Elon Musk Mau Merger Tesla dan SpaceX, Sahamnya Terbang
Jakarta, CNBC Indonesia - CEO SpaceX Elon Musk membuka peluang penggabungan perusahaan antariksa miliknya dengan produsen mobil listrik Tesla.
Melansir CNBC, Musk mengungkapkan dewan direksi SpaceX dan Tesla telah membentuk komite khusus untuk membahas potensi penggabungan tersebut, di tengah kinerja keuangan SpaceX yang melampaui ekspektasi Wall Street pada kuartal III-2026.
Dalam konferensi pers laporan keuangan, Musk mengatakan merger SpaceX dan Tesla merupakan ide yang baik. Sementara itu, Tesla dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal III-2026 setelah penutupan perdagangan pada Rabu (21/10/2026).
Di tengah kabar potensi merger tersebut, saham SpaceX melonjak sekitar 8% dalam perdagangan setelah penutupan pasar pada Selasa (20/10/2026). Kenaikan tersebut terjadi setelah perusahaan melaporkan pertumbuhan pendapatan sebesar 161% pada kuartal III-2026, ditopang oleh bisnis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang tumbuh sembilan kali lipat.
Berdasarkan konsensus LSEG, SpaceX membukukan pendapatan sebesar US$14,58 miliar pada kuartal III-2026, melampaui ekspektasi analis sebesar US$12,72 miliar. Laba per saham yang disesuaikan (adjusted earnings per share/EPS) mencapai US$0,45, jauh di atas perkiraan sebesar US$0,13 per saham.
Dalam laporan keuangannya, SpaceX mencatat laba operasional sebesar US$2,8 miliar dan laba bersih US$4,4 miliar pada kuartal III-2026. Capaian tersebut berbalik dari periode yang sama tahun sebelumnya, ketika perusahaan membukukan rugi bersih sebesar US$1,05 miliar.
Chief Financial Officer (CFO) SpaceX Bret Johnsen mengatakan pendapatan perusahaan pada kuartal I-2027 diperkirakan mencapai US$33 miliar hingga US$37 miliar. Proyeksi tersebut jauh melampaui rata-rata estimasi analis LSEG sebesar US$22,2 miliar, yang menurut Johnsen didorong oleh meningkatnya visibilitas terhadap pipeline kontrak komputasi selama enam bulan ke depan.
Meski dikenal sebagai perusahaan pengembang roket yang dapat digunakan kembali, sebagian besar pendapatan dan keuntungan SpaceX dalam beberapa kuartal terakhir berasal dari segmen konektivitas. Segmen ini mencakup layanan internet satelit Starlink yang terus memperluas basis pelanggannya.
Jumlah pelanggan Starlink meningkat menjadi 13,6 juta pada kuartal III-2026, dibandingkan dengan 12 juta pada kuartal sebelumnya. Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, pendapatan segmen konektivitas melonjak 69% menjadi US$5,25 miliar dari US$3,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, melampaui ekspektasi analis sebesar US$4,84 miliar menurut StreetAccount.
Dari total pendapatan segmen konektivitas, pelanggan konsumen Starlink menyumbang US$3,12 miliar, sedangkan pelanggan pemerintah dan perusahaan berkontribusi sebesar US$2,13 miliar. Kinerja tersebut memperkuat posisi Starlink sebagai salah satu sumber utama pendapatan SpaceX di tengah ekspansi layanan konektivitas perusahaan.
SpaceX juga tengah memperluas ambisinya untuk membangun jaringan seluler di Amerika Serikat melalui pengembangan bisnis Starlink. Pada awal Oktober 2026, perusahaan mengumumkan pembelian spektrum frekuensi pita rendah sebesar 800 MHz, setelah Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat atau Federal Communications Commission (FCC) menyetujui rencana pembangunan konstelasi yang terdiri dari 15.000 satelit.
Sementara itu, bisnis AI SpaceX berkembang pesat setelah perusahaan mengakuisisi xAI, laboratorium AI milik Musk, pada awal tahun ini. SpaceX kemudian memperluas bisnis tersebut dengan menyewakan kapasitas komputasi kepada sejumlah perusahaan, termasuk Google dan Anthropic.
SpaceX kini menyebut bisnis AI-nya sebagai Super Intelligence, yang muncul sebagai segmen bisnis terbesar perusahaan berdasarkan pendapatan pada kuartal III-2026. Pendapatan segmen ini melonjak sembilan kali lipat menjadi US$7,56 miliar dari US$813 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya, melampaui ekspektasi analis sebesar US$6,47 miliar menurut StreetAccount.
Pada kuartal III-2026, SpaceX juga merampungkan akuisisi senilai US$60 miliar terhadap Cursor, perusahaan rintisan yang mengembangkan teknologi pengodean berbasis AI. Akuisisi tersebut menjadi bagian dari ekspansi perusahaan ke bisnis kecerdasan buatan dan infrastruktur komputasi.
Berbeda dengan pertumbuhan pesat bisnis AI dan konektivitas, bisnis peluncuran roket SpaceX hanya mencatat kenaikan tipis. Pendapatan segmen antariksa tersebut meningkat menjadi US$1,77 miliar pada kuartal III-2026, dibandingkan dengan US$1,67 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi profitabilitas, hampir seluruh laba operasional SpaceX masih berasal dari bisnis Starlink. Laba operasional segmen konektivitas meningkat hampir dua kali lipat menjadi US$2,37 miliar, sedangkan bisnis AI berbalik mencatat laba operasional sebesar US$431 juta dan segmen antariksa membukukan rugi operasional US$7 juta.
Musk juga menyampaikan ambisi besar untuk meningkatkan pendapatan berulang tahunan atau annual recurring revenue (ARR) SpaceX hingga US$500 miliar sampai US$1 triliun pada akhir 2027. Target tersebut mencakup pendapatan dari infrastruktur, kontrak layanan cloud, serta pengguna berbayar model dan produk AI Grok.
Sebagai perbandingan, analis LSEG memperkirakan pendapatan SpaceX sepanjang 2027 mencapai sekitar US$110 miliar, atau meningkat lebih dari 100% dibandingkan proyeksi pendapatan tahun ini. Target ARR yang disampaikan Musk tersebut jauh lebih agresif dibandingkan estimasi pendapatan tahunan analis.
(ayh/ayh) [Gambas:Video CNBC]