Sementara dari eksternal, inflasi Inggris yang kembali meningkat dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Prancis menjadi sentimen yang perlu dicermati.

Presiden Prabowo Subianto buka suara mengenai pernyataan lembaga penyedia indeks global MSCI yang membuka kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Prabowo menilai pernyataan MSCI sebagai bentuk tekanan yang bertujuan menakut-nakuti pelaku pasar Indonesia.

"Kita masih banyak gangguan, masih banyak kita terus dihadang ada apa itu, macem-macem lah ada MSCI macem-macem dia mau takut-takutin kita," ujar Prabowo, dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu (21/10/2026).

Sebagai pengingat, MSCI tengah mengkaji kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dari pasar berkembang atau Emerging Market menjadi Standalone Market. Rencana tersebut masih berada dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar hingga April 2027, dengan keputusan akhir dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.

Meski pasar saham mengalami tekanan cukup besar, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak akan gentar menghadapi berbagai tantangan tersebut.

Sementara itu, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan reformasi pasar modal yang sedang dijalankan otoritas Indonesia, terutama terkait transparansi kepemilikan saham dan penegakan aturan perdagangan. Langkah-langkah tersebut menjadi perhatian menjelang keputusan akhir MSCI pada Juni 2027.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Ditutup Menguat 1,12% ke Level 5.387


Most Popular
Features